Diposting Kamis, 12 Mei 2011 jam 2:40 pm oleh Evy Siscawati

Mengapa Kita Menyukai Pecundang?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 12 Mei 2011 -


 

Di Indonesia, sinetron religi seringpula menunjukkan protagonis dalam posisi yang lemah, hingga sampai sang guru silat mengajarkan prinsip “Selalu Menolong yang Lemah.” Perhatikan prinsip ini, bukan “Membela Kebenaran” tetapi “Membela yang Lemah.” Walau disinetron selalu ditunjukkan kalau yang lemah adalah yang benar, tetapi di dunia sehari-hari, seringkali yang lemah adalah yang salah (pencopet digebukin, rampok ditangkap polisi, dsb). Dan sains membuktikan kalau manusia cenderung menolong yang lemah ketimbang yang benar.

Tahun 1992, seorang profesor Universitas Indiana bernama Edward Hirt melakukan sebuah studi terkenal pada psikologi suporter olahraga. 160 mahasiswa diundang ke labnya dan dipertontonkan siaran permainan basket tim Hoosier. Setelah itu, mereka diminta melempar bola pada target, memecahkan anagram dan menilai kemungkinannya mendapat pacar.

Hirt menunjukkan kalau dengan memvariasikan hasil permainan basket, ia dapat mempengaruhi hasil studi. Nilai tes mahasiswa tidak ada hubungannya dengan kinerja tim Hoosier. Namun ketika mereka ditanya mengenai perasaan mereka mengenai tesnya, permainan basket yang telah ditontonnya mempengaruhi dengan sangat  kuat. Suporter tim Hoosier percaya diri dengan skill mereka ketika timnya menang – mereka berhasil melempar bola ke target, memecahkan anagram dan menyatakan dirinya bisa mendapatkan pacar. Ketika tim Hoosier kalah, kebalikannya yang terjadi: mahasiswa menjadi kehilangan percaya diri dan prestasinya menurun. Jelas ada asosiasi dengan suporter olahraga – kekalahan di lapangan terasa seperti kegagalan diri sendiri.

Para peneliti telah menemukan banyak dukungan atas apa yang terlihat seperti pemahaman yang jelas: Dalam olahraga, kita tertarik pada pemenang. Faktor lainnya – seperti dimana anda tinggal dan siapa teman anda – dapat mempengaruhi pilihan tim favorit anda.

Kondisi ini membawa kita pada situasi yang aneh. Tahun 1991, sepasang peneliti di Bowling Green State University, Jimmy Frazier dan Eldon Snyder, menerbitkan sebuah makalah tentang apa yang mereka sebut “konsep pecundang dalam olahraga.” Frazier dan Snyder mengajukan sebuah skenario hipotetis sederhana pada lebih dari 100 mahasiswa: Dua tim, A dan B, bertemu dalam sederetan pertandingan, jumlah pertandingan 7 dan tim yang paling banyak menang menjadi juara. Tim A adalah tim yang paling besar kemungkinannya untuk menang. Tim mana yang anda dukung?

81 persen mahasiswa mendukung tim B.

Lalu mahasiswa diminta membayangkan kalau tim B entah bagaimana berhasil memenangkan tiga permainan pertama. Mendadak separuh dari mereka yang awalnya mendukung tim B beralih menjadi mendukung tim A.

Bukti lain ditemukan dalam olahraga pacuan kuda. Sebuah studi mengumpulkan data statistik dari sekitar 6 juta pacuan kuda Amerika. Data menunjukkan penurunan tajam nilai kemenangan taruhan, saat kemungkinan menang taruhan tersebut meningkat. Dengan kata lain, penjudi bertaruh pada pecundang dan mengabaikan rasionya yang menyuruh bertaruh pada kuda yang sering menang. Itu bukan karena kita mendapatkan kesenangan khusus bertaruh dengan kemungkinan menang 1 banding 100, menurut para ilmuan. Itu karena kita cenderung mengabaikan kemungkinan jangka panjang.

Bias ini dapat dijelaskan oleh kecenderungan yang disebut ahli ekonomi perilaku sebagai “heuristik ketersediaan” : Kita membuat penilaian mengenai kemungkinan berdasarkan data apapun yang mudah diingat. Contoh yang anda ingat adalah yang mempengaruhi keyakinan anda. Bila anda baru saja menonton berjam-jam berita tentang serangan bom bunuh diri misalnya, anda akan berpikir kalau anda lebih mungkin mati karena serangan teroris ketimbang kecelakaan di jalan raya.

Seorang mahasiswa pasca sarjana, Nadav Goldschmied, sekarang profesor psikologi di Universitas San Diego, mengundang mahasiswa untuk membaca artikel koran mengenai pertandingan rugby yang akan datang. Menurut artikel tersebut, analis memberikan nilai kemungkinan menang salah satu tim hanya 30 persen. Ketika diminta membuat prediksi mereka sendiri, para mahasiswa membuat prediksi lebih optimistik. Mereka menebak sekitar 41 persen. Ketika kalimat berita ditambah frase “tim yang lemah (underdog)”, efeknya menjadi lebih kuat, para mahasiswa memberi nilai kemungkinan menang 44 persen.

Goldschmied mengulang eksperimen ini dua kali, mengganti tim rugby dengan kandidat walikota dan perusahaan yang bersaing merebut kontrak. Dalam tiap kasus, hasilnya sama saja: semata memberi label satu pihak sebagai sisi yang lemah, membuat mahasiswa berpikir kalau sisi ini lebih mungkin untuk menang.

Goldschmied dan Joseph Vandello, pembimbingnya dari Universitas Florida Selatan, tidak puas. Penelitian mereka telah menunjukkan kalau kecintaan kita pada mereka yang lemah lebih karena alasan emosional, bukannya rasional. Dalam satu studi selanjutnya, mereka menemukan dua pertiga pendukung kandidat pemilu presiden 2004 menyatakan kandidat pilihannya sebagai “pihak yang lemah.” Pada pemilu 2009, kandidat presiden menjadi lebih banyak dipilih ketika lawannya menyebutnya “pihak yang lemah.” Data terbaru dari laboratorium Vandello menunjukkan kalau dengan mengatakan seseorang sebagai “orang yang lemah” dalam sebuah kompetisi, akan membuat tindakan orang lemah tersebut terlihat lebih baik dan wajahnya tampak lebih menawan!

Dalam studi lain, Vandello menunjukkan subjek sebuah video klip permainan basket antara dua tim internasional dalam sebuah kejuaraan. Satu pihak memiliki kemungkinan menang 9:1, karena telah menang dalam 15 pertandingan sebelumnya. Setelah ditunjukkan pertandingan, mahasiswa diminta menilai para pemain berdasarkan kemampuan dan usahanya.

Dalam penuturannya, Vandello memberi label satu pihak sebagai pihak yang lemah, dicirikan dengan rendahnya bakat dan kecerdasan namun lebih halus dan baik. Ternyata subjek memberi nilai lebih dari seharusnya pada pemain dari tim yang dipandang lemah, tidak peduli kalau kata sifatnya dibalik, pemain mana yang terlihat melompat lebih tinggi atau lebih gesit menangkap bola.

Dalam sebuah studi oleh Nathan Pettit dan Robert Lount, sejumlah mahasiswa diberi tugas kognitif sederhana – kemampuan mereka menyebutkan penggunaan yang mungkin dari sebuah pisau. Beberapa mahasiswa diberi tahu kalau skor mereka akan dibandingkan dengan skor dari eksperimen yang sama yang telah dilakukan di universitas yang lebih terkenal, sementara sebagian lagi diberi tahu akan dibandingkan dengan universitas yang lebih buruk.

Subjek yang percaya kalau mereka dalam kompetisi yang lebih kuat ternyata berkinerja buruk dalam tesnya. Berperan sebagai pihak yang lemah menyedot motivasi mereka. Sebaliknya, subjek yang dikatakan akan dibandingkan dengan universitas yang lemah terlihat berusaha lebih besar.

Makalah lain, oleh ahli ekonomi Jennifer Brown, menggunakan ratusan turnamen golf PGA dan tiba pada kesimpulan yang sama. Ia memeriksa bagaimana kinerja pemain golf profesional saat mereka bermain melawan Tiger Woods. Dengan mengendalikan faktor arah, cuaca dan faktor lainnya, Brown menemukan kalau lawan Tiger memukul jauh lebih buruk, secara rata-rata, jika Tiger Woods ikut serta dalam turnamen. Brown menyebutnya efek superstar balik: saat menghadapi lawan yang superior, pemain pro mendapatkan insentif yang lebih rendah untuk berkompetisi.

Tidak peduli apakah pihak yang lemah memang berusaha lebih keras untuk menang, yang penting adalah bagaimana mereka dilihat. Dan atas alasan ini, kita cenderung memberi atribut positif pada tim atau pemain manapun yang mengalami situasi yang lebih sulit. Saat menonton sepak bola, kita mendukung tim yang kebobolan pertama kali, dan ini bukan hanya pada olahraga, tapi juga hubungan internasional, branding produk, dan pasangan. Satu tim peneliti bahkan menemukan efek ini pada para pelukis lansekap. Secara umum, Vandello menemukan kalau sekitar ¾ dari kita rentang pada pengaruh ini, tidak peduli gender, orientasi politik atau tipe kepribadian.

Keinginan untuk kesetaraan (atau aversi pada ketidaksetaraan) dapat menjelaskan keterikatan aneh manusia pada tim yang kalah. Ahli ekonomi menunjukkan kalau orang rela mengorbankan minatnya demi memperbaiki keseimbangan. Contoh yang terkenal adalah permainan Ultimatum di laboratorium. Dua pemain disediakan setumpuk uang, dan pemain 1 mengajukan cara membaginya – katakanlah 60:40. Pemain kedua memutuskan apakah ia menerima atau tidak. Jika ia tidak terima, maka tidak satupun yang mendapatkan uang. Secara rasio, seharusnya ini tidak ditolak, karena jika ditolak, tidak akan ada yang mendapatkan uang. Tapi dalam realitas, gagasan kalau pembagian tidak terasa adil membuat orang mengabaikan rasio. Sebagian besar subjek menolak dan hasilnya tidak ada yang mendapat uang sama sekali.

Vandello dan Goldschmied membuat sebuah eksperimen untuk menguji hipotesis ini. Mereka mengawali dengan menyajikan subjek dengan dua skenario pihak lemah klasik: Dua tim, A dan B, akan melakukan pertandingan penting, dimana Tim A kemungkinan menang 7:3. Lalu peneliti menambah rumit situasinya. Mahasiswa diberi tahu kalau para pemain tim A memiliki gaji yang lebih rendah dari tim B – tim A hanya 35 juta sementara tim B 100 juta. Tim mana yang akan dipilih mahasiswa – tim miskin yang mungkin menang? Atau tim kaya yang mungkin kalah?

Dua pertiga subjek mendukung tim A. Menurut tim peneliti, ini adalah bukti kalau aversi ketidaksetaraan mengendalikan efek pecundang, “melebihi dan diluar”minat emosional diri sendiri.

Vandello menduga kalau naluri keadilan merupakan sifat yang berevolusi dan tidak khas manusia. Ia mengutip studi dalam jurnal Nature tahun 2003, menunjukkan kalau monyet capuchin coklat menolak hadiah yang tidak adil untuk perilaku yang sama: ketika seekor monyet diberikan sepotong ketimun dan satunya lagi anggur yang lezat, monyet pertama menjadi tidak kooperatif. Tahun 2008, temuan-temuan sejenis dilaporkan pada subjek anjing. Walau begitu, tidak semua pihak setuju dengan hasil studi ketidaksetaraan pada hewan ini.

Dua kelompok peneliti melakukan survey di Asia, menemukan kalau orang di Singapura dan Korea Selatan memiliki kecenderungan pada pemilu presiden. Nadav Goldschmied memiliki data lintas budaya yang lebih spesifik tentang eksperimen artikel korannya. Jepang memilih pihak lemah 72 persen, China 57 persen, Amerika sekitar 67 persen. Efek yang paling lemah terjadi pada subjek bangsa Israel, yang hanya memilih 52 persen.

Kenapa bangsa Israel tidak mengalami efek pecundang? Salah satu penjelasan yang mungkin adalah sebuah ukuran sosiologis yang disebut jarak kekuatan, dimana bangsa Israel umumnya berada pada peringkat rendah di dunia (seperti diskriminasi di dunia Arab dan ideologi sejenisnya) sehingga mereka tidak terlalu peduli dengan ketidaksetaraan sosial pada bangsa lain

Scott Allison, seorang profesor dari Universitas Richmond mengembangkan teori efek Wal Mart. Kita tetap setia pada toko di samping rumah kita ketika sebuah supermarket besar dibangun di dekat rumah. Tapi ketika giliran membeli televisi baru, kita memilih harga yang lebih murah. Satu adalah perusahaan besar yang berdiri 30 tahun lalu, satunya lagi adalah perusahaan kecil yang baru berdiri. Perusahaan mana yang dipilih subjek?

Untuk menguji gagasan ini, laboratorium Allison menyajikan hipotesis tim lemah baru pada sekelompok orang dewasa. Kali ini sepasang perusahaan bersaing merebut kontrak pengujian air minum di pedalaman Boise, Idaho. Satu perusahaan adalah perusahaan besar yang berpengalaman 30 tahun sementara satu lagi perusahaan kecil yang baru mulai. Perusahaan mana yang dipilih subjek?

Seperti telah diduga, orang cenderung memilih perusahaan lemah. Namun para ilmuan mengubah pikirannya dengan mengubah dua variabel kunci. Bila subjek diberi tahu kalau air yang dibahas mengandung “air raksa penyebab kanker,” efek pecundang lenyap. Dan jika lokasi dipindahkan dari pendalaman yang jauh menjadi di sekitar rumah subjek, hasilnya justru berbalik. Sebagian besar subjek memilih perusahaan besar.

Jadi kesimpulannya, pengaruh efek pecundang tidaklah terlalu kuat. Menurut Allison, kita secara tidak sadar tahu kalau kita tidak harus terlalu memilih para pecundang.

Referensi

6 Tricks Movies Use to Make Sure You Root for the Right Guy | Cracked.com

Daniel Engber. The Underdog Effect: Why do we love a loser? Slate.com

Referensi lanjut

Arthur A. Raney, Jennings Bryant. Handbook of sports and media. Routledge, 2006

Clive D. L.Wynne. Sarah F. Brosnan, Frans B. M. de Waal Fair refusal by capuchin monkeys Nature.VOL 428, 11 MAR 2004

Erik Snowberg, Justin Wolfers. Explaining the Favorite–Long Shot Bias: Is it
Risk-Love or Misperceptions?
Journal of Political Economy, 2010, vol. 118, no. 4

Friederike Rangea, Lisa Horna, Zsófia Viranyi and Ludwig Hubera The absence of reward induces inequity aversion in dogs PNAS January 6, 2009 vol. 106 no. 1 340-345

Geert Hofstede Power Distance Index

Geert Hofstede Cultural Dimensions

Hirt et al. Cost and Benefit of Allegiance: changes in fans’ self-ascribed competencies after team victory versus defeat journal of personality and social psychology, 1992, vol. 63, no.5, 724-738

JAMES C. McKINLEY Jr SPORTS PSYCHOLOGY; It Isn’t Just a Game: Clues to Avid Rooting. The New York Times.

JongHan Kim, Scott T. Allison, Dafna Eylon, George R. Goethals, Michael J. Markus, Sheila M. Hindle1, Heather A. McGuire Rooting for (and Then Abandoning) the Underdog.Journal of Applied Social Psychology, Volume 38, Issue 10, pages 2550–2573, October 2008

Juliane Bräuer, Josep Call, Michael Tomasello Are apes inequity averse? New data on the token-exchange paradigm. American Journal of Primatology, Volume 71, Issue 2, pages 175–181, February 2009

Nadav Goldschmied; Joseph A. Vandello The Advantage of Disadvantage: Underdogs in the Political Arena. Basic and Applied Social Psychology, Volume 31, Issue 1, 2009, Pages 24 – 31

OSU. UNDERDOGS HAVE MORE MOTIVATION? NOT SO FAST, STUDY SAYS.

R. M. Griffith. Odds Adjustments by American Horse-Race Bettors The American Journal of Psychology, Vol. 62, No. 2 (Apr., 1949), pp. 290-294

Sarah F. Brosnan & Frans B. M. de Waal Monkeys reject unequal pay NATURE, VOL 425, 18 SEPTEMBER 2003

Vandello The Appeal of the Underdog Pers Soc Psychol Bull December 2007 33: 1603-1616.

Wikipedia “Availability Heuristic

Wikipedia. Inequity Aversion.

Wikipedia. “Ultimatum Game.”

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.