Diposting Kamis, 5 Mei 2011 jam 12:23 pm oleh Evy Siscawati

100 Terabit per detik: Rekor Baru Koneksi Internet

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 5 Mei 2011 -


Ini menandai “langkah kritis dalam kapasitas serat”, kata Ting Wang dari laboratorium NEC di Princeton, New Jersey.

Hasil laboratorium tersebut jauh dari kebutuhan komersial sekarang. Kapasitas total antara New York dan Washington DC, salah satu rute internet terpadat di dunia, hanya beberapa terabit per detik, kata Tim Strong, dari Telegeography Research di Washington. Namun “trafik telah naik sekitar 50 persen per tahun dalam beberapa  tahun terakhir,” tambahnya. Dengan media sosial dan video-streaming lapar bandwith, para perencana jaringan selalu mencari cara baru memperbesar kapasitas.

Saat ini serat optik menggunakan beberapa trik untuk meningkatkan bandwith. Seperti radio band, spektrum optik dapat diiris menjadi banyak saluran distrik yang dapat serentak membawa informasi dalam berbagai frekuensi. Cahaya laser disinyalkan on dan off dengan cepat, dengan tiap pulsa lebih lanjut dibelah lagi menjadi berbagai polaritas, amplitudo dan fase cahaya, dimana masing-masing mengandung satu bit informasi. Triknya adalah mengemas semua sinyal ini dalam satu serat sehingga mereka mencapai penerima dalam satu denyut tanpa interferensi.

Pada Konferensi Komunikasi Serat Optik bulan Maret 2011 lalu, Dayou Qian juga dari NEC, melaporkan laju pengiriman data total sebesar 101,7 terabit per detik lewat serat sepanjang 165 kilometer. Ia melakukannya dengan meremas sinyal cahaya dari 370 laser terpisah menjadi pulsa yang diterima oleh penerima. Tiap laser memancarkan spektrum inframerah sempitnya sendiri, dan masing-masing mengandung beberapa polaritas, fase dan amplitudo gelombang cahaya untuk menyandikan tiap paket informasi.

Di konferensi yang sama, Jun Sakaguchi dari Lembaga Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Jepang di Tokyo juga melaporkan pencapaian 100 terabit, kali ini menggunakan metode berbeda. Bukannya memakai  sebuah serat dengan hanya satu inti pengarah cahaya, seperti sekarang digunakan, mereka menggunakan serat dengan tujuh inti. Tiap inti membawa 15,6 terabit per detik, sehingga total menjadi 109 terabit per detik. “Kami memperkenalkan dimensi baru, penggandaan ruang untuk meningkatkan kapasitas transmisi,” kata Sakaguchi.

Serat multi inti sulit untuk dibuat, karena ia memperkuat denyut untuk transmisi jarak jauh dalam kedua teknik. Atas alasan ini, Wang menduga penerapan pertama transmisi 100 terabit akan berada dalam pusat-pusat data raksasa yang mentenagai Google, Facebook dan Amazon.

Sumber

Jeff Hecht. New Scientist, 23 April 2011, hal. 24

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.