Diposting Selasa, 3 Mei 2011 jam 1:32 pm oleh Evy Siscawati

Kecerdasan Kawin: Sisi Ilmiah di balik Pernikahan Kate dan William

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 3 Mei 2011 -


Pernikahan pangeran William dengan Kate Middleton telah dilangsungkan. Apa yang anda lihat? Itu tergantung pada jenis kelamin anda. Satu hal yang membingungkan mengenai hidup dalam spesies berkelamin dua adalah beberapa ritual sosial dapat memiliki makna berbeda tergantung apakah anda memandangnya dari sudut pandang otak laki-laki atau perempuan. Dan ritual yang paling mencolok perbedaannya adalah pernikahan dan reproduksi, dimana miliaran tahun pilihan seksual telah membentuk evolusi manusia. Di balik pernikahan, pakaian, bunga, dan makanan, terletak penekanan terhadap konflik sosial. Perkawinan pria dan wanita telah berevolusi untuk mencapai ujung-ujung yang berbeda, sehingga tidak lagi mengejutkan bagi kita untuk menafsirkan satu pernikahan dengan lebih dari satu cara, dan kadang sangat berbeda.

Otak laki-laki akan menyala oleh jabatan militer Will (letnan penerbang, kapten, komodor) dan sinyal kesuburan dan kesesuaian Kate (tulang pipi, kaki, gaya, humor) untuk menggambarkan skenario perkawinan purba – King Kong dan Ann Darrow, Genghis Khan dan banyak taklukkannya, kurang lebih seperti itu. Mungkin imajinasi kita lebih mengesankan lagi, seperti pangeran ksatria menaiki Ducati 170 tenaga kuda atau naga bersayap yang terbang di Laut Es Gelap menyelamatkan pelaut yang tenggelam. Otak maskulin akan melihatnya sebagai kemenangan besar Will dalam merebut sang putri yang sangat simetris.

Pengamat perempuan lebih mungkin melihat dari imajinasi erotis yang berbeda. Ketika Kate berpakaian indah dan disanjung dengan gelas kebesaran, perspektif feminin akan melihat hal ini sebagai kemenangan besar Kate. Kate mengalahkan ambisi banyak wanita yang menjadi saingannya.

Pertimbangkan, ketika Kate berusia 5 tahun, ibunya berdagang barang-barang bertemakan romantika kerajaan pada anak-anak. Kate remaja melihat temannya di Marlborough College memasang poster Pangeran William di dinding mereka. Di Universitas St Andrews, Kate bertatapan mata dengan Will lebih awal dalam kelas sejarah seni dan dalam pakaian yang sesuai. Sadar kalau banyak wanita di St Andrews, sebagian lebih terang, sebagian lebih cantik, Kate memilih strategi standar primata betina: menghabiskan waktu bersama, menciptakan kenyamanan, berbagi humor, memancarkan oksitosin. Mereka menjadi pasangan, lalu pecinta, lalu muncul bersama secara publik. Sebuah kemenangan kecil.

Tapi waktu berlalu dan Kate khawatir dengan kemungkinan poligininya (Kate selingkuh) atau penaklukan abadi dari Genghis Khannya (Will mengejar karir). Kate memilih untuk memprovokasi kecemburuan seksual Will dengan pergi klubbing dan membangun perkumpulan pendukung (Sisterhood). Strateginya berhasil, dan Will melamarnya. Kemenangan besar diraih lewat ritual pernikahan. Kate menerima hadiah biologis puncaknya: kesempatkan mewariskan gennya kepada raja atau ratu masa depan.

Pencapaian Kate patut diapresiasi. Media sudah lama menampilkan berbagai model peran wanita – kecerdasan emosional (Oprah), kecerdasan politik (Hillary), kecerdasan akting (Meryl), bahkan kecerdasan kuliner (Nigella). Namun pencapaian seperti yang dilakukan Kate telah terpinggirkan sejak 1970an, ketika feminisme mempertanyakan keabsahan wanita yang mengejar atau mencoba memecahkan masalah dalam menguasai pasangan jangka panjang. Ini adalah kecerdasan kawin, sebuah kecerdasan yang telah ditunjukkan wanita sepanjang sejarah, di seluruh budaya, dan bahkan dalam banyak spesies – memperoleh jantan dengan kesesuaian terbaik untuk berkomitmen – namun dinilai sebagai hal yang ketinggalan jaman. Mungkin pernikahan kerajaan sekarang dapat mengingatkan kita bahwa kecerdasan kawin merupakan kecerdasan yang mengagumkan dan kuat dalam kognisi manusia.

Kecerdasan kawin Kate ditunjukkan dengan banyak hal. Ia dipilih bukan sebagai seseorang berdarah biru, namun karena gennya yang baik. Ia atletis, berbakat dalam netball, rounders, hoki, renang dan dayung. Ia cantik dan lebih cantik dari putri Diana. Ia cerdas dalam standar normal karena memiliki gelar dari universitas tingkat internasional. Gelarnya bahkan dalam bidang seni, sebuah bidang psikologi persepsi terapan, membuatnya mempelajari cita rasa keindahan manusia dan sejarahnya. Pengetahuan seni adalah komponen kunci kecerdasan kawin, diasah lewat seleksi alam yang membuat manusia cenderung tertarik dengan pasangan yang kreatif.

Pangeran Will bukan hanya berstatus maksimal dan kekayaan besar; ia memiliki gen yang baik untuk menguntungkan pernikahan mereka. Ia tinggi, posturnya bagus dan tampan. Ia juga memiliki banyak kualitas yang paling diinginkan wanita. Ia empatis – ia pernah tidur di jalanan London dalam suhu dibawah nol derajat Celsius untuk merasakan sakitnya menjadi gelandangan. Ia juga baik – ia ikut mendanai sejumlah yayasan termasuk yayasan AIDS, hewan, pengungsi dan pengurangan senjata. Ia juga sehari-hari menampilkan altruisme heroik. Dan ia juga orang kedua dalam antrian menuju tahta. Apa lagi yang diinginkan wanita?

Kebetulan menarik dalam ritual Kate-Will :

  1. Kecantikan Kate Middleton pertama kali menarik perhatian pangeran William di Universitas St Andrews, universitas dimana terdapat laboratorium pengkajian kecantikan wajah berbasis evolusi terdepan di dunia
  2. Mereka saat itu duduk di kelas sejarah seni di ruangan yang gelap dengan dinding yang dilukis oleh lukisan gua Paleolitikum dengan cahaya obor.
  3. Kate dan Will mengalahkan saingan seksual mereka di universitas dimana Andrew Whiten dan Richard Byrne mengembangkan gagasan kalau kecerdasan Machiavellian kera besar dan manusia berevolusi terutama lewat kompetisi seksual dan sosial.
  4. Will melamar Kate saat liburan di Suaka Margasatwa Lowa, Kenya, di dekat pusat geografis evolusi manusia. Ia bahkan mengatakan kalau “Afrika adalah rumah kedua saya.”
  5. Pernikahan mereka diatur oleh Rowan Willams, alias Archbishop of Centerbury, seorang teologiwan yang pro evolusi dan menentang pengajaran kreasionisme di kelas.
  6. Mereka menikah di Westminster Abbey, hanya beberapa kilometer dari laboratorium eugenika tua Francis Galton di Universitas College London dan beberapa meter saja dari makam Charles Darwin.

Sumber :

New Scientist. 23 April 2011, hal 36-39

Referensi lanjut :

Geoffrey Miller. 2001. The Mating Mind. Vintage.

Geoffrey Miller. 2010. The Hidden Instinct behind Everything we Buy. Vintage.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.