Diposting Selasa, 3 Mei 2011 jam 1:27 pm oleh Evy Siscawati

Bahasa Inggris membuat penggunanya lebih mungkin menyalahkan orang lain

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 3 Mei 2011 -


Bagaimana anda akan menjawabnya? Apakah anda akan mengatakan , “gara-gara si Agus tuh.” Itu benar, namun  dia tidak sengaja merusaknya. Atau anda cukup bilang “ranjangnya roboh.”

Jawabannya tergantung bahasa apa yang anda gunakan. Bahasa bukan hanya menentukan bagaimana anda mengerangkanya, namun siapa yang anda salahkan atas kejadian tersebut. Seorang penutur bahasa Inggris lebih mungkin mengatakan kalau si Agus yang bertanggung jawab – walaupun ia gak melompat ke ranjang, tapi hanya duduk di pinggirnya. Seorang penutur bahasa Jepang atau Spanyol hanya akan mengatakan “ranjangnya roboh.”

Para ilmuan Stanford melakukan eksperiemn mengenai hal ini. Mereka mengumpulkan relawan yang menuturkan bahasa-bahasa berbeda lalu menyuruh mereka menonton beberapa video. Dalam video-video ini ditunjukkan orang memecahkan telur atau balon, kadang disengaja kadang tidak sengaja. Subjek tidak tahu mengapa mereka harus menonton video itu.

Para ilmuan kemudian menanyakan para subjek mengenai orang-orang dalam video tersebut. Dalam video dimana orang sengaja memecahkan telur, semua subjek, tidak peduli bahasanya apa, sama baiknya dalam mengingat detail pelaku. Lagi pula, dia yang memecahkan telurnya. Videonya tentang dia, sang pemecah telur.

Namun, ketika ditanyakan tentang orang yang tidak sengaja memecahkan sesuatu, subjek penutur Jepang dan Spanyol tidak mampu mengingatnya. Karena itu sebuah kecelakaan, maka pelaku bukan hal penting. Telurnya pecah. Itu saja.

Namun para penutur bahasa Inggris dapat mengingat pelakunya dengan jelas. Bagi penutur bahasa Inggris, sifat peristiwa yang tidak sengaja dan disengaja bukanlah hal penting. Seseorang harus disalahkan.

Menurut anda ini ada hubungannya dengan budaya saja, bukan bahasa. Bisa jadi orang lebih objektif di Jepang. Jadi para ilmuan melakukan eksperimen lain, kali ini hanya dengan penutur bahasa Inggris. Mereka meminta mereka menonton kejadian tersingkapnya payudara Janet Jackson dalam acara Super Bowl beberapa tahun lalu.

Kelompok ini kemudian diberi laporan mengenai kecelakaan tersebut dan menyuruh mereka memberikan hukuman denda. Separuh kelompok diberi laporan berbeda dari kelompok lainnya. Perbedaannya sangat kecil : hanya dalam kata-kata di akhir laporan. Dalam laporan untuk kelompok A, kata-katanya : “kostumnya tersobek,” sementara di laporan untuk kelompok B: “kostumnya disobek.” Kelompok B memberikan denda 50 persen lebih tinggi daripada kelompok lain. Padahal mereka menonton video yang sama. Hanya merubah frase mengubah cara mereka memikirkan tentangnya.

Sains baru saja mencoba mengerti bagaimana bahasa mengubah budaya. Ambil contoh, bagaimana kita mengatributkan bencana alam pada manusia. Bahkan bencana gempa harus ada penyebab manusianya, dosa manusialah, cobaan untuk manusia lah, berkorelasi dengan menurunnya moralitas manusia lah. Kenapa tidak bilang itu semata gejala alamiah saja? Sepertinya karena bahasa.

Sumber

Cracked Science. Speaking English Makes Us More Likely to Blame People.

Referensi
Fausey, C.M., & Boroditsky, L. (2008, August). “Oops! Describing and remembering accidental agents in English, Spanish and Japanese.” Paper presented at the International Conference on Language, Communication and Cognition, Brighton, UK.
Fausey, C.M., & Boroditsky, L. (2008, August). “Speaking of accidents: Saying “He did it” invites more punishment than “It happened”. “Paper presented at the International Conference on Language, Communication and Cognition, Brighton, UK.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.