Aktivitas surya meningkat: bintik matahari akhirnya kembali
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Minggu, 1 Mei 2011 - Bila anda pernah berdiri di depan kompor panas, melihat sepanci air dan menunggu tidak sabar agar ia mendidih, anda tahu apa rasanya menjadi fisikawan surya.
Kembali ke tahun 2008, siklus surya jatuh kedalam minimum terdalamnya selama hampir satu abad. Bintik matahari semuanya lenyap, kobaran surya menjadi tenang dan matahari menjadi sunyi.
“Sejak itu, kami menunggu aktivitas surya meningkat,” kata Richard Fisher, kepala divisi heliofisika di Markas NASA Washington DC. “Sudah tiga tahun lamanya.”
Senyapnya matahari bukanlah hal baru. Mereka terjadi tiap 11 tahun atau lebih – ia bagian alamiah dari siklus surya. Minimum surya sekarang, walaubegitu, berlangsung lebih lama dari biasanya, membuat sebagian peneliti bertanya-tanya kapan ia berakhir.
Dan ternyata pancinya mulai mendidih. “Akhirnya,” kata Fisher, “kami mulai melihat beberapa kegiatan.”
Ketika tahun 2011 bergulir, bintik matahari telah kembali dan mulai ramai dengan aktivitas. Tanggal 15 februari dan kembali tanggal 9 maret, satelit-satelit yang mengorbit Bumi mendeteksi sepasang kobaran surya kelas X – kobaran sinar-x paling kuat. Erupsi terakhir terjadi bulan Desember 2006.
Erupsi lain tanggal 7 maret melontarkan awan plasma seberat satu miliar ton dari matahari dengan kecepatan 2200 km per detik. Awan yang menyebar cepat ini tidak ditujukan langsung ke Bumi, namun ia memang memberikan tamparan sebentar pada medan magnet planet kita. Tumbukan samping tanggal 10 maret cukup untuk membuat Cahaya Utara tumpah dari perbatasan Kanada ke negara-negara bagian Amerika Serikat seperti Wisconsin, Minnesota, dan Michigan.
“Itu adalah pelontaran massa korona tercepat dalam enam tahun,” kata Angelos Vourlidas dari laboratorium penelitian angkatan laut di Washington DC. “Hal ini mengingatkan saya pada deretan peristiwa yang sama bulan november 1997 yang memicu siklus surya 23, siklus surya sebelum sekarang.”
“Bagi saya,” kata Vourlidas, “hal ini menandai dimulainya siklus surya 24.”
Penumpukan perlahan saat ini lebih dari sekedar “melihat panci gagal mendidih,” kata Ron Turner, seorang analis cuaca antariksa di Analytic Services, Inc. “Ia selalu lamban dalam sejarah.”
Telah ada 24 siklus surya sejak para peneliti mulai melacaknya di pertengahan abad ke-18. Dalam sebuah artikel yang diterima untuk dipublikasikan oleh Space Weather Journal, Turner menunjukkan kalau, sepanjang waktu, hanya empat siklus yang berawal lebih lambat dari sekarang. “Tiga diantaranya adalah Dalton Minimum, sebuah periode rendahnya aktivitas surya di awal abad ke-19. Yang keempat adalah Cycle #1 itu sendiri, sekitar 1755, yang juga siklus surya yang relatif rendah,” katanya.
Dalam studinya, Turner menggunakan bintik matahari sebagai metrik kunci aktivitas matahari. Pengamatan pada bintik matahari sekarang tidak mengubah kesimpulannya: “Siklus Surya 24 awalnya memang lambat,” kata beliau.
Lebih baik daripada tidak sama sekali.
Perhatikan video beritanya di YouTube:
http://www.youtube.com/watch?v=iBl_FOONrB0
Sumber berita:
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
