Diposting Kamis, 28 April 2011 jam 8:31 pm oleh Evy Siscawati

Perdebatan sengit para Arkeolog tentang Lukisan gua Chauvet

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 28 April 2011 -


Namun penentuan tanggal gambar-gambar yang indah tersebut menimbulkan perdebatan sengit di antara para arkeolog. Dapatkah tulang dari beruang gua menyelesaikan perdebatan ini?
Dalam setahun setelah penemuan Chauvet, penandaan radiokarbon menunjukkan gambar tersebut berusia antara 30 ribu hingga 32 ribu tahun, membuatnya dua kali lebih tua dari seni gua Lascaux di Perancis barat daya. Hasilnya “mempolarisasi dunia arkeologi,” kata Andrew Lawson, seorang arkeolog berbasis di Salisbury, Inggris.
Lawson menerima penemuan radiokarbon. “Tidak ada tempat lain di Eropa dimana kami bisa menemukan seni indah setua ini,” katanya. Namun Paul Pettitt dari Universitas Sheffield, Inggris, percaya kalau lukisan itu tidak mungkin setua itu. Studi berbasis radiokarbon tidak dapat dipandang sebagai bukti, klaimnya, memaksakan kalau gaya lukisan yang maju menunjukkan kalau itu lukisan baru. “Itu sama saja mengatakan kalau kita menemukan lukisan abad Renaissans di sebuah vila Romawi kuno,” katanya.

Walaupun studi radiokarbon lanjutan yang komprehensif tahun 2001 menunjukkan kalau usia lukisan itu memang 30 ribu tahun, Pettitt dan koleganya tetap tidak yakin. Dua tahun kemudian mereka berpendapat kalau dinding guanya masih aktif secara kimia, sehingga penandaan radioaktif dapat disalahkan dengan perubahan seribu tahun pada pigmen yang digunakan untuk menciptakan lukisan.
Untuk mendamaikan kontroversi ini, Jean-Marc Elalouf dari Insititut Biologi dan Teknologi di Saclay, Perancis, dan timnya melihat pada sisa-sisa beruang gua. Bersama dengan mamoth dan mamalia besar lainnya, beruang gua (Ursus spelaueus) mendominasi lansekap Eropa hingga akhir zaman es.
Gua Chauvet mengandung beberapa gambar beruang gua, dan Elalouf berpendapat kalau ia pasti dilukis ketika beruang tersebut masih ada di daerah itu. Untuk menemukan kapan beruang lenyap, timnya mengumpulkan 38 sampel sisa-sisa beruang gua yang ada di gua Chauvet dan menganalisa DNA mitokondrianya.
Mereka menemukan kalau hampir semua sampel sama secara genetik, menunjukkan kalau populasi beruang gua itu kecil, terisolasi dan karenanya rentan. Penandaan radiokarbon menunjukkan kalau sampelnya berusia antara 37 ribu hingga 29 ribu tahun, menunjukkan kalau pada akhirnya mereka punah, setidaknya secara lokal. Sampel dari gua didekatnya, Deux-Ouvertures, memberikan hasil yang sama pula.
Dengan usia sisa-sisa beruang gua, “jelas kalau lukisan tersebut sangat purba”, kata Elalouf. Michael Knapp dari Universitas Otago di Dunedin, Selandia Baru, yang juga mempelajari beruang gua, mengatakan kalau ia tidak meragukan hasil analisa DNA.
Walau kita tidak tahu pastinya kapan beruang gua punah, semua penandaan yang handal menunjukkan sisa-sisa yang terakhir di Eropa setidaknya berusia 24 ribu tahun, kata Martina Pacher dari Komisi Penelitian Kuaterner di Wina, Austria. “Jadi hasil di Chauvet tidak mengejutkan, dan saya setuju dengan kesimpulan mereka,” katanya.
“Kami sekarang memiliki jalur bukti independen kalau beruang [di Chauvet] berasal dari sebelum 29 ribu tahun lalu,” kata Lawson. “Itu mendukung argumen usia tua.”
Pettitt tetap saja tidak yakin dengan menyebut penelitian terbaru ini “licik.” Ia mengatakan kalau tim itu menyimpulkan persebaran beruang regional berdasarkan waktu mengandalkan bukti hanya dari dua buah gua.
Pettitt juga mempertanyakan apakah lukisan itu memang menunjukkan beruang gua: beruang coklat hidup di daerah itu setelah beruang gua punah. Namun Elalouf mengatakan kedua spesies itu hanya dapat dibedakan berdasarkan bentuk tengkorak, tapi mengatakan juga kalau lukisan itu memang menunjukkan beruang gua.
Sumber
Marshall, M. “Bear DNA Could give away Cave Art’s Age.” New Scientist, 23 April 2011, hal. 10.
Referensi lanjut
H. Valladas , J. Clottes , J.-M. Geneste , M. A. Garcia , M. Arnold , H. Cachier & N. Tisnérat-Laborde. Palaeolithic paintings: Evolution of prehistoric cave art. Nature 413, 479 (4 October 2001) doi: 10.1038/35097160
Paul Pettitt and Paul Bahn. Current Problems in Dating Paleolithic Cave Art: Candamo and Chauvet. Antiquity, vol 77, p134
Céline Bona, Véronique Berthonauda, Philippe Fosseb, Bernard Gélyc, Frédéric Maksudd, Renaud Vitalise, Michel Philippef, Johannes van der Plichtg, h and Jean-Marc Elaloufa. “Low Regional Diversity Of Late Cave Bears Mitochondrial Dna At The Time Of Chauvet Aurignacian Paintings” Journal of Archaeological Science

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.