Diposting Kamis, 28 April 2011 jam 8:10 pm oleh Evy Siscawati

Penurunan Amfibi Katastrofik Global Punya Banyak Sebab dan Tidak ada Solusi Sederhana

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 28 April 2011 -


 

Pencarian faktor penyebab tunggal sering kehilangan gambaran yang lebih besar, kata mereka, dan pendekatan untuk menghadapi krisis ini dapat gagal bila mereka tidak mempertimbangkan totalitas penyebab – atau bahkan dapat membuatnya lebih buruk.

Tidak ada satu isu dapat menjelaskan semua penurunan populasi yang terjadi dalam laju mengerikan dan jauh lebih cepat pada amfibi ketimbang sebagian besar hewan lain, demikian kesimpulan dalam sebuah studi yang baru saja diterbitkan dalam jurnal Annals of the New York Academy of Sciences.

Penurunan amfibi terkait dengan gaya alam seperti kompetisi, predasi, reproduksi dan penyakit, serta stress akibat manusia seperti perusakan habitat, pencemaran lingkungan, spesies pendatang dan perubahan iklim, kata peneliti.

“Perubahan laju luar biasa telah terjadi dalam 100 tahun terakhir, dan amfibi tidak cukup cepat berevolusi untuk mampu mengatasinya,” kata Andrew Blaustein, profesor zoologi Oregon State University dan pemimpin internasional dalam studi penurunan amfibi.

“Kami sekarang menyadari kalau itu bukan hanya satu hal, itu banyak hal,” kata Balustein.

“Dengan kulit permeabel dan paparan pada masalah akuatis dan darat, amfibi menghadapi bahaya ganda,” katanya. “Karenanya, mamalia, ikan dan burung tidak mengalami pengaruh populasi separah amfibi – atau setidaknya, belum.”

Totalitas perubahan ini membawa para peneliti percaya kalau Bumi sekarang dalam episode kepunahan besar sama dengan lima peristiwa kepunahan massal dalam sejarah planet ini. Dan amfibi adalah yang terdepan – seorang peneliti menunjukkan kalau mereka lenyap lebih dari 200 kali daripada laju kepunahan rata-rata.

Usaha memahami peristiwa ini, khususnya dalam studi amfibi, sering berfokus pada satu penyebab seperti penyakit jamur, spesies pendatang, peningkatan radiasi ultraviolet karena penipisan ozon, polusi, pemanasan global dsb. Semua faktor ini berperan dalam penurunan amfibi, namun besarnya krisis hanya bisa dipahami dari perspektif banyak sebab yang saling tindih. Dan usaha yang hanya mencoba menghadapi satu penyebab beresiko gagal atau bahkan menjadi masalah baru, kata para peneliti.

“Karena ada banyak stressor bertindak serentak pada amfibi, kami menyarankan penjelasan faktor tunggal untuk penurunan populasi sangat kecil kemungkinannya,” tulis para peneliti dalam laporan mereka. “Studi yang berfokus pada penyebab tunggal dapat melewatkan saling hubung kompleks antara banyak faktor termasuk pengaruh tidak langsung.”

Salah satu contohnya adalah jamur B. dendrobatidis, yang telah diduga menjadi penyebab banyak keruntuhan populasi katak di dunia. Walau begitu, dalam beberapa populasi jamur ini tidak menyebabkan masalah selama bertahun-tahun hingga ambang batas mematikan tercapai, seperti ditunjukkan berbagai penelitian.

Dan sementara jamur mengganggu keseimbangan elektrolit, patogen lain dapat berpengaruh berbeda seperti trematoda parasit yang dapat menyebabkan malformasi kaki parah dan nematoda yang dapat merusak ginjal. Kombinasi dan keparahan patogen ini dalam satu inang semua berperan dalam pengurangan populasi katak.

Studi-studi sebelumnya di OSU telah menemukan pengaruh selaras dari radiasi ultraviolet, yang dapat menyakiti amfibi, dan lendir air patogenik yang dapat menginfeksi janin amfibi. Dan mereka terkait dengan keseluruhan proses pada kedalaman air di lokasi bertelur, yang pada gilirannya dipengaruhi presipitasi musim dingin di Oregon Cascade Range yang terkait dengan perubahan iklim.

Masalah yang dihadapi amfibi adalah penting, kata ilmuan, karena mereka telah menjadi salah satu yang selamat di Bumi – berevolusi selama 400 juta tahun sejak sebelum dinosaurus, bertahan melewati zaman es, tumbukan asteroid dan banyak perubahan iklim dan ekologi lain.

Kelenyapannya yang cepat sekarang menunjukkan kalau keragaman dan laju perubahan melebihi dari apa yang pernah mereka hadapi sebelumnya, kata para peneliti.

“Tekanan seleksi modern, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas manusia, dapat terlalu buruk dan muncul terlalu cepat untuk dapat diatasi oleh evolusi adaptasi amfibi,” kesimpulan para peneliti.

Penelitian ini didukung oleh Yayasan Sains Nasional dan Yayasan David and Lucile Packard. Kolaborator lainnya studi ini ada dari University of Colorado, University of Georgia, University of Pittsburgh, dan Pepperdine University.

Sumber berita:

Oregon State University.

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.