Diposting Minggu, 24 April 2011 jam 6:49 pm oleh Evy Siscawati

Kecerdasan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 24 April 2011 -


 

Apa yang dinilai cerdas beraneka ragam tergantung kebudayaan. Sebagai contoh, ketika diminta untuk mengelompokkan sekumpulan pisau yang bercampur dengan buah, suku Kpelle mengambil pendekatan fungsional. Seorang partisipan Kpelle menyatakan “pisau dikumpulkan dengan buah karena pisau berguna untuk memotongnya.” Ketika ditanya bagaimana orang yang bodoh akan mengelompokkannya, mereka mengatakan orang bodoh adalah yang mengumpulkan pisau dengan pisau dan buah dengan buah (pendekatan linguistik) yang justru kita anggap cerdas.

Pengukuran Kecerdasan

Untuk mengukur kecerdasan, ilmuan menggunakan istilah IQ. Tes IQ dapat dinilai kekuatannya berdasarkan seberapa kuat mereka bertopang pada faktor g. Faktor g adalah faktor kecerdasan umum yang dimiliki semua manusia tanpa melihat kebudayaan, pendidikan dsb. Walau begitu, faktor g sangat sulit diketahui. Karenanya ilmuan menggunakan pendekatan komparatif. Tes dengan beban g tinggi adalah yang paling berkorelasi dengan tes lainnya. Salah satu studi komprehensif yang menyelidiki korelasi antara sejumlah besar tes IQ menemukan kalau matriks progresif Raven memiliki korelasi sangat tinggi dengan tes lainnya.

Matriks Raven adalah penalaran induktif dengan bahan visual abstrak. Ia terdiri dari matriks 3×3 berisi desain abstrak dengan satu sel kosong; matriks disusun sesuai sebuah aturan, dan orang harus menemukan aturannya untuk menentukan mana dari 8 pilihan yang paling cocok untuk mengisi sel yang kosong.

Karena tingginya korelasinya dengan tes lainnya, Matriks Progresif Raven secara umum dipandang sebagai indikator terbaik kecerdasan umum. Hal ini sedikit bermasalah karena ada perbedaan gender yang nyata dalam tes Raven, yang tidak ditemukan ketika g diukur langsung dengan menghitung faktor umum dari sejumlah besar tes.

g sendiri pada awalnya dibagi menjadi hanya Gf dan Gc yang diduga berkaitan dengan subtes Kinerja atau Nonverbal dan subtes Verbal di versi awal tes IQ Wechsler yang populer di masyarakat. Penelitian lebih lanjut menunjukkan kalau situasinya lebih rumit.

Beberapa kritikus, seperti Stephen Jay Gould, mengkritik g, melihatnya semata sebagai artifak statistik dan kalau tes IQ semata mengukur sejumlah kemampuan yang tidak berhubungan. Asosiasi Psikologi Amerika menyatakan dalam laporan Intelligence: Knowns and Unknowns kalau tes IQ memang berkorelasi dan kalau pandangan bahwa g semata artifak statistik adalah pandangan minoritas.

Sejumlah faktor diketahui berkorelasi dengan IQ namun karena korelasi tidak berarti sebab-akibat, hubungan sejati antara faktor-faktor ini masih belum jelas kecuali ada bentuk bukti lainnya. Terdapat pula perbedaan kelompok dalam hal IQ.

Teori Kecerdasan lain

Usaha mengatasi masalah g yang  tidak kunjung ditemukan secara mutlak mendorong Robert Sternberg mengajukan teori triarkis yang mendefinisi ulang kecerdasan, dari sekedar “pemahaman.” Robert Sternberg kemudian memperbaiki nya dan menjadi teori kecerdasan yang sukses. Kecerdasan menurut Sternberg adalah penilaian kesuksesan hidup individual berdasarkan standar dirinya sendiri (idiografis) dan dalam konteks sosial-budayanya sendiri. Kesuksesan dicapai lewat penggunaan kombinasi kecerdasan analitis, kreatif dan praktis. Ketiga aspek kecerdasan ini disebut keahlian pengolahan. Keahlian pengolahan diterapkan untuk mencapai kesuksesan lewat tiga elemen kecerdasan praktis: beradaptasi, membentuk dan memilih lingkungan. Mekanisme yang melibatkan keahlian mengolah untuk mencapai kesuksesan mencakup menggunakan kekuatan diri sendiri dan mengkompensasi atau memperbaiki kelemahannya.

Teori lain yang diajukan adalah teori perkembangan kognitif neo Piaget yang memperluas teori Piaget dalam berbagai cara sehingga juga mempertimbangkan faktor mirip psikometrik seperti kecepatan pengolahan dan ingatan kerja, faktor hiperkognitif seperti pengawasan diri, tahapan-tahapan dan pertimbangan dalam variasi kemajuan dalam berbagai domain seperti spasial atau sosial.

Teori Piaget dikritik karena usia penampilan model baru dunia, seperti permanensi objek yang tergantung pada bagaimana pengujian dilakukan. Lebih umumnya, teori ini dapat sangat sulit diuji secara empiris karena kesulitan membuktikan atau tidak membuktikan kalau sebuah model mental adalah penjelasan dari hasil pengujian.

Usaha lain untuk menghadapi teori lama tidak dianggap ilmiah seperti teori kecerdasan ganda Gardner atau kecerdasan spiritual emosional (ESQ) karena tidak memenuhi syarat teori ilmiah yang menuntut kalau sebuah teori harus memiliki kemampuan disangkal (falsifikasi) dan variabelnya dapat diukur secara jelas dan objektif. Teori kecerdasan emosi sangat diperdebatkan apakah memang sebuah kecerdasan atau hanya kepribadian.

Peran Neurologi dan Teknologi

Perkembangan pesat di bidang neurologi tidak membantu dalam definisi kecerdasan atau pengukurannya, namun lebih kepada neuroetika. Neuroetika adalah implikasi etis, hukum dan sosial dari neurosains dan berhadapan dengan isu seperti perbedaan antara memperbaiki penyakit neurologis manusia dan meningkatkan kemampuan otak, dan bagaimana kekayaan mempengaruhi akses pada neuroteknologi. Isu neuroetik berinteraksi dengan etika rekayasa genetika manusia.

Teori-teori transhumanis mempelajari kemungkinan dan konsekuensi pengembangan dan penggunaan teknik untuk meningkatkan bakat dan kemampuan manusia dan apa yang dipandang sebagai aspek yang tidak diinginkan dan tidak perlu bagi kondisi manusia.

Kecerdasan buatan (AI) adalah kecerdasan mesin dan cabang ilmu komputer yang bertujuan menciptakannya, lewat studi dan desain agen cerdas atau agen rasional, dimana agen cerdas merupakan sistem yang mempersepsi lingkungannya dan melakukan tindakan untuk memaksimalkan kemungkinannya untuk sukses. Pencapaian kecerdasan buatan mencakup masalah yang dikendalai dan terdefinisi baik seperti games, teka-teki silang dan pengenalan karakter optik. Kecerdasan umum atau kecerdasan buatan kuat belum tercapai dan masih merupakan tujuan jangka panjang penelitian AI.

Di antara sifat-sifat yang diinginkan peneliti agar dapat dicapai mesin adalah penalaran, pengetahuan, perencanaan, belajar, komunikasi, persepsi dan kemampuan menggerakkan dan memanipulasi benda. Dalam bidang kecerdasan buatan tidak ada konsensus mengenai seberapa dekat otak harus disimulasikan.

Sumber

Wikipedia. Intelligence

Referensi lanjut

1.      Canny, John; Russell, Stuart J.; Norvig, Peter. Artificial intelligence: A modern approach. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall, 2003.

2.      Demetriou, A. “Cognitive development.” dalam A. Demetriou, W. Doise, K.F.M. van Lieshout (Eds.), Life-span developmental psychology, 1998 (pp. 179-269). London: Wiley.

3.      Demetriou, A., Mouyi, A., & Spanoudis, G. The development of mental processing, 2010.

4.      Goebel, Randy; Poole, David L.; Mackworth, Alan K. Computational intelligence: A logical approach. Oxford : Oxford University Press, 1997

5.      Gould, S.J. The Mismeasure of Man, Norton, 1996.

6.      Halpern, D. F.; LaMay, M. L. “The smarter sex: A critical review of sex differences in intelligence”. Educational Psychology Review, 2000, 12: 229-246.

7.      Kaufman, A.S. IQ Testing 101, Springer Publishing, 2009

8.      Kitchener, Richard F. “Piaget’s epistemic subject and science education: Epistemological vs. Psychological issues”. Science and Education 1993, 2 (2): 137–148

9.      Lynn, R.; Irving, P. “Sex differences on the progressive matrices: A meta-analysis.”. Intelligence, 2004, 32: 481-498.

10.  Marshalek, B.; Lohman, D. F. Snow, R. E. “The complexity continuum in the radex and hierarchical models of intelligence”. Intelligence 1983, 7: 107-127.

11.  Martinich, A. A Hobbes Dictionary, Blackwell, 1995.

12.  Nesselroade, J.R. “Methods in the study of life-span human development: Issues and answers.” dalam W.F. Overton et al (Ed.) Handbook of life-span development, Vol. 1, 2011 (pp. 36-35), Hoboken, NJ: Wiley.

13.  Nidditch, P. “Foreward”, An Essay Concerning Human Understanding, Oxford University Press.

14.  Resnick, L. The Nature of Intelligence. Hillsdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 1976.

15.  Schlinger, H.D. “The Myth of Intelligence”. The Psychological Record, 2003, 53 (1): 15–33.

16.  Sternberg, R.J. “The theory of successful intelligence”. Review of General Psychology, 1978, 3: 292–316.

17.  Sternberg, R.J. “A broad view of intelligence: The theory of successful intelligence”. Consulting Psychology Journal: Practice & Research, 2003, 55: 139–154.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.