Diposting Minggu, 24 April 2011 jam 6:45 pm oleh Evy Siscawati

Kecerdasan Ganda

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 24 April 2011 -


 

Menurut Howard Garner, IQ semata mengukur sisi spasial, logika dan Linguistik. Akibatnya IQ tidaklah cukup. Kenalkan kecerdasan ganda. Klaim kecerdasan ganda adalah bahwa manusia memiliki sejumlah dimensi “kecerdasan” : Spasial, Logika, Interpersonal, Musical, Eksistensial, Nature, Body, Intrapersonal, dan Linguistik (SLIMEN BIL). Pertama diajukan tahun 1983 dalam bukunya “Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences.” Ada sejumlah keberatan yang menunjukkan kalau kecerdasan ganda sebenarnya tidak ilmiah.

1. Kembali ke Awal

Masalahnya IQ mencoba mengukur nilai g, sesuatu yang ada di diri manusia, terbebas dari budaya, pengalaman hidupnya, rasnya, gender dsb. Itu mengapa IQ menjadi sesuatu yang terus berkembang dan hingga sekarang masih belum menemukan tujuannya. Eksplorasi kedalam IQ terus dilakukan seperti bidang keilmuan lain yang mempelajari hakikat pikiran manusia. Menggunakan kecerdasan ganda (MI) pada dasarnya menyetel ulang dan kembali ke awal eksplorasi psikologis. Ujung-ujungnya ilmuan harus kembali lagi mencari nilai g yang dikaburkan oleh kecerdasan ganda tersebut. Ambil misal kecerdasan musik, apakah ia bias budaya? Ya. Tidak semua orang punya bakat musik. Kecerdasan nature (alam)? Ya. Karena alam sendiri adalah lingkungan. Kecerdasan interpersonal dan intrapersonal? Itu sebenarnya turunan dari kecerdasan linguistik yang sudah ada dalam IQ. Kecerdasan body (tubuh)? Kembali bicara tentang badan, bukannya pikiran, sehingga tidak relevan sebagai makna kecerdasan. Pada akhirnya kita tiba pada keberatan kedua.

2. Kecerdasan Ganda sebenarnya Bakat Ganda

Bakat dan kecerdasan berbeda. Bakat tidak dimiliki setiap orang, kecerdasan dimiliki setiap orang karena berbasis pada kemampuan otak. Memang pada ujung-ujungnya baik kecerdasan dan bakat memiliki basis genetik, namun bakat sangat besar ketergantungannya dengan lingkungan.

3. Tidak ada bukti neurologis

Walaupun digunakan banyak sistem pendidikan formal dan informal, tidak ada bukti neurologis atas keberadaan kecerdasan ganda.

4. Tidak ada bukti efektivitas belajar kecerdasan ganda

Begitu pula, tidak ada bukti kalau sistem pengajaran yang menerapkan kecerdasan ganda lebih efektif daripada kecerdasan biasa. Sebuah studi yang komprehensif datang dari Lynn Waterhouse pada sebuah makalah dalam jurnal Educational Psychologist (2006: 41(4), 247–255) berjudul, “Multiple Intelligences, the Mozart Effect, and Emotional Intelligence: A Critical Review.” Lusinan ilmuan telah menerbitkan makalahnya untuk menunjukkan ketiadaan bukti teoritis ini, walaupun hampir tiga dekade penerapan teorinya untuk praktek pendidikan, sebagaimana diungkapkan Waterhouse. Menurut Waterhouse, tidak ada studi yang diterbikan sekarang yang menawarkan bukti validitas kecerdasan ganda. Tahun 1994, Sternberg melaporkan tidak adanya bukti ini. Tahun 2000, Allix juga mengatakan tidak ada studi yang membenarkannya secara empiris.Tahun 2004 Sternberg dan Girgerenko mengatakan kalau tidak ada bukti sah kecerdasan ganda, dst. Dr. Patrick Groff dari National Right to Read Foundation misalnya mengkritik mengenai kecerdasan spasial dan musical dalam esainya: http://www.nrrf.org/003_auditory_vs_visual.html

5. Tidak dapat dinilai

Gardner sendiri menolak mendefinisikan apa yang ia maksud kecerdasan itu sendiri diluar usaha memperluas pemahaman kecerdasan lebih dari sekedar skor IQ. Ia juga mengatakan kalau tidak ada cara menguji siapa yang punya apa; ia menyebut usaha untuk mengklasifikasikan ini sebagai “penilaian artistik.” Dengan demikian, mustahil mengetahui berapa nilai SQ, LQ, IQ, MQ dst dari semua komponen kecerdasan ganda. Usaha yang ada malah terjerumus dalam pseudosains lebih mendalam seperti wacana mengetahui bakat anak lewat sidik jari yang digembar-gemborkan di masyarakat seolah-olah ia ilmiah.

6. Tautologis

Perry D Klein mengatakan bahwa teori dan definisi dalam kecerdasan ganda tidak jelas karena tautologis (selalu benar) dan karenanya tidak dapat salah (teori ilmiah memberikan ruang untuk kesalahan sehingga dapat diperiksa benar atau tidaknya teori tersebut). Memiliki kemampuan musik yang tinggi berarti bagus dalam musik namun disaat yang sama bagus dalam musik disebabkan oleh kemampuan musik yang tinggi. Jadi mana sebab dan mana akibatnya? Tidak jelas.

7. Tidak lebih baik dari IQ

Menurut Linda S Gottfredson, hasil dari ribuan penelitian menunjukkan pentingnya IQ untuk sekolah dan kinerja dalam pekerjaan. IQ juga meramalkan atau berkorelasi dengan sejumlah hasil kehidupan lainnya. Sebaliknya, dukungan untuk kecerdasan non-g, seperti kecerdasan ganda, tidak ada atau sangat sedikit. Ia berpendapat kalau masyarakat senang dengan kecerdasan ganda karena menyatakan kalau setiap orang bisa cerdas lewat cara tertentu.

Kesimpulan

Kecerdasan ganda hanyalah jargon non ilmiah. Ia tidak pantas dipandang fakta ilmiah ataupun dikampanyekan oleh orang yang berpikir ilmiah.

Referensi

  1. Gardner, Howard. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences New York: Basic Books, 1983.

2.      Gottfredson, L. S. “Social consequences of group differences in cognitive ability” dalam C. E. Flores-Mendoza & R. Colom (Eds.), Introducau a psicologia das diferencas individuais (pp. 433-456). Porto Allegre, Brazil: ArtMed Publishers, 2006

3.      Groff, P.  http://www.nrrf.org/003_auditory_vs_visual.html National Right to Read Foundation

  1. Klein, Perry D. “A Response to Howard Gardner: Falsifiability, Empirical Evidence, and Pedagogical Usefulness in Educational Psychologies”. Canadian Journal of Education 1998, 23 (1): 103–112.
  2. Willingham, Daniel T. “Check the Facts: Reframing the Mind,” Education Next, 2004
  3. Waterhouse, Lynn. “Multiple Intelligences, the Mozart Effect, and Emotional Intelligence: A critical review.” Educational Psychologist, 41(4), Fall 2006, pp. 207–225.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.