Diposting Jumat, 22 April 2011 jam 2:06 pm oleh Evy Siscawati

Ilmuan menemukan bagaimana meramalkan belajar menggunakan analisa otak

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 22 April 2011 -


 

Sebuah studi yang diterbitkan minggu ini dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) merinci hasil temuan ini.

Para peneliti mengumpulkan data citra otak dari orang-orang yang melakukan tugas motorik lalu menganalisa data ini menggunakan teknik komputasi baru. Mereka menemukan bukti kalau fleksibilitas otak seseorang dapat digunakan untuk meramalkan seberapa mampu orang tersebut belajar. Para peneliti memandang fleksibilitas yaitu bagaimana berbagai daerah otak berhubungan dalam kombinasi-kombinasi berbeda.

“Apa yang kami ingin lakukan adalah menemukan cara memprediksi seberapa banyak seseorang akan belajar di masa depan, independen dari bagaimana mereka selaku pembelajar,” kata Scott T. Grafton, penulis senior dan profesor psikologi di UCSB. Grafton juga direktur Pusat Pencitraan Otak UCSB.

Gambar-gambar ini mengkorelasikan aktivasi fMRI dengan bagaimana urutan jari dikelompokkan menjadi kluster terintegrasi. Hal ini membawa pada produksi gerakan rendah ongkos yang cair. (Credit: UCSB)

Tim ini melakukan eksperimen tiga sesi dimana 18 relawan harus menekan sederetan tombol, sama dengan deretan not piano, secepat mungkin. Mereka lalu membagi citra MRI fungsional dari tiap otak relawan menjadi 112 daerah berbeda dan menganalisa bagaimana daerah-daerah ini saling terhubung saat mereka melakukan pekerjaan.

“Studi kami memiliki implikasi jelas secara klinis,” kata Grafton. “Bila anda seorang pasien terapi fisik, apakah anda harus melakukannya besok? Atau hari ini lebih baik? Kami tidak tahu itu, namun itu mungkin penerapan potensial – merancang intervensi untuk kapasitas berubah. Dalam orang yang sehat, informasi ini dapat mempercepat belajar – kapan anda harus belajar, kapan anda harus latihan, kapan anda harus mencoba skill baru.”

Studi baru ini menggunakan metode komputasi yang dikembangkan untuk menganalisa apa yang disebut ilmuan sebagai jaringan multilapisan, dimana tiap lapisan mewakili sebuah jaringan pada satu kilatan waktu, atau beberapa set hubungan diantara set daerah otak yang sama. Lapisan-lapisan ini digabungkan menjadi objek matematis yang lebih besar, yang dapat mengandung jumlah data yang besar dan sulit di analisa. Metode sebelumnya hanya mampu menghadapi tiap lapisan secara terpisah.

“Bagian-bagian otak berkomunikasi satu sama lain sangat kuat, sehingga mereka membentuk semacam modul daerah saling komunikasi di otak,” kata penulis pertama  Danielle S. Bassett, teman pascadoktoral fisika di UCSB. “Dengan cara ini, aktivitas otak dapat mensegregasi menjadi modul fungsional ganda. Apa yang ingin kami ukur adalah seberapa cair modul tersebut.”

Bassett menjelaskan kalau ada daerah otak fleksibel dengan kecenderungan berubah seiring waktu. “Fleksibilitas tersebut merupakan faktor untuk meramalkan belajar,” kata Bassett. “Jadi, bila anda sangat fleksibel, maka anda bisa belajar sangat baik esok hari, namun buruk di hari ini.”

Pendidikan Basset sangat lintas disiplin, dengan studi di bidang fisika, matematika, psikologi dan neurosains. Ia menerima gelar doktor dalam fisika di Universitas Cambridge dimana ia mendapatkan pengawas dari beberapa disiplin ilmu termasuk psikiatri. Studinya sekarang dilakukan dalam Jurusan Fisika dan Jurusan Psikologi UCSB.

Para penulis studi PNAS, selain Bassett dan Grafton, adalah Nicholas F. Wymbs, UCSB; Mason A. Porter, Universitas Oxford; Peter J. Mucha, Universitas Carolina Utara dan Jean M. Carlson, UCSB.

Sumber berita:

University of California – Santa Barbara.

Referensi ilmiah:

D. S. Bassett, N. F. Wymbs, M. A. Porter, P. J. Mucha, J. M. Carlson, S. T. Grafton. Dynamic reconfiguration of human brain networks during learning. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2011; DOI: 10.1073/pnas.1018985108

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.