Diposting Jumat, 22 April 2011 jam 1:59 pm oleh Evy Siscawati

Filsafat Sains : Konsep Individu dan Kesesuaian

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 22 April 2011 -


 

Jika ada yang harus diperbaiki dari teori evolusi, maka itu adalah konsep individu dan kesesuaian (fitness). Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai kedua konsep tersebut, perannya dalam teori evolusi, apa kelemahannya dan bagaimana memperbaikinya.

Organisasi Kehidupan

Seperti kita telah ketahui dalam pelajaran biologi dari SMP, satuan hidup terkecil adalah bakteri. Virus memang lebih kecil, namun ia pada dasarnya berada dalam kondisi transisi antara tak hidup dan hidup. Ia tidak dapat mati, bagi virus yang ada ialah aktif dan tidak aktif. Ia dapat tidak aktif selama jutaan tahun, dan kemudian kembali aktif. Tapi, ia memiliki ciri hidup, yaitu berkembang biak. Ia berkembang biak dengan menggunakan tubuh inangnya dan karenanya, bersifat parasit. Mahluk yang dapat mati sekaligus berkembang biak dan tentunya terkecil, adalah bakteri.

Bakteri dapat dikatakan sebagai sel, ia bahkan disebut mahluk bersel tunggal. Tapi sel bakteri berbeda sekali dengan sel kita. Sel bakteri lebih kecil dan sederhana. Sel kita, eukariota, sebenarnya merupakan hasil dari organisasi bakteri, yaitu satu arkhaebakteri dan satu eubakteri di masa lalu. Hasil simbiosis ini adalah sel modern, yang dalam buku paket disebut sebagai organisasi hidup terkecil.

Sel-sel kemudian saling bersimbiosis membentu satuan organisasi yang lebih besar, yaitu jaringan. Jaringan rambut, jaringan darah merah, jaringan otot, jaringan tulang, semua adalah kumpulan sel yang kurang lebih sejenis. Jaringan-jaringan kemudian berorganisasi menjadi organ. Dari organ, tersusun organisasi yang lebih besar lagi, sistem organ, seperti sistem pencernaan, sistem pernapasan dan lainnya. Dan terakhir organisasi sistem organ disebut organisme.

Skema : bakteri > sel > jaringan > organ > sistem organ > organisme adalah struktur pembagian yang dibangun biologi. Di sisi lain, terdapat struktur organisasi lain yang dibangun oleh ekologi. Dalam ekologi, satuan terkecil disebut individu. Para individu berorganisasi menjadi populasi. Populasi berorganisasi menjadi komunitas. Komunitas berorganisasi membentuk ekosistem. Ekosistem berorganisasi membentuk bioma, dan bioma pada gilirannya berorganisasi membentuk biosfer.

Salah satu struktur organisasi sains berdasar skala

Sistem organisasi ini dapat diteruskan dengan memuat struktur kosmologis atau diperkecil dari bakteri dengan memuat struktur kuantum. Kontinuitas struktur organisasi alamiah ini dapat digambarkan pada skema di bawah. Sedikit banyak, struktur ini adalah hasil rekayasa manusia untuk menyederhanakan alam semesta. Dengan penyederhanaan ini, kita dapat mempelajari tiap bagian dengan baik. Ada filsuf yang berpikir bahwa setelah alam semesta, organisasi menjadi berulang, seperti pola fraktal. Alam semesta kita pada gilirannya adalah sub atomik di alam semesta berskala lebih besar. Ada pula filsuf yang berpikir bahwa setelah alam semesta, siklus terus menaik dan membesar dengan konsep-konsep yang lebih raksasa lagi. Fisika teoritis tampak lebih mendukung konsep perluasan, bukannya siklus. Sementara sains empiris lebih terbatas pada apa yang ada di grafik tersebut. Tanpa bukti, cukup ini yang harus kita percayai. Bahasan kita terlebih lagi, kita hanya akan membahas sistem biologis dan sistem ekologi. Tepatnya, di wilayah individu.

 

Organisme dan individu adalah sama. Istilahnya hanya berbeda karena berasal dari dua disiplin ilmu berbeda. Seorang manusia misalnya, ia dikatakan organisme bagi sistem biologi, sementara bagi sistem ekologi, ia dikatakan sebagai individu. Ahli biologi mungkin mengatakan kalau organisme dan individu tidak sama, dengan mengatakan kalau organisme bisa mencakup banyak sekali individu atau bahkan banyak sekali spesies. Itu tidak masalah, karena apa yang akan kita bahas disini adalah konsep individu itu sendiri, bukan organisme.

Kesesuaian

Konsep kesesuaian merujuk pada kemampuan individu bertahan hidup di alam. Jika ia mampu bertahan hidup hingga menghasilkan keturunan, maka ia dikatakan sesuai. Evaluator kesesuaian adalah alam, dan proses evaluasi ini disebut seleksi alam. Alam menyeleksi siapa yang mati dan siapa yang hidup, siapa yang berkembang biak siapa yang tidak mampu. Sebagai contoh, sapi yang terlahir pincang karena gen, ia tidak mampu berjalan untuk mencari makan, para sapi betina juga tidak tertarik karena ia sepertinya tidak mampu bereproduksi. Sang sapi akhirnya mati sebelum mempunyai keturunan. Ia dikatakan tidak sesuai di alam dan tersingkirkan oleh seleksi alam.

Teori Evolusi

Teori evolusi dapat dipandang menggabungkan antara struktur biologi dan struktur ekologi. Dengan teori evolusi, asal usul mahluk hidup dapat dirunut dan telah terbukti kalau semua mahluk hidup di Bumi berasal dari satu leluhur. Dalam teori evolusi, hanya organisme yang sesuai yang dapat bertahan hidup (survival of the fittest). Dapat bertahan hidup disini dimaknai sebagai mampu meneruskan keturunan yang mewarisi sebagian besar sifat dari induknya. Dipadukan dengan variasi yang ada pada tiap individu maka terciptalah evolusi. Dua individu memang dapat mutlak sama secara biologi, tapi secara ekologi mereka tidak dapat. Lingkungan mempengaruhi hidup mereka. Dan bahkan seandainya anda ada dua, satu orang akan mati lebih dulu karena seleksi alam, misalnya jatuh ke jurang, sehingga tersisa satu individu.

Dua individu yang tidak sama, satu mungkin lebih berbulu daripada yang lain, memiliki derajat kesintasan (survival) yang berbeda. Mungkin jumlah bulu itu membuat individu A lebih sintas daripada individu B. Perbedaan kecil yang mempengaruhi kesintasan ini mewakili variasi dalam individu, dan lewat seleksi alam, individu yang memiliki kesintasan tinggi lebih mampu bertahan hidup dst. Ambil contoh nyata adalah evolusi bakteri. Di masa lalu, antibiotik mampu menghabisi 99,9% bakteri. Sisa 0.1% bakteri ini adalah bakteri-bakteri yang lebih kuat dalam variasi kecilnya. Karena 99.9% individu lemah telah punah, maka bakteri yang lebih sesuai ini mampu berkembang biak tanpa tercampur dengan yang lemah. Beberapa puluh tahun kemudian, dunia dipenuhi bakteri yang lebih kuat, keturunan dari sisa 0.1% tadi. Manusia harus menemukan antibiotik baru untuk menghadapi mereka. Demikian seterusnya, hingga kita memiliki antibiotik yang mampu menghabisi 100% bakteri penyakit tanpa sisa, atau sebaliknya bakteri penyakit yang menghabisi 100% manusia.

Kelemahan konsep kesesuaian

Kelemahan konsep kesesuaian terletak pada tujuan dari kesesuaian itu sendiri, yaitu berkembang biak. Ingat kalau organisme dikatakan sesuai bila ia dapat bertahan hidup minimal saat ia berhasil memiliki keturunan. Hal ini baik-baik saja hingga kita bertemu dengan organisme yang ternyata tidak pernah memiliki keturunan.

Quaking Aspen adalah contoh organisme demikian. Pada awalnya ilmuan menduga hutan aspen adalah kumpulan dari ribuan individu, ribuan pohon Aspen membentang di sana sini. Tapi, pengkajian lebih jauh menunjukkan bahwa mereka sebenarnya terhubung di bawah tanah. Setiap pohon sebenarnya perpanjangan akar dari pohon yang ada di dekatnya. Terus demikian sehingga pohon tertua berada di pusat hutan. Tidak ada keturunan, yang ada adalah perluasan akar. Akar mencuat keluar dari tanah dan menjadi pohon baru.  Pohon baru ini pun kemudian menciptakan akar yang kemudian di masa depan, kembali mencuat dari tanah, membentuk pohon baru, demikian seterusnya.

Diduga pohon Aspen telah ada paling tidak sejuta tahun lalu. Pohon pertama, yang tertua, telah mati. Tapi matinya sang induk tidak membuat yang lain mati. Dengan kondisi seperti ini, pohon Aspen tidak pernah punya keturunan. Bijinya tidak pernah tumbuh karena begitu bijinya jatuh ke tanah, ia dikonsumsi sebagai makanan oleh akar sang ibu sendiri. Lalu bagaimana bisa kita mengatakan bahwa prinsip bertahan hidup hingga menghasilkan keturunan berlaku pada pohon aspen?

Gill dan Halverson (1984) berfokus pada percabangan pohon. Menurut mereka tiap cabang pohon memiliki kesesuaian individual. Menurut mereka ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar kasusnya ada : ada variasi fenotipe yang nyata antara cabang, kesintasan atau reproduksi bagian modular (dalam hal ini cabang pohon) terjadi dan sifat yang memiliki kesesuaian ini harus diwariskan.

Kelemahan konsep individu

Kembali pada kasus pohon Aspen. Apakah hutan Aspen harus dipandang sebagai satu individu saja, atau ribuan individu? Jika ia dikatakan satu individu, bagaimana dengan konsep kesesuaian? Ia tidak pernah berkembang biak. Ia hanya terus mengembangkan akarnya kesana kemari. Kalau ia dikatakan ribuan individu, lalu kenapa secara struktur mereka terhubungkan? Bagaimana kesesuaian tiap individu bila tiap individu pada dasarnya dipengaruhi dengan kuat (berbagi nutrisi dan bahkan memangsa keturunan seksualnya)?

Kasus lain terkait konsep individu adalah serangga sosial. Serangga sosial begitu terspesialisasi sehingga batasan konsep individu semut, lebah, tawon atau rayap lenyap. Ada semut tentara, semut petani, semut ratu, tapi semuanya dalam satu spesies. Semut tentara tidak dapat hidup tanpa semut petani, karena tubuhnya termodifikasi hanya untuk bertarung, bukan untuk bertani. Begitu juga semut yang lainnya. Mereka lebih mirip organ dari sebuah individu, daripada kumpulan individu. Belum lagi para simbionnya seperti jamur yang ditanam oleh semut dan rayap untuk makanan seluruh isi sarang. Apakah koloni mereka satu individu atau banyak individu?

Jika satu individu saja, kenapa mereka terpisah-pisah dalam ruang? Jika banyak individu, kenapa sebagian dari mereka tidak berkembang biak?

Tentu kelemahan-kelemahan ini bukanlah bukti kalau teori evolusi salah, karena baik individu maupun kesesuaian hanyalah konsep yang dibuat manusia, bukan sebuah mekanisme di alam. Adanya masalah dalam konsep individu dan kesesuaian menuntut perbaikan dalam definisi konsep atau pemberian definisi baru dalam teori evolusi ekologi.

Perbaikan konsep

Jackson et al (1985) mengeluh kalau sebagian besar karya teoritik mengenai biologi evolusi mengambil contoh yang terlalu mudah seperti organisme seksual dengan batasan yang jelas. Mereka menghindari mengambil contoh rumit seperti evolusi organisme klon. Organisme klon jarang diteliti karena mereka dipandang sangat rumit padahal mereka cukup banyak, rumput, tanaman duri, spons, koral dan sebagainya.

Bagi evolusi ekologi, konsep kesesuaian harus diperluas. Ia tidak boleh dibatasi pada kemampuan berkembang biak semata. Ia harus diperlebar pada kemampuan mengatasi faktor-faktor lingkungan. Dalam kasus aspen, walau ia tidak berkembang biak, ia mampu mengatasi faktor lingkungan yang ada sehingga membesar selama ratusan ribu tahun tanpa butuh berkembang biak. Dengan hanya memanjangkan akarnya, ia berhasil hidup panjang dan kematiannya, walau berarti kematian seluruh spesies, sangat sulit terjadi. Tidak mungkin mencerabut seluruh akar aspen tanpa bimbang kalau mungkin masih ada sedikit potongan akar yang tersisa di kedalaman tanah.

Begitu juga serangga sosial, kesesuaiannya ditunjukkan dengan kemampuan menggunakan simbion atau sarang untuk menopang hidupnya. Cukup satu, sang ratu, yang berkembang biak, sementara ribuan lainnya melaksanakan tugasnya yang menyerupai organ dari satu organisme raksasa. Frederick Bouchard menyarankan definisi kesesuaian sebagai berikut :

A dikatakan lebih sesuai dari B dalam E jika sifat A berhasil memecahkan masalah desain yang diberikan oleh E lebih penuh daripada sifat B.

Konsep individu dapat tetap dipertahankan bila konsep kesesuaian yang diperluas ini diterima. Kita cukup mengatakan kalau Aspen memang satu individu dan serangga sosial sebagai ribuan individu. Atau kita bisa mengenalkan konsep baru yang diajukan para peneliti dan filsuf sains, seperti ramet yang berarti individu yang menyerupai organ.

Usulan untuk memperbaiki konsep kesesuaian ini telah lama diajukan oleh para ahli ekologi, bahkan sebelum ditemukannya fakta dari Aspen. Setidaknya Tansley di tahun 1935 telah mengajukan revisi ini, tapi mengapa tidak ada yang mendengarkan kecuali para filsuf sains?

 

Referensi

Bouchard, Frederic (2006), “Fitness”, in J. Pfeifer and S. Sarkar (eds.), The Philosophy of

Science: An Encyclopedia. London: Routledge, 310–315.

Gill, Douglas E., dan  Timothy G. Halverson (1984), “Fitness Variation among Branches

within Trees”, in B. Shorrocks (ed.), Evolutionary Ecology: The 23rd Symposium of the British Ecological Society, Leeds, 1982. Oxford: Blackwell, 105–116.

Jackson, Jeremy B. C., Leo W. Buss, and Robert E. Cook, eds. (1985), Population Biology and Evolution of Clonal Organisms. New Haven, CT: Yale University Press.

Tansley, A. G. (1935), “The Use and Abuse of Vegetational Concepts and Terms”, Ecology 16 (3): 284–307.

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.