Diposting Rabu, 20 April 2011 jam 7:38 pm oleh Evy Siscawati

Serangga Sosial

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 20 April 2011 -


 

Serangga sosial seperti semut, tawon, lebah dan rayap dapat menunjukkan apa yang ia sebut homeostasis sosial, yaitu perawatan kondisi tetap pada level masyarakat baik dengan pengendalian iklim mikro sarang atau dengan pengaturan kepadatan populasi, perilaku dan fisiologi kelompok secara keseluruhan.

J. Scott Turner pada tahun 2000 menulis tentang koloni dan bagaimana mereka melaksanakan homeostasis sosial yang sangat kompleks. Turner membuat nomenklatur: “Saya akan menggunakan istilah koloni untuk menjelaskan penyusunan organisme individual yang menyusun sebuah satuan keluarga. Sebagai contoh, sebuah koloni rayap merupakan keturunan dari satu ratu, dan begitu juga simbion yang berasosiasi dengannya. Sarang adalah struktur dimana koloni ditempatkan … Di antara rayap, sarang sering berasosiasi dengan strukturnya, seperti gundukan yang merupakan struktur paling spektakuler.

Koloni (sebagai contoh dalam kasus Macrotermes michaelseni) mengkonsumsi oksigen dan menghasilkan karbon dioksida. Ia juga membangun hubungan simbiosis dengan jamur yang mereka tanam di dalam gundukan. Mengkonsumsi jamur tersebut membantu pencernaan selulosanya, sementara rayap sendiri tidak mampu mencernanya sendiri (lebih lagi, diyakini kalau jamur juga membantu mengendalikan atmosfer di dalam gundukan).

Agar koloni dapat tumbuh, ia perlu mengevakuasi sejumlah karbon dioksida dan membiarkan oksigen masuk dari luar. Menurut Turner, sebuah koloni rayap menciptakan gundukan secara khusus untuk mengendalikan CO2 yang ada dalam koloni. Konveksi yang dihasilkan oleh selisih tekanan di gundukan rayap menyedot keluar CO2 dan menyedot masuk oksigen. Koloni ini bisa dibilang menciptakan paru-parunya sendiri. Yang ditunjukkan oleh Turner adalah bahwa organisme  (atau kumpulan organisme) tertentu  memperluas proses fisiologisnya keluar dari batasan jasad normal. Mereka membangun organ eksternal yang memungkinkan mereka berinteraksi dan bertahan hidup dalam lingkungannya.

Jika, seperti diargumenkan Turner, sebagian struktur fisik (misalnya gundukan) harus dipahami sebagai sebuah organ yang dibuat oleh organisme, maka kita harus memasukkan bahan dan struktur non biologis dalam definisi kita mengenai individu yang berevolusi. Bila sebuah individu yang berevolusi dapat sebagiannya non biologis, maka mungkin kalau evolusinya tidak sepenuhnya bertopang pada keberhasilan reproduksi diferensial, karena struktur eksternal adaptif yang dijelaskan Turner tidak dapat diturunkan secara genetik atau lebih umum lagi, dalam pandangan kesuksesan reproduksi diferensial.

Homeostasis ini memungkinkan sistem dalam kasus koloni untuk meningkatkan kapasitasnya bertahan hidup. Dalam kasus superorganisme seperti koloni, tidak ada perubahan intergenerasi untuk dibahas (atau setidaknya tidak ada perubahan intergenerasi pada level koloni). Jadi pertanyaan kesuksesan reproduktif tidak perlu lagi. Homeostasis akan sering dipertahankan dengan pengendalian populasi yang kuat atau proses lain.

Dalam kasus quaking aspen, Bouchard menyarankan kalau ada variasi dalam fenotipe bagian-bagian rumpun, aspek penting fenotipe komponen rumpun adalah lokasi spasialnya. Lokasi spasial komponen individu kemudian diturunkan secara non genetik (epigenetik) ke ramet masa depan dengan fakta kalau ramet masa depan tumbuh dari ramet yang telah ada dan karenanya hanya dapat tumbuh dalam kedekatan ramet sebelumnya.

Dalam kasus koloni rayap, fenotipe superorganisme adalah bagian dari bentuk sarang rayap, dan bagian jamur yang ia tanam sebagai simbion. Namun fenotipe ini tidak diwariskan pada rayap individual dan gen mereka, dan karenanya kesuksesan reproduktif diferensial tidak cukup menjelaskan kebugarannya.

Untuk memahami evolusi beberapa organisme klon, organisme koloni dan masyarakat simbiotis, kebugaran dalam hal jumlah keturunan tidak cukup menjelaskan. Kesuksesan sistem ini adalah keberlangsungan hidupnya secara keseluruhan, bukan dalam reproduksi sebagian anggotanya. Memikirkan evolusi dalam hal keberlangsungan bukannya reproduksi memungkinkan kita mempelajari kasus-kasus evolusi yang kompleks.

 

Sumber :

 

Bouchard, F. Causal Processes, Fitness and the Differential Persistence of Lineages. Philosophy of Science, 75 (December 2008) pp. 560–570.

Referensi lanjut

Turner, J. Scott (2000), The Extended Organism: The Physiology of Animal-Built Structures. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Wilson, Edward O. (1971), The Insect Societies. Cambridge, MA: Belknap.

Wilson, Edward O. (1974), “The Perfect Societies”, Science 184 (4132): 54–55.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.