Diposting Selasa, 19 April 2011 jam 9:13 pm oleh Evy Siscawati

Minyak Sawit

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 19 April 2011 -


 

Minyak sawit adalah lemak nabati yang sangat jenuh. Minyak sawit setengah padat pada suhu ruangan. Minyak sawit mengandung beberapa lemak jenuh dan tidak jenuh dalam bentuk gliseril laurat (0.1%, jenuh), myristat (1%, jenuh), palmitat (44%, jenuh), stearat (0.1%, jenuh), oleat (39%, monojenuh), linoleat (10%, polijenuh) dan linolenat (0.3%, polijenuh). Minyak biji sawit lebih jenuh lagi daripada minyak sawit. Seperti semua minyak sayur, minyak sawit tidak mengandung kolesterol (yang ada pada lemak hewan yang belum dimurnikan), walaupun asupan lemak jenuhnya meningkatkan baik kolesterol LDL maupun HDL.

Minyak sawit adalah pengisi masakan umum di daerah tropis seperti Afrika, Asia Tenggara dan Brazil. Ia meningkat penggunaannya dalam industri makanan komersial di bagian lain dunia karena harganya yang murah dan stabilitas oksidatif (kejenuhan) yang tinggi dari produk murni saat digunakan untuk menggoreng.

Sejarah Sawit

Minyak sawit telah lama dikenal di Afrika Barat, dan digunakan luas sebagai minyak untuk memasak. Para pedagang Eropa yang berdagang dengan Afrika Barat membeli minyak sawit untuk digunakan di Eropa, namun karena minyak ini bermutu lebih rendah dari minyak zaitun, minyak sawit tetap langka di luar Afrika Barat. Di Konfederasi Asante, para budak negara membangun perkebunan pohon kelapa sawit besar sementara kerajaan Dahomey yang diperintah Raja Ghezo mengeluarkan hukum yang melarang penebangan kelapa sawit tahun 1856.

Minyak sawit menjadi komoditas sangat dicari oleh padagang Inggris untuk digunakan sebagai pelumas industri permesinan ketika revolusi industri. Minyak sawit kemudian menjadi dasar pembuat produk sabun, seperti Lever Brothers (sekarang Unilever), Sunlight Soap dan merk dagang Palmolive dari Amerika. Pada tahun 1870, minyak sawit menjadi ekspor utama beberapa negara Afrika Barat seperti Ghana dan Nigeria, walaupun kemudian diambil alih oleh cokelat tahun 1880an.

Sekarang di Indonesia

Tahun 2009, Indonesia menjadi produsen terbesar minyak sawit di dunia, melewati Malaysia tahun 2006, dengan memproduksi lebih dari 20.9 juta ton. Indonesia bertekad menjadi produsen utama minyak sawit dunia. Data FAO menunjukkan produksinya meningkat lebih dari 400% antara tahun 1994-2004 hingga mencapai 8.66 juta metrik ton.

Selain melayani pasar tradisional, Indonesia mencoba mengembangkan usaha memproduksi biodiesel. Perusahaan lokal dan global membangun penggilingan dan penyulingan, termasuk PT. Astra Agro Lestari terbuka (penyulingan biodiesel 150,000 tpa), PT. Bakrie Group (membangun satu pabrik biodiesel dan tanaman baru), Surya Dumai Group (penyulingan biodiesel). Cargill (kadang beroperasi lewat CTP Holdings dari Singapura, membangun penyulingan-penyulingan dan penggilingan baru di Indonesia dan Malaysia, memperluas penyulingan Rotterdamnya untuk mengatasi 300 ribu tpa minyak sawit, menggunakan tanaman di Sumatera, Kalimantan, Malaysia dan Papua. Wilmar International Ltd memiliki tanaman dan 25 penyulingan di Indonesia untuk memasok penyulingan biodiesel baru di Singapura, Riau, daerah lain di Indonesia dan Rotterdam.

Dampak Negatif

Produksi minyak sawit telah tercatat sebagai penyebab kerusakan mendasar dan sering tidak dapat dipulihkan pada lingkungan alam. Dampaknya antara lain: penggundulan hutan, hilangnya habitat spesies langka seperti Orangutan dan Harimau Sumatra serta peningkatan nyata dalam emisi gas rumah kaca (GRK).

Polusi GRK terjadi karena banyak hutan di Indonesia dan Malaysia tumbuh di atas lahan gambut yang menyimpan banyak sekali karbon yang terlepas ketika hutan ditebang dan gambut dikeringkan agar tanaman sawit dapat tumbuh.

Awalnya masyarakat dunia antusias dengan potensi sawit sebagai biodiesel dan menanamkan investasi besar lewat proyek kredit karbon dalam Mekanisme Pembangunan Bersih. Walau begitu, reputasi sawit sebagai perusak lingkungan dan penyebab GRK membuat banyak dana ditarik kembali dari Indonesia.

Solusi

Solusi yang paling jelas adalah dengan menerapkan kebijakan paling ramah lingkungan seperti mensertifikasi sawit lewat RSPO. RSPO adalah kerjasaman banyak perusahaan besar untuk bergeser dari praktek buruk pengembangan kebun sawit menuju praktek bersih yang berkelanjutan. Tahun 2008, Unilever berkomitmen untuk hanya menggunakan minyak sawit yang tersertifikasi berkelanjutan dan memastikan kalau semua perusahaan yang menjadi pemasoknya mengubah produksinya menjadi berkelanjutan pada tahun 2015.

Solusi lain adalah dengan mengembangkan penelitian dalam rekayasa genetika. Malaysia telah mulai sejak tahun 1979 karena wilayahnya yang sempit menuntut produksi sawit yang bermutu tinggi. Walau begitu, proyek rekayasa genetika Malaysia baru dapat terlihat hasilnya paling tidak tahun 2020 karena panjangnya usia hidup tanaman yang menghambat uji coba dan rendahnya keanekaragaman genetik sawit.

 

Sumber

Wikipedia. Palm Oil

 

Referensi  lanjut

  1. Bellis, Mary. “The History of Soaps and Detergents”. About.com.
  2. Che Man, YB; Liu, J.L.; Jamilah, B.; Rahman, R. Abdul (1999). “Quality changes of RBD palm olein, soybean oil and their blends during deep-fat frying”. Journal of Food Lipids 6 (3): 181–193.
  3. Clay, Jason (2004). World Agriculture and the Environment..
  4. Cottrell, RC (1991). “Introduction: nutritional aspects of palm oil”. The American journal of clinical nutrition 53 (4 Suppl): 989S–1009S.
  5. Matthäus, Bertrand (2007). “Use of palm oil for frying in comparison with other high-stability oils”. European Journal of Lipid Science and Technology 109: 400.
  6. Mensink, RP; Katan, MB (1992). “Effect of dietary fatty acids on serum lipids and lipoproteins. A meta-analysis of 27 trials.”. Arterioscler Thromb 12 (8): 911
  7. Parveez, G.K;, Masri, M.M; Zainal, A; Majid, N.A; Yunus, A.M.M; Fadilah, H.H; Rasid, O; Cheoh, S-C (2000) “Transgenic Oil Palm: Production and Projection”. Biochemical Society Transactions, 28(6) : 969-972
  8. Poku, Kwasi (2002). “Origin of oil palm”. Small-Scale Palm Oil Processing in Africa. FAO Agricultural Services Bulletin 148. Food and Agriculture Organization
  9. Reeves, James B.; Weihrauch, John L.; Consumer and Food Economics Institute (1979). Composition of foods: fats and oils. Agriculture handbook 8-4. Washington, D.C.: U.S. Dept. of Agriculture, Science and Education Administration
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.