Diposting Minggu, 17 April 2011 jam 8:17 pm oleh Evy Siscawati

Fosil Gigi menunjukkan Pola Makan dan Waktu Kemunculan Rumput

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 17 April 2011 -


 

Hewan pertama memakan rumput waktu itu – secara teknis adalah rumput musim kemarau yang disebut tanaman C4 – adalah leluhur zebra, mulai 9,9 juta tahun lalu. Selanjutnya, sebagian namun tidak semua badak berpindah, mulai 9,6 juta tahun lalu. Pemakan rumput menyebar 7,4 juta tahun lalu pada leluhur gajah. Kuda nil mulai merumput lebih lambat. Dan jerapah, dengan kepalanya di pepohonan, tidak pernah beralih.

Studi yang dilakukan tim peneliti internasional yang dipimpin Utah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Studi ini mengkonstruksi catatan perubahan pola makan 7 juta tahun – dari 10 juta tahun hingga 3 juta tahun lalu – dengan menganalisa rasio isotop karbon dalam 452 fosil gigi dari sembilan famili hewan di tiga lokasi di Kenya yang juga didiami leluhur manusia mirip kera.

“Catatan ini adalah yang pertama menunjukkan respon diet pada famili herbivora pada kemunculan rumput musim kemarau di Afrika Timur, setidaknya 10 juta tahun lalu,” kata penulis perdana, Kevin Uno, seorang mahasiswa doktoral geologi di Universitas Utah. “Rumput sekarang menjadi makanan utama banyak herbivora di sana.”

Ia menambahkan: “Hasil ini menggambarkan respon makanan diferensial berubah dalam iklim dan lansekap dari 10 juta hingga 3 juta tahun lalu, sebuah periode yang mencakup kemunculan manusia purba yang pada akhirnya menghadirkan manusia.”

Penemuan ini “menunjukkan kalau berbagai hewan merespon berbeda pada perubahan ekologi,” kata geokimiawan, Thure Cerling, penulis senior studi ini dan juga profesor paripurna dalam geologi, geofisika dan biologi di Universitas Utah.

“Hal ini memiliki implikasi bagi masa depan planet kita saat iklim dan ekologi berubah sebagai hasil aktivitas manusia – bukan hanya perubahan iklim, namun perubahan penggunaan lahan seperti pertanian dan penggurunan,” tambahnya. “Dan tidak selalu mungkin untuk meramalkan bagaimana berbagai bagian ekosistem akan merespon pada perubahan ini.”

Uno dan Cerling melakukan studi ini bersama John Harris dari Museum George C. Page di Los Angeles; paleontolog Meave Leakey dari Lembaga Lembah Turkana, Kenya yang berbasis di Universitas Stony Brook di New York; dan ilmuan Jepang Yutaka Kunimatsu dan Masato Nakatsukasa dari Universitas Kyoto dan  Hideo Nakaya dari Universitas Kagoshima.

Permukaan kunyah fosil geraham atas seekor equid – leluhur zebra – yang hidup di Afrika Timur, 9,6 juta tahun lalu.  (Credit: Kevin Uno, University of Utah)

 

10 juta Tahun lalu

Bagi hewan Afrika yang hidup jutaan tahun lalu, makanan mereka terekam dalam rasio isotop karbon dalam enamel gigi mereka yang sekarang telah memfosil. Rasio ini mengungkapkan apakah hewan tersebut memakan tanaman yang menggunakan fotosintesis C3 atau C4 untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi.

Tanaman C3 termasuk pohon, perdu dan rumput musim hujan. Sebagian besar tanaman C4 adalah rumput dan semak musim kemarau yang umum ditemukan di daerah tropis. Saat ini di Afrika Timur, semua rumput adalah rumput C4.

Karbon yang dimakan tertanam dalam enamel gigi, memungkinkan para peneliti mengetahui apakah hewan yang telah lama mati ini memakan rumput C4 atau makan dari pohon atau perdu C3.

Perubahan iklim global dan regional berpotensi mengubah hutan menjadi padang rumput atau sebaliknya. Ketika ini terjadi dalam daerah besar, hewan harus merubah pola makanannya atau berhadapan dengan akibatnya, yang dalam kasus ekstrim berarti pindah ke habitat baru atau akhirnya punah.

Rekaman makanan herbivora Afrika Timur dari 10 juta hingga 3 juta tahun lalu menunjukkan perubahan dramatis pada berbagai tingkatan dan waktu. Perubahan ini bergeser dari memakan tanaman C3 – pohon, perdu dan rumput musim hujan – menjadi memakan rumput C4 tropis musim kemarau, yang pertama muncul di Afrika Timur 10 hingga 15 juta tahun lalu.

Perpindahan para hewan ke rerumputan mulai pada rumput musim kemarau pertama muncul di Afrika Timur, namun jauh sebelum padang rumput mulai tersebar luas di daerah ini. Bukti sebelumnya menunjukkan Afrika Timur didominasi ekosistem C3 (pohon, perdu dan semak musim hujan) pada epoh Miosen Tengah dan Akhir sekitar 16 hingga 5 juta tahun lalu, namun lansekap mosaik rumput C4 sudah ada.

Penelitian sebelumnya Cerling tidak menemukan bukti persebaran rerumputan lebih awal dari 4,2 juta tahun lalu. “Pergeseran utama menuju lingkungan kering di daerah ini mulai sekitar 2,7 juta tahun lalu,” kata Uno. “Dan hanya pada 1 juta tahun terakhir padang rumput menjadi dominan seperti sekarang di Afrika Timur.”

Namun bahkan sebelum 4,2 juta tahun lalu, “ada cukup rumput C4 disekitar untuk memberi makan banyak hewan,” tambahnya.

Herbivora pertama yang memakan rumput C4 memiliki gigi yang lebih panjang yang perlu waktu bagi rumput abrasif agar dapat rusak. Ketersediaan rumput C4 yang semakin banyak berarti kalau ada sumber makanan baru yang tersedia bagi herbivora yang ingin mencoba apakah mereka dapat mencerna rumput kasar ini, yang memiliki lebih banyak selulosa dan mutu gizi yang lebih rendah daripada tanaman C3.

Sejarah Pemakan Tanaman Afrika Timur

Studi terbaru ini memberikan sejarah makanan hewan pemakan tanaman Afrika Timur:

Sumber berita:

University of Utah

Referensi jurnal:

Kevin T. Uno, Thure E. Cerling, John M. Harris, Yutaka Kunimatsu, Meave G. Leakey, Masato Nakatsukasa, Hideo Nakaya. Late Miocene to Pliocene carbon isotope record of differential diet change among East African herbivores. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2011; DOI: 10.1073/pnas.1018435108

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.