Diposting Sabtu, 16 April 2011 jam 10:16 pm oleh Evy Siscawati

Pinguin Telanjang membingungkan para Pakar

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 16 April 2011 -


 

Penampilan pinguin telanjang – mengalami gangguan bulu rontok – dalam koloni pinguin di kedua sisi Atlantik Selatan dalam beberapa tahun terakhir telah membingungkan para ilmuan terutama pada apa yang menyebabkannya.

Sebuah studi pada gangguan ini muncul dalam jurnal ilmiah Waterbirds. Para penulis makalah adalah: Olivia J. Kane, Jeffrey R. Smith, dan P. Dee Boersma dari Masyarakat Pelestarian Kehidupan Liar (WCS) dan Universitas Washington; Nola J. Parsons dan Vanessa Strauss dari Yayasan Pelestarian Burung Pantai Afrika Selatan; dan Pablo Garcia-Borboroglu dan Cecilia Villanueva dari Centro Nacional Patagónico.

“Gangguan bulu rontok jarang ditemukan pada sebagian besar spesies burung, dan kami perlu melakukan studi lebih lanjut untuk menentukan penyebab gangguan ini dan apakah hal ini menyebar pada spesies pinguin lainnya,” kata Boersma, yang telah melakukan studi pada pingun Magellan selama lebih dari tiga dekade.

Gangguan bulu rontok pertama muncul di Cape Town, Afrika Selatan tahun 2006, ketika para peneliti dari Yayasan Pelestarian Burung Pantai Afrika Selatan (SANCCOB) pertama kali mengamati gangguan ini pada pinguin Afrika (atau pinguin kaki hitam) di fasilitas rehabilitasi mereka. Selama tahun itu, sekitar 59 persen anak pinguin di fasilitas itu kehilangan bulunya, dilanjutkan dengan 97 persen anak di fasilitas pada tahun 2007 dan 20 persen anak di tahun 2008. Anak dengan gangguan bulu rontok, ditemukan memerlukan waktu tumbuh lebih lama menuju ukuran yang sesuai untuk dilepaskan ke alam liar. Anak tersebut pada akhirnya mulai menumbuhkan bulu baru.

Di sisi lain samudera Atlantik selatan, para peneliti dari WCS dan Universitas Washington mengamati gangguan bulu rontok pada anak pinguin Magellan liar (berkerabat dekat dengan pinguin Afrika) untuk pertama kalinya tahun 2007 dalam empat lokasi studi berbeda sepanjang garis pantai Argentina. Para peneliti juga mencatat kalau walaupun pinguin berbulu mencari naungan dari panas matahari ketika siang, anak pinguin tanpa bulu justru tetap bertahan di terik matahari. Beberapa anak pinguin dengan gangguan bulu rontok mati selama studi.

Dalam kedua kasus, anak pinguin dengan gangguan bulu rontok tumbuh lebih lambat daripada anak berbulu. Anak tanpa bulu juga berukuran lebih kecil dan lebih ringan dari anak berbulu; kedua disparitas disebabkan meningkatnya energi yang dihabiskan untuk termoregulasi akibat ketiadaan selimut isolasi dari bulu. Sejauh ini, penyebab yang mungkin adalah patogen gangguan tiroid, ketidakseimbangan nutrisi atau genetik.

“Kemunculan gangguan bulu rontok pada populasi burung liar menunjukkan kalau gangguan ini sesuatu yang baru,” kata Mariana Varese, Direktur Program Amerika Latin dan Karibia WCS. “Lebih banyak studi pada penyakit ini dapat membantu menemukan penyebab utamanya, yang kemudian akan membantu memberi solusi yang mungkin.”

“Kami perlu belajar menghentikan penyebaran gangguan bulu rontok, karena pinguin sendiri sudah bermasalah dengan polusi minyak dan variasi iklim,” kata Boersma. “Penting untuk menjaga agar penyakit ini tidak masuk ke daftar ancaman kepunahan yang mereka hadapi.”

Sumber berita:

Wildlife Conservation Society

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.