Diposting Kamis, 14 April 2011 jam 10:47 am oleh Gun HS

Penemuan Fosil Mamalia yang Lama Dicari dengan Transisi Telinga Tengah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 14 April 2011 -


Para ahli paleontologi dari Museum Sejarah Alam Amerika dan Akademi Ilmu Pengetahuan Cina mengumumkan penemuan Liaoconodon hui, fosil lengkap mamalia dari Mesozoikum yang ditemukan di Cina, termasuk transisi telinga tengah yang telah lama dicari.

Spesimen ini menunjukkan tulang yang berhubungan dengan pendengaran pada mamalia – maleus, inkus, dan ectotympanic – terpisah dari rahang bawah, seperti yang telah diperkirakan, namun tersanggah di tempatnya oleh tulang rawan keras yang bersandar di alur pada rahang bawah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Nature minggu ini, juga menunjukkan bahwa telinga tengah berevolusi setidaknya dua kali pada mamalia, pada monotremes dan untuk kelompok plasenta-marsupial.

“Spesimen ini telah dicari selama lebih dari 150 tahun sejak terlihat alur membingungkan pada rahang bawah beberapa mamalia awal,” kata Jin Meng, kurator di Divisi Paleontologi di Museum dan penulis pertama makalah. “Sekarang kami memiliki tulang rawan dengan tulang telinga yang terpasang, bukti jelas paleontologis pertama yang menunjukkan hubungan antara rahang bawah dan telinga tengah.”

Mamalia – kelompok hewan yang meliputi monotremes bertelur seperti platypus, marsupial semacam tupai, dan plasental seperti tikus dan paus – secara longgar disatukan oleh karakteristik yang terpaket, termasuk tulang kecil telinga tengah. Telinga tengah mamalia, atau bertempat persis di gendang telinga, yang berbentuk melingkar dan meliputi tiga tulang, dua di antaranya ditemukan sama dengan rahang bawah reptil hidup. Artinya, selama pergeseran evolusioner dari kelompok yang meliputi kadal, buaya, dinosaurus dan mamalia, kuadrat dan artikular ditambah tulang-tulang preatikular terpisah dari rahang bawah posterior dan menjadi terkait dengan pendengaran sebagai inkus dan maleus.

Transisi dari reptil ke mamalia telah lama menjadi pertanyaan terbuka, meskipun studi embrio yang berkembang telah menghubungkan tulang rahang bawah reptil berbagi dengan tulang telinga tengah mamalia.

Penemuan fosil sebelumnya telah mengisi bagian dari teka-teki telinga-tengah mamalia. Seekor mamalia awal, Morganucodon yang pernah hidup sekitar 200 juta tahun yang lalu, memiliki tulang-tulang yang lebih mirip dengan gabungan tulang rahang reptil namun dengan pengurangan pada tulang-tulang tersebut, yang berfungsi untuk pendengaran maupun mengunyah. Fosil lain yang dideskripsikan dalam dekade terakhir telah memperluas informasi tentang mamalia awal – misalnya, ditemukan bahwa tulang rawan keras masih berhubungan dengan alur umum pada rahang bawah mamalia awal. Tapi fosil ini tidak meliputi tulang-tulang telinga tengah.

Fosil baru yang dideskripsikan minggu ini, Liaoconodon hui, mengisi kesenjangan antara basal tersebut, bentuk-mamalia awal seperti Morganucodon, di mana tulang telinga bagian tengah merupakan bagian dari mandibula dan telinga tengah definitif fosil mamalia dan yang masih hidup.

Liaoconodon hui adalah mamalia berukuran sedang untuk masa Mesozioc (35,7 cm dari hidung ke ujung ekor, atau sekitar 14 inci) dan tertanggal 125-122 juta tahun. Ia dinamai dengan tempat berlimpahnya fosil di Liaoning, Cina, di mana ia ditemukan. Nama spesies, hui, adalah sebagai kehormatan paleontologis bagi Yaoming Hu, lulusan program doktor American Museum Sejarah Alam.

Fosilnya sangat lengkap, dan tengkoraknya tersusun dari sisi punggung dan perut, sehingga Meng dan para kolega melihat bahwa inkus dan maleus telah terlepas dari rahang bawah untuk membentuk bagian telinga tengah. Tulang-tulang ini tetap terkait dengan tulang rahang dengan tulang rawan keras Meckel yang terletak pada alur di rahang bawah. Tim riset menghipotesis bahwa pada mamalia awal, gendang telinga adalah stabil dengan tulang rawan sebagai suatu struktur pendukung.

“Sebelumnya kami tidak tahu morfologi rinci tentang bagaimana tulang telinga tengah terpisah, atau tujuan dari tulang rawan keras,” kata Meng. “Liaoconodon hui mengubah interpretasi sebelumnya karena kita sekarang tahu morfologi rinci transisi mamalia dan dapat mengusulkan bahwa tulang rawan keras adalah sebagai stabilisator.”

Juga disajikan dalam makalah penelitian baru analisis filogenetik rinci tentang beberapa fitur fosil mamalia dan yang masih hidup. Dengan melihat fitur-fitur yang berhubungan dengan tulang dan alur di rahang bawah, yang mengindikasikan adanya tulang rawan keras Meckel, tampak bahwa telinga tengah mungkin berevolusi dua kali, pada monotremes serta pada plasental dan marsupial.

“Saya selalu memimpikan sebuah fosil dengan tulang kecil telinga yang baik,” kata Meng. “Sekarang, kami telah memilikinya sekali dalam penemuan seumur hidup.”

Selain Meng, penulis makalah meliputi Wang Yuanqing dan Li Chuankui, keduanya dari Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata, Akademi Ilmu Pengetahuan China di Beijing. Penelitian ini didanai oleh Proyek Mayor Berbasis Riset Departemen Ilmu dan Teknologi, Cina, Yayasan Ilmu Pengetahuan Cina, Dana Khusus untuk Penggalian dan Penyusunan Fosil dari Akademi Ilmu Pengetahuan Cina, dan National Science Foundation Amerika Serikat.

Sumber: LONG-SOUGHT FOSSIL MAMMAL WITH TRANSITIONAL MIDDLE EAR FOUND; amnh.org
Kredit: American Museum of Natural History
Referensi Jurnal: Jin Meng, Yuanqing Wang, Chuankui Li. Transitional mammalian middle ear from a new Cretaceous Jehol eutriconodont. Nature, 2011; 472 (7342): 181 DOI: 10.1038/nature09921

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.