Diposting Kamis, 14 April 2011 jam 6:29 pm oleh Evy Siscawati

Asal usul Bandung

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 14 April 2011 -


 

Catatan sejarah Bandung hanya sampai tahun 1488 dan pada tahun 1641, hanya ada sekitar 25 hingga 30 rumah disini. Walau begitu, setidaknya manusia sudah hidup di Bandung enam ribu tahun lalu, berdasarkan temuan alat-alat batu di Gua Pawon oleh para peneliti ITB. Mereka menemukan alat batu beserta sisa-sisa vertebrata, cangkang moluska air tawar dan beberapa peralatan lainnya. Budi Brahmantyo dkk juga menemukan indikasi adanya penggunaan api.

Penemuan perkakas purba ini juga kurang lebih sama dengan masa dimana Bandung berupa telaga, 6000 tahun lalu. Telaga Bandung, berukuran tiga kali DKI Jakarta, membentang dari  Cicalengka hingga ke Padalarang, lebih dari 50 km, dan dari Bukit Dago ke Soreang-Ciwidey sejauh 30 km.

Di epoh Holosen (11 ribu tahun lalu), gunung berapi Tangkuban Perahu terbentuk sebagai gunung berapi parasitik dari kawah gunung berapi Sunda. Gunung Sunda sendiri terbentuk sekitar 2 juta tahun lalu (letusan Tangkuban Perahu pertama) dan merupakan gunung berapi besar dengan diameter sekitar 20 km dan tingginya sekitar 3000 meter.

Danau Bandung terbentuk oleh letusan gunung Tangkuban Perahu kedua, 6000 tahun lalu, yang membendung sungai Citarum (mungkin dari sini nama Bandung berasal). Danau purba ini diduga berada sekitar 720 meter di atas permukaan laut. Gua yang ditemukan Brahmantyo dkk berada tidak jauh dari muka air danau ini.

Walau begitu, air danau Bandung semenjak 3000-4000 tahun lalu perlahan-lahan mereda akibat penetrasi air di bukit kapur Rajamandala di Sanghyang Tikoro. Penetrasi ini menyebabkan terjadinya sungai bawah tanah yang mengalirkan air danau Bandung ke sungai Citarum, terus menerus hingga sekarang. Air danau Bandung yang lepas dan menyisakan sejumlah besar telaga kecil yang kemudian menjadi rawa-rawa di dalam hutan belantara Bandung. Lokasi rawa-rawa ini kemudian menjadi nama dari berbagai tempat di Bandung seperti Situ Gunting, Situ Aras, Situ Saeur, Leuwi Panjang, Cisitu, Situ Aksan, Rancaekek, Rancamanuk, Rancaoray, Rancakandang, Rancabeureum, Rancabadak, dan Rancamanyar. Fakta tentang keberadaan danau Bandung sudah diketahui setidaknya dari zaman Belanda, sekitar tahun 1936.

Walau begitu, penelitian lebih modern berpendapat lain. MAC Dam pada tahun 1994 menyimpulkan keberadaan danau Bandung yang jauh lebih tua usianya. Beliau menyimpulkan hal tersebut dari endapan lakustrin yang ditemukan lewat pengeboran di Dataran Bandung Timur. Dam menyebutkan kalau danau Bandung terbentuk 135 ribu tahun lalu dan lenyap sekitar 20 ribu tahun lalu.

Jika penelitian Dam benar, tampaknya kita tidak bisa membayangkan bagaimana para manusia purba mendaki gua lalu berdiri di mulut gua sambil melihat air bah mengalir menutupi lembah luas di depannya. Tapi kesimpulan kalau pekakas batu di gua Pawon berasal dari 6000 tahun lalu hanyalah diambil dari korelasi dengan artefak Toalian di Sulawesi Selatan.

Yang jelas, para ahli sepakat bahwa Bandung dulunya berupa danau dan karenanya, asal usul Bandung dari danau adalah fakta ilmiah.

Referensi LKS

Ruhimat, A. Pangjejer Basa: Materi dan LKS Basa Sunda Pikeun Murid SMP. Epsilon Group, hal. 21-22 yang bersumber dari Semerbak Bunga di Bandung Raya

Referensi ilmiah

Bellwood, P., 2000, Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, diterjemahkan oleh TW Kamil (edisi pertama tahun 1985: The Prehistory of Indo-Malaysian Archipelago); PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Brahmantyo, B., Yulianto, E., Sudjatmiko (2001). “On the geomorphological development of Pawon Cave, west of Bandung, and the evidence finding of prehistoric dwelling cave”. JTM.

Brotodihardjo, A.P.P. 1994. Environmental Plan of the Bandung Plateau, Indonesia, for Development of Geotourism. 6th International IAEG Congress, Rotterdam.

Dam, M.A.C., 1994, The late Quaternary Evolution of the Bandung Basin, West-Java, Indonesia, Vrije Universiteit Dissertation, The Netherlands.

Koesoemadinata, R.P, 1956, The Geology of Bandung, compiling lectures of Th.H.F. Klompe, Univ. Indonesia, Fak. Ilmu Pasti & Ilmu Alam, Bandung.

Koesoemadinata, R.P., and Hartono, D., 1981, Stratigrafi dan Sedimentasi Daerah Bandung, Proceedings of Indonesian Assoc. Of Geologist Ann. Conv. X, Bandung, p. 318-336.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.