Diposting Rabu, 13 April 2011 jam 6:34 pm oleh Evy Siscawati

Tensiometer dan Laser menghemat Konsumsi Air Sawah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 April 2011 -


 

Masalah ini muncul karena para petani Punjabi telah beralih dari menanam pertanian tradisional yang sesuai dengan lahan setengah kering seperti gandum dan jagung, beralih ke tanaman boros air, yaitu beras. “Bila Punjab terus memproduksi beras, praktek pertanian modern harus mempertimbangkan situasi air dan menciptakan rencana jangka panjang agar berkelanjutan,” kata Shama Perveen, ilmuan dari Pusat Air Universitas Columbia yang bekerja di daerah ini. Ia dan beberapa koleganya dari Columbia, bekerjasama dengan ilmuan pertanian India menguji coba rencana demikian: dua alat konsercasi yang dapat membantu para petani menggunakan sedikit air, bahkan bila ia tidak mengganti tanamannya.

Salah satu alat tersebut adalah tensiometer: sebuah gelembung keramik berpori yang ditempelkan pada sebuah meteran berkode warna yang mencerminkan kelembaban tanah. Dalam eksperimen pendahuluan yang melibatkan lebih dari 500 petani di 50 desa di Punjab, mereka mendapatkan tensiometer yang kemudian ditusukkan ke tanah, termasuk sawah. Para petani disuruh melakukan irigasi hanya jika instrumen menunjukkan kalau kelembaban turun. Mereka yang mengikuti panduan ini mengkonsumsi hampir 30 persen lebih sedikit air daripada sebelumnya.

Teknik lain bertopang pada laser yang mendeteksi undulasi di lahan. Dengan diberitahu pemindaian laser, para petani dapat mendeteksi tonjolan sebelum menyemai, sehingga mencegah ketidakrataan irigasi. Pengambangan laser dapat menghemat 20 persen penggunaan air, kata Kapil Narula, kepala operasi Pusat Air Columbia di India.

Tahun ini tim akan memperkenalkan tensiometer dan pengambangan laser kepada lebih dari 5 ribu petani di Punjab dan 1500 petani di negara bagian tetangganya, Gujarat. “Dengan melibatkan lebih banyak petani, kami dapat mengatasi krisis air di daerah yang parah,” kata Narula.

Para pakar lokal merasa bersemangat melihat hasilnya namun mengatakan kalau mereka perlu diperluas dan dikombinasi dengan usaha lainnya agar berpengaruh nyata. “Tantangannya adalah melibatkan sejumlah besar petani dan mendidik mereka mengenai manfaat alat ini,” kata Bhism Kumar, seorang ilmuan dari Lembaga Hidrologi Nasional di Roorkee. Ia menambahkan kalau ilmuan dan petani perlu menerapkan pendekatan ganda untuk menghadapi krisis ini, termasuk menanam tanaman yang memerlukan lebih sedikit air dan memperkenalkan irigasi celup modern, yang mengalirkan air langsung ke akar tanaman.

Sumber :

Mazumdar, S. 2011. Arid Land, Thirsty Crops. Scientific American, April 2011, p.26

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.