Diposting Rabu, 13 April 2011 jam 6:40 pm oleh Evy Siscawati

Mengapa Spesies harus diselamatkan?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 April 2011 -


 

Dalam situs New York Times Opiniator, penulis Richard Conniff telah menerbitkan sebuah seri kolom menarik mengenai usaha pencarian naturalis pada hewan dan tanaman baru: “The Species Seekers“.   Kolom penutupnya berjudul, “How species save our lives.”  Conniff memberikan alasan yang baik dan tidak diakui secara luas: hampir separuh obat-obatan di rak farmasi diambil dari spesies yang ada di alam, baik secara langsung atau lewat sintesis senyawa yang ditemukan di alam. Corniff menyebutkan aspirin (dari pohon willow), obat kanker vincristine (dari periwinkel Madagaskar), Taxol (dari pohon yew), Inhibitor ACE untuk mengurangi tekanan darah (dari bisa ular) dan imunosupresan rapamisin (dari sejenis jamur tanah).

Dan memang, penting mempublikasikan fakta ini, yang umum tidak diketahui, sebagai argumen kuat untuk pelestarian spesies. Seperti dikatakan Conniff:

Karena ini adalah kolom terakhir seri mengenai bagaimana penemuan spesies mengubah hidup kita, izinkan saya menekankan hal ini: Jika bukan karena kerja keras para naturalis, anda dan saya mungkin sudah mati. Ataupun jika hidup, kita lebih mungkin cacat, sakit atau mungkin lumpuh.

Siapa yang tahu berapa banyak penyembuh potensial yang tersembunyi dan belum ditemukan di hutan hujan tropis, atau yang sudah habis ditebang? Setiap satu spesies lenyap, satu lembar kertas dari kitab penyembuhan atau kitab pengetahuan dunia telah tersobek.

Namun menurut Jerry Coyne, ini baru salah satu manfaatnya. Ya, mungkin berkonsentrasi pada menemukan spesies baru dapat membuat kita lebih sehat dan (bagi perusahaan farmasi) lebih kaya. Namun bagaimana dengan manfaat lain bagi alam: fakta sederhananya adalah ia disana, yang memberi kita kearifan dan keindahan, dan sejauh yang kita tahu tentang evolusi dan ekologi berasal langsung dari mempelajari hewan, tanaman dan mikroba di dunia. Betapa miskinnya kita jika Darwin tidak bertindak sebagai naturalis kapal tidak resmi di The Beagle.

Manusia adalah hewan yang berangan-angan, dan para ilmuan serta naturalis membantu memberi makan angan-angan tersebut. Namun kita tidak dapat melakukannya tanpa alam: jika tidak kita akan semata mempelajari kecoa dan flora usus kita. Studi alam memberi tahu kita dari mana kita datang dan kepada siapa kita berkerabat, dan memberi banyak sekali kisah – kisah sejati – untuk memberi makan imajinasi kita. Fenomena mimikri, dimana hewan dan tanaman mengevolusikan penampilan, bau dan perilaku mereka meniru yang lain, untuk melindungi dirinya sendiri dari dimakan atau menyembunyikan diri untuk memangsa. Salah satu contohnya adalah beberapa katidid dari genus Mimetica, dari Amerika Selatan, yang berevolusi sehingga mirip dengan daun, lengkap dengan batang, nadi dan bahkan “titik-titik rusak”:

Dan ini adalah laba-laba pelompat (di dasar daun) yang meniru semut perajut (di atas). Perhatikan kesamaan yang mengesankan, dimana laba-laba berevolusi sehingga memiliki warna, bentuk tubuh dan titik mata palsu yang meniru semut tersebut. Ia bahkan mengangkat sepasang kaki depannya (ingat kalau laba-laba punya delapan kaki, berbeda dengan semut yang punya enam kaki), agar terlihat seperti antena. Penampilan laba-laba hampir pasti berevolusi lewat seleksi alam untuk memberinya perlindungan dari predator seperti burung, yang menghindari kerumunan semut. Mengesankan bahwa proses yang buta, tanpa pikiran dan tidak terpandu ini dapat melakukan hal ini.

Evolusi dan ekologi telah melahirkan ribuan kisah seperti ini – dan mereka bukan semata kabar terisolasi, namun mereka memberi makan teori ilmiah yang kuat. Adalah penumpukan kabar yang menginspirasi Darwin mengajukan teori evolusi lewat seleksi alam. Dan penelitian pada mimikri, di akhir abad ke-19, memberi beberapa bukti paling kuat dan paling mengesankan mengenai seleksi alam. Jangan lupa kalau naturalis awal tidak terlalu tertarik dengan nilai praktis atau medis dari spesies, namun kita terinspirasi terutama oleh gaya pengendali sains, rasa ingin tahu yang sederhana. Adalah rasa ingin tahu yang diekspresikan oleh berbagai ilmuan yang menulis buku best-seller.

Sebagian besar minat kita ke alam sebenarnya egois: bagaimana ia bisa menjadikan kita kaya dan sehat? Mengapa kita melakukan sesuatu? Sebenarnya kita ingin hidup di dunia yang kita inginkan. Para pendiri kebun sawit yang menghancurkan hutan ingin hidup dalam kenikmatan uang. Para pendukung konservasi dan penyelamatan marga satwa ingin hidup dalam pengaguman keindahan alam. Yang parah, mereka menduga ini adalah impian kolektif manusia. Bahwa semua orang berpikir seperti dirinya atau membuat orang lain berpikir seperti dirinya.

Ini adalah dua argumen untuk konservasi alam: ia membuat kita lebih sehat dan lebih tahu. Hak apa yang kita miliki untuk merusak sejarah alam? Apakah otak kita yang berevolusi menjadi besar, dan kemampuan kita diatas hampir semua spesies, memberi kita hak untuk menghancurkan agar alam sesuai keinginan kita? Bagaimana dengan katak, pohon dan kumbang yang lemah?

Moralitas berevolusi seiring berjalannya waktu, sehingga banyak orang sekarang merasa menyakiti hewan yang tidak diperlukan adalah tindakan tidak bermoral. Kita tidak menggunakan simpanse dalam penelitian medis bila monyet sudah cukup, dan tidak akan menggunakan monyet jika tikus sudah cukup. Orang tidak suka dengan mengadu ayam atau banteng. Mungkin di masa depan, kita akan sedih melihat kehancuran ekosistem, dan menyadari kalau mereka punya hak untuk eksis karena spesies mereka berevolusi di waktu yang sama seperti kita.

Sumber :

Jerry Coyne. 2011. Why Save Species?

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.