Diposting Rabu, 13 April 2011 jam 6:38 pm oleh Evy Siscawati

Bukit Bunuh dan Lembah Bujang: Asal Usul Melayu?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 April 2011 -


 

Keberlangsungan luar biasa bukti arkeologis tertua di Bukit Bunuh di Lembah Lenggong disebabkan oleh fakta kalau sebuah tumbukan meteorit 1,83 juta tahun melestarikan banyak alat batu Paleolitikum di suevite yang meleleh.

Situs udara terbuka di Bukit Bunuh mencatat keberadaan manusia purba tertua di Asia Tenggara dengan penemuan beberapa kapak genggam tertua di dunia yang tertempel di suevite yang terbentuk akibat tumbukan meteorit dan ditemukan lewat teknik penjejak fisi berusia 1,83 juta tahun. Dengan keberadaan kapak genggam tersebut sebelum tumbukan meteorit, penempatan manusia di lokasi ini pastilah sebelumnya pula. Karenanya, stius ini telah dihuni manusia paling tidak 1,83 juta tahun lalu. Ini juga merupakan salah satu waktu tertua bagi keberadaan manusia purba di luar Afrika, dan berakibat pada pemahaman teori terbaru mengenai evolusi dan waktu penyebaran manusia dari Afrika ke Asia dan sekitarnya.

Fase satu, dilaporkan tahun 2001, mengungkapkan bengkel alat batu tua berusia 40 ribu tahun yang menghasilkan alat-alat seperti kapak genggam. Fase kedua membawa pada penemuan ribuan dari ribuan alat batu yang tertempel di suevite. Suevite (sejenis batu) ditemukan tersebar di sekitar lokasi dan asli hanya di beberapa daerah di dunia seperti Kanada, Jerman, Meksiko, Spanyol dan Rusia. Suevite yang ditemukan di Bukit Bunuh Perak berusia sekitar 1,84 juta tahun, menunjukkan kalau daerah tersebut telah dihantam oleh meteorit. Mineral-mineral baru yang ditemukan di dalam suevit ini menaikkan minat ahli geologi dari penjuru dunia.

Penemuan di Bukit Bunuh memiliki implikasi menggetarkan bagi arkeologi dan geologi, dan bila penemuan alat batu berusia 1,83 juta tahun ini benar, penulisan kembali sejarah purbakala manusia diperlukan.

Tim Arkeologi dipimpin Profesor Mokhtar belum selesai mengeksplorasi daerah ini; penelitian pada peradaban lebih baru juga telah dilaksanakan.

Dengan berbagai teknik, seperti survey lahan, pencitraan jauh dan geofisika tim ini mampu memetakan daerah yang terdiri dari 97 lokasi di Lembah Bujang (Kedah) untuk penggalian. Saat ini, 10 lokasi telah digali, delapan menunjukkan bukti arsitektur abad pertama masehi dan dua menunjukkan aktivitas peleburan besi.

Lewat proses yang disebut Optically Stimulated Luminescence (OSL), yang dilakukan terpisah di Universitas Washington, Laboratorium Sains Konservasi Korea dan Laboratorium ilmiah Jepang Hiruzen, tim Mokhtar mampu menemukan usia artifak yaitu 100 M.

Tahun 2009, Pemerintah Malaysia memberi lampu hijau bagi tim ini untuk mempelajari dan menggali lebih jauh. Penemuan lanjutan memberi sumbangan penting pada sejarah daerah ini sebagai pusat penempaan komersial. Studi dan penemuan sebelumnya berbasis pada agama dengan penemuan candi-candi purba.

Tahun 2010, penemuan monumen berusia 1900 tahun yang menggambarkan sun dial, dikonstruksi dengan presisi geometris yang detil. Diduga kalau ini merupakan struktur buatan manusia tertua di daerah tersebut. Saat dilihat dari perspektif regional, dan berdasarkan penentuan usia kronometrik, monumen ini mendahului semua struktur buatan manusia di daerah ini, seperti Angkor Wat di Kamboja (1200 M) dan Borobudur di Indonesia (900 M), penemuan yang kembali dapat membawa pada penulisan ulang sejarah Asia Tenggara.

Mokhtar sekarang memfokuskan usahanya mencari bukti manusia di daerah untuk lebih memperhalus penemuan tim ini.

 

Referensi ilmiah

  1. Mokhtar Saidin. 2004. Bukit Bunuh, Lenggong, Malaysia: New Evidence of Late Pleistocene Culture in Malaysia and Southeast Asia. dalam European Association of Southeast Asian Archaeologists. International Conference, Elisabeth A. Bacus, Ian Glover, Vincent C. Pigott. Uncovering Southeast Asia’s past: selected papers from the 10th International Conference of the European Association of Southeast Asian Archaeologists : the British Museum, London, 14th-17th September 2004. NUS Press, 2006
  2. S. Jane Allen. 1998. History, Archaeology, and the Question of Foreign Control in Early Historic-Period Peninsular Malaysia. International Journal of Historical Archaeology. Volume 2, Number 4, 261-289,
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.