Diposting Selasa, 12 April 2011 jam 8:51 pm oleh Evy Siscawati

Mata Merah berasosiasi dengan Kesedihan dan Tidak Menarik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 12 April 2011 -


 

“Mata merah ditemukan dalam diagnosis medis dan kebudayaan,” kata penulis perdana, Dr. Robert R. Provine dari University of Maryland, Baltimore County. “Kami ingin mengetahui apakah ia mempengaruhi perilaku dan sikap mereka yang melihatnya dan apakah ia memicu persepsi daya tarik.”

Mata merah muncul ketika pembuluh darah kecil dari selaput konjungtiva yang biasanya transparan di permukaan mata menjadi membesar dan terisi darah, memberikan warna merah di sklera di bawahnya, pemberi warna putih mata. Memerahnya sklera dipercaya sebagai tanda umum namun penting mengenai keadaan biologis dan emosional seseorang.

“Bila kamu bertemu seorang teman dengan mata merah, tidak jelas apakah kamu harus memberikan simpati atau bantuan medis karena mata merah bisa jadi hasil dari mengucek, alergi atau penyakit menular,” kata Provine. “Komentar dari teman-teman kami juga menyarankan kalau mata merah memicu perasaan tidak nyaman, mulai dari mengawasi mata mereka sendiri hingga menangis sebagai ungkapan rasa simpati.”

Dalam uji empiris pertama untuk menemukan persepsi dan implikasi perilaku mata merah, tim Dr Provine menguji 208 relawan mahasiswa dari University of Maryland, Baltimore County. Para relawan terdiri dari 93 laki-laki dan 115 perempuan, dengan usia rata-rata 20,6 tahun.

Para relawan ditunjukkan 200 gambar mata, separuh dengan sklera putih dan separuh dengan sklera merah yang diwarnai secara digital. Para relawan ditanya seberapa sedih, sehat atau menarik pemilik mata tersebut. Hasilnya mengungkapkan kalau orang dengan mata merah terlihat lebih sedih, tidak sehat dan kurang menarik dibandingkan mereka yang bermata putih dan bersih.

Gambar mata perempuan (kiri) dan laki-laki (kanan) dewasa muda. Dalam gambar atas sklera berwarna putih dan gambar bawah matanya telah diubah secara digital. Dalam studi ini, subjek menilai 200 gambar demikian. (Credit: R.Provine)

Ini adalah studi pertama untuk menunjukkan kalau kemerahan mata dipersepsi sebagai petunjuk emosi. Manusia tampaknya satu-satunya spesies yang menggunakan warna mata sebagai indikator kesehatan atau emosi. Hal ini karena primata lainnya tidak memiliki latar sklera putih yang diperlukan untuk membuat konjungtiva yang memerah terlihat.

Warna sklera memberikan pengamat, bahkan yang biasa dan tak terlatih, memperkirakan dengan cepat status kesehatan dan emosi individu dan rating daya tarik studi ini menunjukkan kalau informasi ini memang mempengaruhi perilaku kita.

“Standar kecantikan beragam tergantung budaya, namun, keremajaan dan kesehatan selalu sama karena mereka berasosiasi dengan kebugaran reproduktif,” kata Provine. “Sifat seperti rambut panjang dan bersih serta kulit ynag mulus dan bebas luka adalah petunjuk keremajaan dan membuat pemiliknya dipersepsi sebagai orang yang sehat.

Sekarang jelas putihnya mata masuk dalam standar universal persepsi kecantikan dan petunjuk kesehatan dan kebugaran reproduktif. Dengan penemuan ini, obat tetes mata yang menghilangkan mata merah dapat dipandang sebagai alat kosmetika.

Sumber berita :

Wiley-Blackwell,

Referensi Jurnal:

Robert R. Provine, Marcello O. Cabrera, Nicole W. Brocato, Kurt A. Krosnowski. When the Whites of the Eyes are Red: A Uniquely Human Cue. Ethology, 2011; 117 (5): 395 DOI: 10.1111/j.1439-0310.2011.01888.x

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.