Diposting Sabtu, 9 April 2011 jam 8:30 am oleh Gun HS

Penggabungan Lubang Hitam Baru-baru ini, Melahap Rakus serpihan Bintang-bintang

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 9 April 2011 -


Pusat galaksi merupakan tempat yang sibuk dan penuh dengan bintang-bintang yang mengerubungi sebuah lubang hitam raksasa. Ketika galaksi-galaksi bertabrakan, suasana menjadi lebih kacau sebagai dua spiral lubang hitam yang saling berhadapan, melakukan penggabungan untuk menciptakan monster gravitasi yang lebih besar.

Setelah terbentuk, sang monster terus mengamuk. Penggabungan ini menendang lubang hitam ke dalam kerumunan bintang. Di sana ia menemukan makanan lezat, merobek-robek dan menelan bintang-bintang dengan kecepatan sekejap. Menurut penelitian terbaru oleh Nick Stone dan Avi Loeb (Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics), survei luar angkasa mendatang mungkin menawarkan para astronom cara untuk menangkap sebuah lubang hitam yang “sedang beraksi”.

Sebelum penggabungan, sebagai pusaran dua lubang hitam, mereka mengaduk-aduk pusat galaksi seperti pisau blender. Kekuatan gravitasi mereka membengkokkan ruang, mengirim riak yang dikenal sebagai gelombang gravitasi. Ketika lubang hitam bergabung, mereka memancarkan gelombang gravitasi tersebut dengan lebih kuat dalam satu arah. Ketimpangan itu seketika ‘menendang’ lubang hitam ke arah yang berlawanan bagaikan mesin roket.

“Tendangan itu sangat penting. Hal itu dapat mendorong lubang hitam menuju bintang-bintang dan berada pada jarak yang aman,” kata Stone.

“Pada dasarnya, lubang hitam bisa terhindar dari kelaparan untuk menikmati  prasmanan semua-yang-bisa-dimakan,” tambahnya.

Ketika gaya pasang surut mencabik-cabik sebuah bintang, sisanya akan membentuk spiral di sekitar lubang hitam, saling menghancurkan dan bergosokkan satu sama lain, hingga cukup panas untuk bersinar dalam bentuk ultraviolet atau sinar-X. Lubang hitam akan bersinar terang sebagaimana bintang meledak, atau supernova, sebelum memudar secara bertahap dalam cara yang berbeda.

Yang penting, lubang hitam supermasif yang berkeliaran bisa menelan bintang lebih banyak dari sebuah lubang hitam di pusat galaksi yang tak terganggu. Sebuah lubang hitam stasioner mengganggu satu bintang setiap 100.000 tahun. Dalam skenario kasus terbaik, sebuah lubang hitam yang berkeliaran dapat mengganggu bintang dalam setiap dekade. Hal ini akan memberikan kesempatan yang jauh lebih baik bagi para astronom untuk mengamati peristiwa itu, terutama dengan adanya fasilitas-fasilitas survei terbaru seperti Pan-STARRS dan Large Synoptic Survey Telescope.

Penangkapan sinyal dari bintang terganggu merupakan awal yang baik. Bagaimanapun juga, para astronom sangat ingin menggabungkan informasi dengan data gelombang gravitasi dari kejadian penggabungan lubang hitam. Laser Interferometer Space Antenna (LISA), misi masa depan yang dirancang untuk mendeteksi dan mempelajari gelombang gravitasi, dapat memberikan data tersebut.

Pengukuran gelombang gravitasi menghasilkan jarak yang sangat akurat (untuk lebih dari satu bagian dalam seratus, atau 1 persen). Namun, mereka tidak menyediakan koordinat langit yang tepat. Gangguan pasang surut sebuah bintang akan memungkinkan para astronom menentukan galaksi yang mengandung biner penggabungan lubang hitam baru-baru ini.

Dengan menghubungkan pergeseran merah galaksi (perubahan dalam cahaya yang disebabkan oleh mengembangnya alam semesta) dengan jarak yang akurat, astronom dapat menyimpulkan persamaan keadaan energi gelap. Dengan kata lain, mereka dapat mempelajari lebih lanjut mengenai kekuatan yang mempercepat ekspansi kosmik, dan yang mendominasi massa kosmik/anggaran energi saat ini.

“Selain ‘lilin standar’ seperti supernova, biner lubang hitam akan menjadi sebuah ‘sirene standar’. Dengan menggunakannya, kita bisa menciptakan ‘aturan’ kosmik yang paling akurat,” ujar Loeb.

Menemukan sebuah penggabungan lubang hitam juga memungkinkan para ahli teori untuk mengeksplorasi sebuah rezim baru teori relativitas umum Einstein.

“Kita bisa menguji relativitas umum dalam rezim gravitasi kuat dengan ketepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Loeb.

Hasil pekerjaan mereka dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society edisi Maret 2011. Berpusat di Cambridge, Mass, Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) merupakan kerjasama antara Smithsonian Astrophysical Observatory dan Harvard College Observatory. Ilmuwan CFA, diorganisir dalam enam divisi penelitian, studi asal-usul, evolusi dan nasib akhir alam semesta.

Sumber Artikel: Newly Merged Black Hole Eagerly Shreds Stars (cfa.harvard.edu)
Kredit:
Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics
Referensi Jurnal: Nicholas Stone, Abraham Loeb. Prompt tidal disruption of stars as an electromagnetic signature of supermassive black hole coalescence. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 2011; 412 (1): 75 DOI: 10.1111/j.1365-2966.2010.17880.x

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.