Diposting Sabtu, 9 April 2011 jam 4:11 pm oleh Gun HS

Fosil-fosil Purba Menyimpan Petunjuk untuk Memprediksi Perubahan Iklim di Masa Depan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 9 April 2011 -


Dengan mempelajari fosil moluska berusia sekitar 3,5 juta tahun, para ahli bumi di UCLA beserta para kolega telah mampu membangun catatan iklim purba yang memegang petunjuk tentang efek jangka panjang tingkat karbon dioksida di atmosfer saat ini, sebuah kontributor kunci untuk perubahan iklim global.

Dua teknik geokimia terbaru digunakan untuk menentukan suhu pada saat kerang moluska terbentuk, menunjukkan bahwa di masa musim panas Kutub Utara selama zaman Pliosen awal (3,5 juta hingga 4 juta tahun lalu) mungkin temperaturnya mencapai 18 hingga 28 derajat Fahrenheit lebih hangat daripada saat ini. Dan fosil-fosil purba, yang dipanen dari jauh di dalam Lingkaran Arktik, mungkin pernah mendiami sebuah lingkungan di mana es di kutub sepenuhnya mencair selama bulan-bulan musim panas.

“Data kami dari Pliosen awal, ketika tingkat karbon dioksida tetap mendekati tingkat di masa modern selama ribuan tahun, mungkin menunjukkan bagaimana panas planet pada akhirnya akan terjadi jika tingkat karbon dioksida menjadi stabil pada nilai saat ini dari 400 bagian per juta,” kata Aradhna Tripati, seorang asisten profesor di fakultas ilmu Bumi dan ruang angkasa serta fakultas ilmu atmosfer dan kelautan, UCLA.

Hasil penelitian ini mendukung pernyataan yang dibuat oleh para pemodel iklim bahwa lautan es musim panas mungkin akan hilang dalam waktu 50 hingga 100 tahun mendatang, yang akan memiliki konsekuensi luas terhadap iklim di bumi.

Penelitian ini, yang secara federal didanai oleh National Science Foundation, dijadwalkan akan dipublikasikan dalam Earth and Planetary Science Letters edisi cetak 15 April.

“Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim mengidentifikasi Pliosen awal sebagai analog geologi terbaik untuk perubahan iklim pada abad 21 dan seterusnya,” kata Tripati, yang juga seorang peneliti bersama Institute of the Environment and Sustainability and Institute of Geophysics and Planetary Physics, UCLA. “Masyarakat pemodelan-iklim berharap menggunakan Pliosen awal sebagai patokan dalam menguji model yang digunakan untuk ramalan perubahan iklim di masa depan.”

Kutub merupakan lokasi yang paling mampu menunjukkan pemanasan dibanding setiap tempat di planet ini, dan efeknya yang paling parah adalah di Kutub Utara, kata Tripati. Kutub adalah wilayah pertama di Bumi yang menanggapi perubahan iklim global, dalam arti tertentu, Kutub Utara berfungsi sebagai pepatah kenari di tambang batubara, tanda peringatan pertama terhadap bahaya yang cepat mendekat.

Lapisan es dan lautan es di kawasan kutub merefleksikan radiasi matahari yang masuk, tujuannya adalah untuk mendinginkan Bumi – sebuah fenomena yang membuat kutub sangat sensitif terhadap variasi iklim, katanya. Peningkatan suhu di Kutub Utara tidak hanya akan menyebabkan lapisan es mencair namun juga mengakibatkan datarannya terbuka dan laut menyerap energi matahari lebih masuk secara signifikan dan lebih lanjut memanaskan planet ini.

Tanpa lapisan es permanen di Kutub Utara, suhu global pada masa Pliosen awal mencapai 2 hingga 5 derajat Fahrenheit lebih tinggi dari rata-rata global saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa ambang batas karbon dioksida untuk mempertahankan es Kutub Utara sepanjang tahun mungkin jauh di bawah tingkat di masa modern, kata Tripati.

Apa yang dapat ditunjukkan oleh fosil kerang pada kita tentang iklim

Penelitian ini berfokus pada fosil moluska yang dikumpulkan dari Beaver Pond, terletak di Fiord Strathcona di Pulau Ellesmere, pada titik paling utara Kanada, berada dalam Lingkaran Arktik. Dinamai untuk berbagai cabang yang ditemukan dengan tanda gigi berang-berang yang telah berlangsung selama jutaan tahun, Beaver Pond telah terbukti menjadi harta karun fosil spesimen tanaman dan hewan yang masih sangat terawat baik dalam lapisan gambut yang terbungkus es.

Para ilmuwan iklim biasanya menentukan suhu purba dengan menganalisis komposisi sampel inti yang digali bermil-mil jauhnya ke dalam lapisan es Greenland atau Antartika.

“Inti es merupakan arsip luar biasa perubahan iklim masa lalu karena mereka dapat memberi kita wawasan langsung pada bagaimana kutub telah merespon variasi tingkat gas rumah kaca di masa lalu,” kata Tripati. “Namun, data inti es hanya tersedia hingga masa 800.000 tahun ke belakang, di mana tingkat karbon dioksida tidak pernah berada di atas 280-300 bagian per juta. Untuk memahami perubahan lingkungan pada jangka waktu sebelumnya dalam sejarah bumi ketika tingkat karbon dioksida berada di dekat 400 bagian per juta, kita harus mengandalkan arsip lainnya.”

Dengan mengukur kandungan isotop oksigen dalam kombinasi fosil moluska dan sampel tanaman, dimungkinkan untuk menentukan suhu di mana spesimen awalnya terbentuk. Meskipun metode ini memungkinkan untuk rekonstruksi iklim sejak jutaan tahun yang lalu tanpa perlu sampel inti es, namun jarang ditemukan situs yang mengandung spesimen tanaman dan kerang dari waktu dan tempat yang sama.

Selain itu, Tripati beserta rekan-rekan penulisnya telah memelopori metode baru untuk mengukur suhu terakhir hanya dengan menggunakan kalsium karbonat yang ditemukan di dalam fosil kerang. Dengan menentukan seberapa banyak isotop karbon dan oksigen paling langka yang terdapat di dalam sampel moluska, membuahkan hasil yang konsisten dengan metode yang asli yang memerlukan suatu spesimen tanaman terkait.

Kesimpulan yang diambil dari dua teknik yang digunakan dalam penelitian ini juga mendukung tiga pendekatan yang sama sekali berbeda, yang digunakan dalam studi baru-baru ini oleh beberapa rekan penulis untuk menentukan suhu rata-rata di tempat yang sama. Mengingat konsistensinya di antara banyak proses yang berbeda, metode baru ini dapat dianggap sebagai teknik yang dapat diandalkan untuk digunakan pada sampel dari berbagai periode waktu dan lokasi, kata Tripati.

Sampel-sampel dikumpulkan dari Beaver Pond oleh rekan penulis, Rybczynski Natalia, seorang ahli paleobiologi di Museum Alam Kanada dan profesor riset tambahan di Carleton University.

Adam Csank, seorang mahasiswa pascasarjana di departemen geosains di University of Arizona, merupakan penulis pertama studi tersebut. Rekan penulis lainnya termasuk William Patterson, profesor ilmu geologi di University of Saskatchewan, Robert Eagle, seorang sarjana pasca-doktoral di Institut Teknologi California; Ashley Ballantyne, seorang sarjana pasca-doktoral di University of Colorado-Boulder, dan John Eiler, profesor ilmu geologi dan planet di Institut Teknologi California.

Sumber: Ancient fossils hold clues for predicting future climate change, scientists report (newsroom.ucla.edu)
Kredit: University of California – Los Angeles
Referensi Jurnal: Adam Z. Csank, Aradhna K. Tripati, William P. Patterson, Robert A. Eagle, Natalia Rybczynski, Ashley P. Ballantyne, John M. Eiler. Estimates of Arctic land surface temperatures during the early Pliocene from two novel proxies. Earth and Planetary Science Letters, 2011; 304 (3-4): 291 DOI: 10.1016/j.epsl.2011.02.030

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.