Diposting Jumat, 8 April 2011 jam 12:23 pm oleh Gun HS

Menguap yang Menular pada Simpanse: Bukti Empati

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 8 April 2011 -


Menguap yang menular bukan hanya penanda mengantuk atau bosan. Bagi simpanse, sebenarnya mungkin merupakan tanda hubungan sosial di antara individu.

Penelitian terbaru di Yerkes National Primate Research Center, Emory University, dapat membantu para ilmuwan memahami empati, mekanisme berpikir untuk mendasari menguap yang menular, baik pada simpanse maupun manusia. Penelitian ini juga dapat membantu menunjukkan bagaimana bias sosial memperkuat atau memperlemah empati.

Para ilmuwan di Yerkes menemukan bahwa simpanse menguap setelah memperhatikan simpanse yang lebih akrab sedangkan menguap, dan lebih jarang menguap jika memperhatikan simpanse asing yang menguap. Public Library of Science One (PLoS ONE) mempublikasikan studi ini secara online pada tanggal 6 April 2011.

Peneliti dari Yerkes, yaitu Matius Campbell, PhD, dan Frans de Waal, PhD, mengusulkan bahwa ketika menguap tersebar di antara simpanse, hal itu mencerminkan empati yang mendasar di antara mereka.

“Idenya adalah bahwa menguap adalah menular karena alasan yang sama dengan tersenyum, mengerutkan dahi serta ekspresi wajah lainnya yang menular,” tulis mereka. “Hasil studi kami mendukung gagasan bahwa menguap yang menular dapat digunakan sebagai ukuran empati, karena bias yang kami observasi serupa dengan bias empati yang sebelumnya terlihat pada manusia.”

Campbell merupakan rekan pasca-doctoral FIRST di Yerkes dan Emory. Sedangkan De Waal adalah direktur Living Links Center di Yerkes dan Profesor Psikologi CH Candler di Emory.

Mereka mempelajari 23 ekor simpanse dewasa yang dikandangkan dalam dua kelompok terpisah. Simpanse diperlihatkan beberapa video klip selama 9 detik, pada kedua kelompok. Video tersebut berisi simpanse lainnya, baik yang menguap ataupun melakukan sesuatu yang lain. Mereka menguap 50 persen lebih sering sebagai respon melihat anggota kelompok mereka menguap dibandingkan melihat anggota lain menguap.

Pada manusia, para ilmuwan telah mengidentifikasi bagian-bagian tertentu dari otak yang teraktifkan, baik ketika seseorang mengalami rasa sakit maupun ketika mereka melihat orang lain mengalami rasa sakit. Dalam eksperimen ini, orang cenderung menunjukkan sensitivitas yang lebih terhadap para anggota kelompok sosial yang sama.

Hasil ini menambah pertanyaan apakah menguap yang menular di antara manusia menunjukkan bias yang sama: lebih mendukung anggota kelompok sosial yang sama daripada kelompok-kelompok sosial yang berbeda.

Para penulis mencatat satu komplikasi: simpanse tinggal dalam komunitas kecil di mana individu asing secara definisi dilihat sebagai anggota kelompok sosial yang terpisah. Sebaliknya, manusia tidak perlu melihat orang asing sebagai milik dari suatu “kelompok luar”. Untuk alasan ini, perbedaan kelompok-dalam/kelompok-luar mungkin lebih mutlak pada simpanse daripada manusia. Simpanse di alam liar dikenal sangat bermusuhan dengan kelompok eksternal, yang mungkin menambah efek dengan yang ditemukan dalam penelitian ini.

Para penulis mengatakan bahwa menguap yang menular bisa menjadi jendela ke dalam hubungan sosial dan emosional di antara individu-individu, dan menyarankan bahwa wawasan ke dalam hambatan pada empati simpanse dapat membantu memecahkan hambatan-hambatan bagi manusia.

“Empati sulit untuk diukur secara langsung karena sebagian besar merupakan respon internal: meniru respons emosional yang lainnya. Menguap yang menular memungkinkan untuk mengukur respon empati yang murni menjadi perilaku, dan dengan demikian dapat diterapkan lebih luas lagi,” tulis Campbell. “Siapa pun yang ingin meningkatkan empati manusia terhadap orang luar harus mempertimbangkan bahwa teknik pada efek ini dapat diuji pada simpanse dan hewan lainnya.”

Sumber artikel: Chimpanzees’ Contagious Yawning Evidence of Empathy, Not Just Sleepiness, Study Shows (shared.web.emory.edu)
Kredit: Emory University
Informasi lebih lanjut: Matthew W. Campbell, Frans B. M. de Waal. Ingroup-Outgroup Bias in Contagious Yawning by Chimpanzees Supports Link to Empathy. PLoS ONE, 2011; 6 (4): e18283 DOI: 10.1371/journal.pone.0018283

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.