Diposting Kamis, 7 April 2011 jam 6:25 pm oleh Evy Siscawati

Kemampuan Visual Autis berhasil dijelaskan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 7 April 2011 -


 

Tim ini menerbitkan penemuan mereka dalam jurnal Human Brain Mapping tanggal 4 April  2011.

Bertujuan untuk memahami mengapa individu autis memiliki kemampuan kuat dalam memproses informasi visual, para peneliti mengumpulkan data 15 tahun terakhir yang mencakup bagaimana otak autis bekerja saat menafsirkan wajah, benda dan kata-kata tertulis. Data ini datang dari 26 studi pencitraan otak independen yang melihat total 357 individu autis dan 370 non autis. “Lewat meta analisis ini, kami mampu mengamati kalau autis menunjukkan aktivitas lebih banyak pada daerah temporal dan okkipital dan lebih sedikit aktivitas di korteks frontal daripada non autis. Daerah temporal dan okkipital yang diidentifikasi khusus terlibat dalam mempersepsi dan mengenali pola dan objek. Daerah frontal yang dilaporkan mengandung fungsi kognitif lebih tinggi seperti pembuatan keputusan, kontrol kognitif, perencanaan dan pelaksanaan,” jelas penulis utama Fabienne Samson, yang juga berafiliasi dengan CETEDUM.

“Keterlibatan kuat daerah otak pemproses visual pada autis konsisten dengan kemampuan visual spasial yang diperkaya dalam populasi ini,” kata Samson. Penemuan terbaru menyarankan reorganisasi fungsional umum otak untuk membantu proses persepsi – proses dimana informasi direkam otak. Hal ini memungkinkan individu autis melakukan dengan benar tugas kognitif tingkat tinggi, walau dengan caranya sendiri, yang biasanya memerlukan keterlibatan kuat daerah frontal pada individu biasa. Tugas-tugas ini memerlukan penalaran – seperti misalnya, partisipan penelitian ditanya apakah pernyataan ini benar atau salah, atau mengkategorikan sejumlah benda dalam kelompok-kelompok.

Ini adalah distribusi spasial daerah-daerah yang menunjukkan lebih banyak aktivitas terkait tugas pada autis ketimbang non autis pada tiga domain proses: “wajah”berwarna merah, “objek” hijau dan “kata” biru. (Credit: Credit: Human Brain Mapping, Wiley-Blackwell Inc.)

“Kami mensintesis hasil studi-studi pencitraan syaraf menggunakan stimuli visual dari berbagai belahan dunia. Hasilnya cukup kuat untuk benar walaupun ada keragaman antar desain, sampel dan tugas penelitian, membuat pertimbangan seketika kognisi autis saat ini merupakan model paling valid,” kata Mottron. “Keterlibatan sistem visual yang lebih kuat, apapun tugasnya, menunjukkan konfirmasi fisiologis pertama kalau proses persepsi diperkaya adalah tampilan inti organisasi syaraf populasi ini. Kami sekarang memiliki pernyataan yang sangat kuat mengenai fungsi autis yang dapat menjadi dasar kognitif atas persepsi, belajar, ingatan dan penalaran autis.” Penemuan ini menunjukkan kalau otak autis berhasil beradaptasi lewat realokasi daerah otak ke persepsi visual, dan menawarkan banyak garis pemikiran baru dengan mempertimbangkan plastisitas otak berkembang dan keahlian visual pada autis.

Dr. Isabelle Soulières dari CETEDUM dan Neural Systems Group di Massachusetts General Hospital (NSGMGH) dan Dr.Thomas Zeffiro dari NSGMGH, juga ikut serta dalam penelitian ini. CETEDUM bermarkas di University of Montreal berafiliasi dengan Rivière-des-Prairies Hospital dan merupakan bagian dari Fernand-Seguin Research Centre. Ia secara resmi dikenal sebagai Centre d’Excellence en Troubles Envahissants du Développement de l’Université de Montréal. Penelitian ini didanai sebagian oleh Autism Speaks, Natural Sciences and Engineering Research Council of Canada, Canadian Institutes for Health Research dan Fonds de la Recherche en Santé du Québec.

Sumber berita

University of Montreal

Referensi jurnal:

Fabienne Samson, Laurent Mottron, Isabelle Soulières, Thomas A. Zeffiro. Enhanced visual functioning in autism: An ALE meta-analysis. Human Brain Mapping, 2011; DOI: 10.1002/hbm.21307

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.