Diposting Kamis, 7 April 2011 jam 6:20 pm oleh Evy Siscawati

Fosil Terbaik Buttercup Purba

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 7 April 2011 -


 

“Fosil ini membuka cara baru memikirkan evolusi sebagian tanaman berbunga pertama,” kata ahli biologi Universitas Indiana Bloomington, David Dilcher, salah seorang penulis. “Kami juga mulai memahami kalau radiasi eksplosif semua tanaman berbunga sekitar 111 juta tahun lalu memiliki sejarah yang panjang yang bermula dengan diversifikasi lambat banyak famili eudikot pada mungkin 10 atau 15 juta tahun lebih awal.”

Dilcher dan koleganya dari China, Ge Sun dan Hongshan Wang (Shenyang Normal University) serta Zhiduan Chen (Chinese Academy of Sciences) menamakan fosil tanaman ini Leefructus mirus untuk menghargai Li Shiming, anggota masyarakat awam yang menyumbangkan fosil tersebut ke museum paleontologi baru Ge Sun di Provinsi Liaoning, China. Ge Sun adalah penyelidik utama proyek ini.

Fosil ini menunjukkan bagian tanaman dewasa yang ada di atas tanah. Satu batang berujung pada lima daun, dan satu lagi berujung pada sebuah bunga yang berkembang baik. Keseluruhan fosil tingginya sekitar 16 cm. Dedaunan ditopang oleh nadi bercabang dan bunga kecil berbentuk mangkok memiliki lima petal.

“Saya rasa Leefructus memiliki bunga menarik untuk memancing penyerbuk berkunjung,” kata Dilcher, ketika diminta berspekulasi. “Tidak ada lebah di masa itu, jadi saya rasa lalat, kumbang atau tipe ngengat purba atau lalat kalajengking yang terlibat dalam penyerbukannya. Leefructus ditemukan di lantai abu vulkanis di sebuah danau purba. Saya rasa ia hidup di tepi danau, mungkin di daerah basah atau bersemak kurang lebih sama seperti buttercup masa kini.”

Analisa ilmuan pada tanaman ini membawa mereka pada keyakinan kalau Leefructus harus diletakkan dalam Ranunculaceae, famili eudikot lama yang mencakup buttercup dan tanaman crowroot.

“Ketika kami melihat hubungan pencabangan pohon dari kelompok ini, Ranunculaceae adalah yang paling sesuai dibandingkan famili lainnya,” kata Dilcher. “Sebagai hasilnya, kami yakin kalau pada 122 hingga 124 juta tahun lalu, beberapa famili tanaman berbunga telah mulai memecah. Seberapa tua eudikot sendiri kami belum tahu, namun fosil ini menyarankan kalau asal usul mereka jelas lebih tua yaitu di masa Kapur (Kretasius), mungkin bahkan zaman Yura (Jurassic).”

Profusi spesies tanaman berbunga di paruh kedua Era Mesozoikum, zaman dinosaurus, akhirnya membawa dominasi bunga dari tanaman lain di Bumi kecuali pada iklim ganas. Biolog evolusi yakin diversifikasi tanaman bunga juga mendukung radiasi sejumlah besar spesies hewan, khususnya penyerbuk dan pemakan biji, dari kumbang dan lebah hingga kolibri dan kelelawar.

Hingga kini, sebagian besar informasi fosil mengenai eudikot purba datang dari fosil serbuk sari, spermanya tanaman. Walaupun ukuran serbuk sari kecil, serbuk sari memberikan informasi penting bagi paleontologi. Namun serbuk hanya bisa memberitahu ilmuan segitu saja.

Apa yang kita tahu mengenai eudikot purba datang dari beberapa fosil serbuk sari dari lepas pantai Afrika Barat dan endapan Kapur bawah di Inggris selatan sekitar 127 juta tahun lalu,” kata Dilcher. “Kita dapat belajar banyak dari serbuk sari, namun fosil Leefructus menunjukkan kita kalau tidak ada pengganti bagi megafosil bila kita ingin memahami evolusi tanaman berbunga purba.”

Usia fosil Leefructus ditentukan dengan menganalisa usia batuan sekitarnya dengan metode pengukuran Argon 40/39 dan Uranium-Timbal.

Penelitian ini didukung oleh dana dari Kementrian Pendidikan China, Proyek 111, Yayasan Sains Alam China, dan Universitas Normal Shenyang.

Sumber berita :

Indiana University

Referensi jurnal:

Ge Sun, David L. Dilcher, Hongshan Wang, Zhiduan Chen. A eudicot from the Early Cretaceous of China. Nature, 2011; 471 (7340): 625 DOI: 10.1038/nature09811

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.