Diposting Selasa, 5 April 2011 jam 8:12 pm oleh Evy Siscawati

Menggunakan Bahan Bakar Nabati

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 5 April 2011 -


 

Pejabatpun meminta agar penggunaan bahan bakar nabati diperluas karena jika tidak akan merusak nasib tenaga kerja, mengganggu lingkungan, memperlemah industri bahan bakar terbarukan dan meningkatkan ketergantungan pada minyak bumi.

Tapi fakta yang ada justru kebalikannya. Penggunaan bahan bakar nabati justru meningkatkan harga makanan. Begini, etanol itu diambil dari jagung, beras, dan tanaman yang bisa dimakan. Produksinya sangat tergantung lahan. Laju penanaman jagung untuk bahan bakar nabati lebih lambat daripada kebutuhan. Petani sekarang punya dua pilihan: menjual jagungnya pada pabrik makanan untuk jadi bahan pangan, atau pada pabrik bahan bakar untuk menjadikannya bahan bakar nabati. Hasilnya, harga jagung meningkat seiring langkanya jagung di pasaran. Bersama dengan sumber bahan bakar nabati lainnya, ada peningkatan kemiskinan ekstrim di dunia sebesar 44 juta orang di negara miskin dan berkembang, ketika kampanye konversi bahan bakar nabati diberlakukan di negara maju.

Tapi setidaknya lingkungan kita selamat. Salah. Menurut Simon Donner dari Universitas British Columbia, penelitian menunjukkan kalau jagung, salah satu tanaman sumber bahan bakar nabati terbesar, bertanggung jawab atas penumpukan polusi nitrogen yang menyebabkan adanya zona mati. Zona mati adalah daerah di teluk atau muara sungai yang tidak didiami mahluk hidup karena oksigen demikian sedikitnya. Oksigen ini berkurang karena ganggang. Ganggang ini berkembang biak cepat karena di pupuk juga oleh sampah hasil pupuk jagung dkk. Sampah hasil pupuk ini mengalir dari sungai dan pada gilirannya datang dari pertanian jagung dkk. Jadi, semakin kita banyak menanam jagung, semakin besar zona mati di muara sungai, belum lagi tanaman yang habis karena perluasan lahan.

Sodok kang

Satu pabrik etanol biasa memproduksi 50 juta galon bahan bakar nabati setahun dan memerlukan sekitar 500 galon air per menit. Sebagian besar air ini untuk proses perebusan dan pendinginan, yang sama dengan membuat bir. Sebagian air lenyap lewat penguapan di menara pendingin dan pelepasan limbah. Hal ini menjadi beban berat bagi kehidupan air di daerah sekitar ladang jagung, dan sekali lagi menurunkan keanekaragaman hayati.

Tapi paling nggak ia meningkatkan efisiensi kendaraan kan? Nggak sama sekali. Menambahkan etanol kedalam bensin (coba cek namanya di SPBU, jenis bensin yang mahal itu loh), membuat mobil justru tidak efisien energi. Ia memerlukan sekitar 30 persen lebih banyak energi daripada mobil berbahan bakar bensin. Dengan kata lain, bukan hanya ia gagal mengurangi konsumsi energi, ia justru meningkatkannya.

Ada alternatif bahan bakar nabati yang lebih ramah lingkungan seperti biodisel dari ganggang atau etanol selulosa, namun inovasi sains ini tertekan oleh masalah politik.

 

Referensi populer

  1. Bryce, R. July 19, 2005. The Ethanol Subsidy is worse than you can imagine.
  2. Cracked.com. 2011. 6 Socially Conscious Actions That Only Look Like They Help
  3. Economist. February 28th, 2008. New Reasons to be Suspicious of Ethanol.
  4. German, B. 12/01/10. Midwestern Senators counter colleagues’ bid to kill expiring ethanol tax break
  5. Hufftington Post. 03/11/03. Rising Food Prices Intensify Poverty, Hunger in U.S and World.
  6. Pica, E. November 15, 2010. Time to Stop Subsidizing Ethanol. Hufftington Post.
  7. Thompson, A. 3/18/2008. Study: Corn Ethanol will Worsen ‘Dead Zone’ LiveScience

 

Referensi Ilmiah

Simon D. Donner, Christopher J. Kucharik. Corn-based ethanol production compromises goal of reducing nitrogen export by the Mississippi River. PNAS March 18, 2008 vol. 105 no. 11 4513-4518

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.