Diposting Senin, 4 April 2011 jam 7:38 pm oleh Evy Siscawati

Mungkinkah Mengurangi Jarak Makanan bisa Lebih Buruk bagi Bumi?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 4 April 2011 -


Masalah emisi gas rumah kaca itu ada baik dalam proses produksi, distribusi maupun konsumsi. Dengan gerakan mengurangi jarak makanan, emisi GRK dari proses distribusi dapat dikurangi dan berarti memperlambat pemanasan global.

Masalahnya, gerakan ini menambah miskin orang miskin, dan menambah kaya orang kaya. Banyak organisasi berorientasi pembangunan berpendapat kalau kampanye pengurangan jarak makanan akan berpengaruh serius pada negara miskin. Di sejumlah negara, seperti Burundi, Ghana, Malawi, Nikaragua dan Panama, ekspor makanan menyusun lebih dari 75% ekspor barang mereka. Bagaimana jadinya bila negara maju tidak lagi mau mengimpor makanan mereka jika demi menyelamatkan Bumi, mereka tega membunuh rakyat miskin?

Pihak yang mendukung kampanye pengurangan jarak makanan berpendapat kalau dengan mengimpor dari negara miskin, negara maju mendukung pekerja anak dan penggunaan pestisida berbahaya. Makanan yang dikirim dengan kapal bermutu rendah. Makanan ini dibuat agar mudah dikapalkan sehingga mutunya menurun karena dipetik ketika belum masak (diperam dalam perjalanan), memberinya suhu ekstrim dan menjualnya di supermarket dimana ia akan diam disana berminggu-minggu sebelum dibeli orang.

Solusinya, menurut pihak yang netral, adalah mengirim bahan makanan lewat udara. Lebih cepat dan berarti mutunya tetap lebih baik, tanpa harus mengorbankan masyarakat dunia ketiga. Tapi bahkan sekarang pun, hanya 3-4 persen makanan impor yang dijual di supermarket Inggris didatangkan lewat udara. Biayanya terlalu mahal.

 

Makan tuh sampah

Sebenarnya, faktanya adalah para penentang kampanye memperpendek jarak makan yang benar. Buktinya datang dari perhitungan matematis, bukan sosial, politik atau apalah. Kurang dari 10% saja emisi GRK ekonomi makanan yang datang dari proses distribusi, sisanya yang lebih dari 90% berasal dari proses produksi. Orang tidak bisa menolak makan coklat yang hanya ditanam di Afrika. Mereka ingin coklat. Akibatnya, masyarakat setempat harus menanam coklat. Tapi menanam coklat di negara maju sangat sulit. Ia perlu teknologi canggih untuk mengatasi masalah iklim. Akibatnya, proses pembangunan, penelitian, pengembangan dan pembuatan coklat tiruan ini akan memberi lebih banyak lagi GRK. Itu baru coklat, tambahkan jenis makanan lain dan hasilnya adalah peningkatan GRK lebih tinggi lagi dari yang ingin dikurangi.

Referensi

BBC. Food movement ‘harms environment’

Cracked.com 6 Socially Conscious Actions That Only Look Like They Help

Elliot, V. January 20, 2007. Air-freighted food to be given a warning label. The Times

Elsayed, S. 2009-02-06. Can Counting Food Miles do More Harm Than Good?

NewYorker.com Big Foot: In measuring carbon emissions, it’s easy to confuse morality and science
Webster, B. January 27, 2009. Organic lobby anger as Soil Association backs food by air. The Times.
WiseGeek.com. What is a 100 Mile Diet?

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.