Diposting Senin, 4 April 2011 jam 7:20 pm oleh Evy Siscawati

Manfaat Ekonomi Kelelawar dalam Jangkauan ‘Miliaran per Tahun’

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 4 April 2011 -


 

Temuan McCracken diterbitkan dalam jurnal Science edisi April. McCracken melakukan studinya bersama Justin Boyles dari Universitas Pretoria di Afrika Selatan, Paul Cryan dari Survey Geologi AS dan Thomas Kunz dari Universitas Boston.

Sejak 2006, lebih dari sejuta kelelawar mati karena penyakit jamur bernama Sindrom Hidung Putih (WNS). Di saat yang sama, beberapa spesies yang tinggal di pohon bersifat migrasi terbunuh dalam jumlah tak terduga oleh turbin angin. Hal ini menyakiti ekonomi karena makanan kelelawar yaitu serangga hama mengurangi kerusakan yang disebabkan serangga tersebut pada pertanian dan mengurangi kebutuhan pestisida.

Faktanya, para peneliti memperkirakan nilai kelelawar pada industri pertanian sekitar $22,9 miliar per tahun, dengan jangkauan ekstrim dari $3,7 hingga $53 miliar per tahun.

“Perkiraan ini mencakup berkurangnya biaya pemberian pestisida yang tidak dibutuhkan untuk menghilangkan serangga yang dikonsumsi oleh kelelawar. Walau begitu, mereka tidak memasukkan pengaruh turunan pestisida pada manusia, hewan ternak dan liar serta lingkungan,” kata McCracken. “Tanpa kelelawar, hasil pertanian akan terpengaruh. Pemberian pestisida naik. Bahkan bila perkiraan kami dipotong jadi seperempat, hasilnya tetap jelas menunjukkan bagaimana potensi besar kelelawar dalam mempengaruhi ekonomi pertanian dan kehutanan.”

Menurut para peneliti, satu koloni berisi 150 kelelawar coklat besar di Indiana makan hampir 1,3 juta serangga per tahun – serangga yang mampu merusak pertanian.

WNS menginfeksi kulit kelelawar saat mereka berhibernasi. Beberapa spesies seperti kelelawar coklat putih kemungkinan akan punah di Amerika Utara. Penyakit ini sudah cepat menyebar dari Kanada ke Tennesse, Missouri dan Oklahoma dan tindakan untuk memperlambat atau menghentikannya terbukti tidak berhasil.

Tidak diketahui berapa banyak kelelawar harus mati akibat turbin angin, namun para ilmuan memperkirakan pada tahun 2020, turbin angin akan membunuh 33 ribu hingga 111 ribu ekor per tahun di Dataran Tinggi Mid Atlantik saja. Mengapa spesies migrasi yang tinggal di pohon tertarik ke turbin masih merupakan misteri.

Karena pentingnya secara ekonomi dan ekologi, para peneliti meminta para pembuat kebijakan untuk menghindari pendekatan tunggu dan lihat pada isu penurunan besar-besaran populasi kelelawar.

“Tidak bertindak bukanlah pilihan karena sejarah kehidupan mamalia malam penerbang ini – dicirikan oleh waktu generasi panjang dan laju reproduksi rendah – berarti pemulihan populasi sangat kecil kemungkinannya terjadi dalam puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun, bila memang terjadi,” kata McCracken.

Menurut McCracken, solusinya hanya dapat diberikan beberapa tahun kedepan lewat kesadaran manfaat kelelawar insektivora yang terus bertambah di masyarakat, pembuat kebijakan dan para ilmuan.

Sumber berita:

University of Tennessee at Knoxville,

Referensi ilmiah:

Boyles, J.G., Cryan, P.M., McCracken, G.F., Kunz, T.H. 2011. Economic Importance of Bats in Agriculture. Science, 2011; 332 (6025): 41 DOI: 10.1126/science.1201366

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.