Diposting Senin, 4 April 2011 jam 8:16 pm oleh Evy Siscawati

Jadi Relawan ke Negara Lain

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 4 April 2011 -


 

Kamu memutuskan untuk berwisata ke Angkor Wat di Kamboja. Jam 10 malam, kamu masih jalan-jalan bersama wisatawan lainnya. Kamu masuk ke restoran khas Khmer, disana ada beberapa anak memainkan alat musik tradisional, dipimpin para pria yang membawa plakard bertuliskan : Berilah sumbangan pada anak yatim. Anak-anak itu tersenyum manis pada para hadirin dan orang yang memberikan sumbangan diundang ke rumah yatim mereka dan diharapkan menghabiskan waktu untuk bekerja di sana.

Kamu mungkin membantu jika kamu datang sendirian, tapi tidak bagi sebagian besar wisatawan yang memang berniat membantu. Mereka berkumpul dalam LSM peduli korban gempa Haiti, anak yatim Kamboja, korban perang Afghanistan dsb. Mereka mengumpulkan sumbangan besar dari masyarakat lalu mengirim para relawannya ke negara-negara tersebut, jadi pasti uangnya memang digunakan untuk kepentingan orang menderita bukan? Dokumenter Radio 4 BBC yang kritis mengungkapkan realita sesungguhnya. Dana tersebut sebagian besar habis termakan oleh anggota LSM itu sendiri. Anggaran untuk mengirim relawan ke Haiti atau negara-negara miskin itu sangat besar, dan ketika mereka sampai, uangnya kemungkinan sudah habis. Tentu bila menggunakan dana pribadi LSM tersebut, mereka tidak akan mau. Uang itu dari sumbangan. Dengan kata lain, jika anda menyumbang 1 juta untuk menyelamatkan korban gempa di Jepang, 900 ribunya sebenarnya untuk transportasi, makan, dan futu-futu para relawan yang dikirim kesana. Mereka lebih pantas disebut wisatawan. Dan hasilnya, lokasi gempa lebih mirip objek wisata. Memang mereka begitu tiba disana langsung membantu, tapi tetap mereka butuh makan kan?

Bahkan seandainya anda wisatawan yang datang dengan dana sendiri untuk mengecat sekolah di pedesaan terpencil di Thailand, anda tetap sedikit sekali membantu rakyat sekitar. Anda menyelesaikannya dengan buru-buru, dengan cat mahal yang diberi dari kota seharga 2 juta (termasuk ongkos transportasi, penginapan dan sebagainya). Uang 2 juta bagi penduduk kampung sangat besar artinya, itu bisa buat pendidikan, menyewa guru dan banyak hal daripada semata mengecat dinding sekolah dengan keahlian yang lebih buruk dari tukang cat.

Volunturisme lebih cocok bertujuan membuat wisatawan merasa berbuat baik ketimbang membuat rakyat mendapat kebaikan wisman. Tricia Barnett, direktur Peduli Pariwisata Inggris, mengatakan “bagaimana bisa kamu membantu anak di rumah yatim, jika bahkan berkomunikasi dengan bahasa mereka saja kamu tidak bisa? Apalagi kamu hanya tinggal di sana dalam waktu singkat, waktu yang tidak cukup untuk membangun hubungan yang bermakna?” Jadi apa manfaatnya bagi anak yatim?

Hampir tidak ada manfaat yang diperoleh orang miskin di lokasi yang didatangi volunturisme. Seringkali malah mereka lebih sengsara. Volunturisme umumnya terdiri dari para pelancong biasa yang tidak berpengalaman. Bagi orang kampung, mereka berharap yang datang adalah para ahli yang memang lebih hebat dari yang bisa disediakan negaranya, pada kenyataannya, yang datang adalah para alay, yang ngecat tidak benar, salah nyuntik, salah ngasi obat, tidak pandai mengajar bahasa Inggris, membuat bangunan yang mendadak roboh, dan salah memberikan uang pada para oportunis. Sedihnya, bagi para turis relawan ini, mereka pulang membawa potret yang dipamerkan pada teman-temannya. “Lihat nih, gue ngebantu korban HIV, yang ini gue bersama anak-anak jalanan, yang ini gue bergembira bersama anak yatim, yang ini gue ngajar siswa afrika di kelas, nah, nah ini yang paling mengharukan, beberapa saat sebelum orang ini meninggal, gue lo yang ngebantu doktermya mengisi jarum suntik dengan obat, uh, umm, gue rasa obat anti hepatitis, eh, gue gak terlalu ngerti, jadi gue ambil aja botol obatnya. Kesian ya.”

Alamak!

 

Referensi

Birrel, I. 14 November 2010. Before you pay to volunteer abroad, think of the harm you might do. The Observer
Cracked.com. 6 Socially Conscious Actions That Only Look Like They Help
Fitzpatrick, L. Jul. 26, 2007. Vacationing like Brangelina. Time.
Hanafin, W. February 20 2011. Gap-year messiahs. Life.
Papi, D. February 25, 2010. What could go wrong when trying to do right?

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.