Diposting Senin, 4 April 2011 jam 8:38 pm oleh Evy Siscawati

Astronom Mengintip kedalam Bintang Raksasa Merah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 4 April 2011 -


 

“Tidak ada yang mengantisipasi melihat hal ini saat misi diluncurkan,” kata Steve Kawaler, profesor fisika dan astronomi Iowa State University dan pemimpin Kepler Asteroseismic Investigation. “Tak terduga kalau kami dapat melihat begitu jelasnya ke bawah permukaan bintang raksasa merah.”

Penemuan awal para astronom diterbitkan dalam dua makalah, satu dalam jurnal Science dan satunya lagi Nature. Kedua makalah menjelaskan bagaimana Kepler melacak perubahan beraturan kecil dalam kecemerlangan bintang. Keteraturannya mewakili tepukan tetap pada berbagai irama yang pasti. Tiap irama dapat dipandang sebagai sebuah gigi sisir. Astronom telah mempelajari ayunan tersebut dari teleskop berbasis bumi untuk menentukan dasar-dasar bintang seperti massa dan radius. Namun mereka menyadari perubahan dari pola tetap dalam data Kepler – “ketombe di sisir,” kata Kawaler.

Pola lain ini disebabkan oleh ayunan moda gravitasi. Dan gelombang tersebut memungkinkan peneliti menjelajahi inti bintang. Hasilnya, menurut makalah Science, adalah informasi mengenai kepadatan dan kimia jauh di dalam bintang.

Ini adalah zoom citra dalam bagian kecil pandangan pesawat Kepler. Ia menunjukkan ratusan bintang dalam rasi bintang Lyra. Bintang terterang terlihat putih dan bintang yang redup berwarna merah. (Credit: NASA/Ames/JPL-Caltech)

Dan, menurut makalah Nature, data juga menunjukkan para peneliti apakah bintang raksasa merah membakar hidrogen dalam cangkang yang mengelilingi bintangnya atau apakah ia telah berevolusi pada usia dimana ia membakar helium di intinya. Itu yang belum dapat dilakukan astronom sebelum Kepler.

“Bintang mulai membakar helium di intinya dengan diawali oleh kilatan helium,” kata Kawaler. “Transformasi dari bintang yang membakar selubung hidrogen ini misterius. Kami rasa ia terjadi dengan cepat dan mungkin dalam bentuk ledakan. Sekarang kami dapat mengetahui mana bintang yang sudah melakukan itu dan mana yang akan.”

Informasi tersebut akan membantu astronom memahami lebih baik siklus hidup bintang raksasa merah. Matahari kita akan berevolusi menjadi raksasa merah dalam sekitar 5 miliar tahun.

Kepler diluncurkan 6 Maret 2009 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral di Florida. Pesawat ini mengorbit matahari sambil membawa fotometer, atau pengukur cahaya, untuk mengukur perubahan kecemerlangan bintang. Fotometer ini disertai sebuah teleskop berdiameter 37 inci yang terhubung dengan kamera CCD 95 Megapixel. Instrumen ini secara berkelanjutan diarahkan ke daerah Cygnus-Lyra di galaksi Bima Sakti. Tugas utamanya adalah menggunakan variasi kecil kecemerlangan bintang-bintang dalam pandangannya untuk mencari planet mirip bumi yang mungkin dapat menopang kehidupan.

Kepler Asteroseismic Investigation juga menggunakan data dari fotometer tersebut untuk mempelajari bintang. Penyelidikan ini dipimpin oleh empat anggota komite: Kawaler, Chair Ron Gilliland dari Lembaga Ilmu Teleskop Antariksa di Baltimore, Jorgen Christensen-Dalsgaard dan Hans Kjeldsen, keduanya dari Universitas Aarhus di Aarhus, Denmark.

Kepler, kata Kawaler, adalah alat revolusioner untuk mempelajari dan memahami bintang. Ini seperti memiliki instrumen yang serentak mempelajari gelombang untuk petunjuk permukaan samudera dan mendengarkan di bawah permukaan tersebut untuk mengetahui kedalaman samudera.

“Namun jika kamu mendengar dengan sangat hati-hati,” kata Kawaler. “Dan kamu harus memiliki alat yang cukup sensitif untuk melihat dan mendengar sekaligus.”

Sumber berita:

Iowa State University.

Referensi Ilmiah:

1.      P. G. Beck, T. R. Bedding, B. Mosser, D. Stello, R. A. Garcia, T. Kallinger, S. Hekker, Y. Elsworth, S. Frandsen, F. Carrier, J. De Ridder, C. Aerts, T. R. White, D. Huber, M.- A. Dupret, J. Montalban, A. Miglio, A. Noels, W. J. Chaplin, H. Kjeldsen, J. Christensen-Dalsgaard, R. L. Gilliland, T. M. Brown, S. D. Kawaler, S. Mathur, J. M. Jenkins. Kepler-Detected Gravity-Mode Period Spacings in a Red Giant Star. Science, 2011; DOI: 10.1126/science.1201939

2.      Timothy R. Bedding, Benoit Mosser, Daniel Huber, Josefina Montalbán, Paul Beck, Jørgen Christensen-Dalsgaard, Yvonne P. Elsworth, Rafael A. García, Andrea Miglio, Dennis Stello, Timothy R. White, Joris De Ridder, Saskia Hekker, Conny Aerts, Caroline Barban, Kevin Belkacem, Anne-Marie Broomhall, Timothy M. Brown, Derek L. Buzasi, Fabien Carrier, William J. Chaplin, Maria Pia Di Mauro, Marc-Antoine Dupret, Søren Frandsen, Ronald L. Gilliland, Marie-Jo Goupil, Jon M. Jenkins, Thomas Kallinger, Steven Kawaler, Hans Kjeldsen, Savita Mathur, Arlette Noels, Victor Silva Aguirre, Paolo Ventura. Gravity modes as a way to distinguish between hydrogen- and helium-burning red giant stars. Nature, 2011; 471 (7340): 608 DOI: 10.1038/nature09935

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.