Diposting Jumat, 1 April 2011 jam 8:57 pm oleh Evy Siscawati

Pengetahuan Terbaru kita Tentang Dinosaurus: Part II

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 1 April 2011 -


 

Ilmu pengetahuan terus berkembang. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak fosil ditemukan dan pemahaman kita tentang dinosaurus semakin bertambah baik. Gambaran lama ditinggalkan diganti dengan yang baru. Umumnya gambaran lama dinosaurus ditunjukkan polos dan bersisik. Sekarang hampir semua citra dinosaurus memiliki kulit yang berwarna sebagai penanda spesies, seperti halnya burung. Selain itu, sebagian spesies dinosaurus (terutama yang kecil) sekarang terbukti berbulu seperti burung. Ini merupakan bukti kalau dinosaurus adalah spesies transisi antara reptil dan burung.

Diplodocus


Gambaran lama Diplodocus 1920. Kakinya mengangkang, leher vertikal, ekor lemas, kulit mulus.


Gambaran baru Diplodocus. Kaki lebih dekat, leher 45 derajat, ekor horizontal, kulit bercorak.

Diplodocus sering ditampilkan dengan leher yang tinggi di udara yang memungkinkan mereka mengambil makanan dari pohon yang tinggi, seperti jerapah. Studi dengan model komputer menunjukkan posisi netral leher ini adalah horizontal bukannya vertikal dan ilmuan seperti Kent Stephens berpendapat kalau sauropoda seperti Diplodocus tidak mengangkat kepala mereka lebih tinggi dari bahunya. Tapi studi lebih jauh menunjukkan kalau semua tetrapoda (hewan darat berkaki empat) tampak menjaga leher mereka se-vertikal mungkin saat dalam posisi normal, siaga dan berpendapat kalau hal yang sama juga berlaku pada sauropoda walaupun kita tidak punya bukti anatomi jaringan lunak di leher. Salah satu model sauropoda dalam studi ini adalah Diplodocus, yang mereka temukan menahan lehernya pada sudut 45 derajat dengan kepala menghadap ke bawah dalam postur istirahat.

Kerangka Diplodocus carnegie

Seperti kerabatnya dari genus Barosaurus, leher Diplodocus yang sangat panjang menjadi kontroversi bagi para ilmuan. Studi Universitas Columbia tahun 1992 pada struktur leher Diplodocus menunjukkan kalau leher yang terpanjang akan memerlukan jantung seberat 1,6 ton – sepersepuluh berat badan hewan ini. Studi tersebut mengajukan kalau hewan seperti ini mestinya memiliki semacam jantung pemercepat di lehernya yang tujuannya memompa darah ke jantung selanjutnya.

Diplodocus memiliki ekor yang sangat panjang, terdiri dari sekitar 80 vertebrae kaudal yang hampir dua kali jumlah sauropoda sebelum zamannya, seperti Shunosaurus yang hanya punya 43 dan jauh lebih banyak lagi dari makronaria seperti Camarosaurus yang memiliki 53 ruas. Ada spekulasi mengenai apakah ia memiliki fungsi pertahanan atau pembuat gaduh (dengan menghentakkannya seperti cambuk). Tapi yang jelas, ekor ini berfungsi sebagai penyeimbang lehernya. Bagian tengah ekor memiliki penyangga ganda. Tulang ini berfungsi sebagai pendukung vertebrae atau mungkin mencegah pembuluh darah tertindih bila ekor hewan ini menekan tanah. Penyangga ganda ini juga terlihat pada dinosaurus sejenisnya.

Predator besar seperti Allosaurus dan Ceratosaurus ditemukan dalam strata yang sama dengan Diplodocus, yang artinya mereka hidup di zaman yang sama dengan Diplodocus. Ukurannya yang besar sudah cukup menakutkan bagi kedua predator ini.

Jadi fungsi ekor sebagai alat pertahanan masih merupakan spekulasi yang berarti belum memiliki bukti sehingga bukan hal umum dikalangan ilmuan. Predator tidak berani menyerangnya karena ukuran tubuh yang besar sudah cukup menyeramkan bagi mereka.

Referensi ilmiah :

  1. Holland WJ. 1915. “Heads and Tails: a few notes relating to the structure of sauropod dinosaurs.”. Annals of the Carnegie Museum 9: 273–278.
  2. Lambert D. (1993)The Ultimate Dinosaur Book
  3. Myhrvold NP and Currie PJ. 1997. “Supersonic sauropods? Tail dynamics in the diplodocids”. Paleobiology 23: 393–409.
  4. Stevens KA, Parrish JM (2005). “Neck Posture, Dentition and Feeding Strategies in Jurassic Sauropod Dinosaurs”. In Carpenter, Kenneth and Tidswell, Virginia (ed.). Thunder Lizards: The Sauropodomorph Dinosaurs. Indiana University Press. pp. 212–232.
  5. Taylor, M.P., Wedel, M.J., and Naish, D. (2009). “Head and neck posture in sauropod dinosaurs inferred from extant animals”. Acta Palaeontologica Polonica 54 (2), 2009: 213-220
  6. Upchurch, P, et al. (2000). “Neck Posture of Sauropod Dinosaurs”. Science 287, 547b (2000); DOI: 10.1126/science.287.5453.547b.
  7. Wilson JA. 2005. “Overview of Sauropod Phylogeny and Evolution”. In Rogers KA & Wilson JA(eds). The Sauropods:Evolution and Paleobiology. Indiana University Press. pp. 15–49.

Compsognathus


Gambaran umum ilmuan mengenai Compsognathus yang bersisik

Gambaran minoritas ilmuan, Compsognathus berbulu purba

Lebih dikenal sebagai compy dari film Jurassic Park II. Mereka pada dasarnya adalah satu-satunya dinosaurus dari film tersebut yang tidak kita pandang sebagai ancaman sama sekali.

Fosil Compy yang ditemukan di Bavaria Jerman

Selama hampir seabad, Compsognathus adalah satu-satunya teropoda kecil yang dipahami baik. Hal ini membawa pada perbandingan dengan Archaeopteryx dan menyarankan adanya hubungan dengan burung. Faktanya, Compsognathus, bukannya Archaeopteryx, yang memicu minat Huxley pada asal usul burung. Kedua hewan ini memiliki banyak kemiripan baik dalam bentuk, ukuran maupun proporsi, begitu banyak sehingga kerangka Archaeopteryx yang tidak berbulu selama bertahun-tahun salah diduga sebagai kerangka Compsognathus. Banyak dinosaurus lainnya, termasuk Deinonychus, Oviraptor dan Segnosaurus, sekarang telah diketahui lebih dekat hubungannya dengan burung ketimbang Compsognathus.

Ilustrasi ilmuan pada fosil compy

Beberapa kerabat Compsognathus, yaitu Sinosauropteryx dan Sinocalliopteryx, telah terlestarikan dengan sisa-sisa bulu sederhana yang menutupi tubuh seperti rambut, sehingga membuat sebagian ilmuan menyarankan kalau Compsognathus mungkin berbulu pula. Karenanya, banyak gambaran Compsognathus menunjukkan kalau ia ditutupi sejenis bulu purba. Walau begitu, tidak ada penutup tubuh bulu atau mirip bulu yang ditemukan pada fosil Compsognathus, berbeda dengan Archaeopteryx, yang ditemukan dalam endapan yang sama. Karin Peyer, tahun 2006, melaporkan cetakan kulit ynag terlestarikan di ekor mulai dari vertebra ekor ke 13. Cetakan ini menunjukkan tonjolan tuberkel kecil sama dengan sisik yang ditemukan pada ekor dan kaki belakang Juravenator. Sisik tambahan sebelumnya sudah dilaporkan oleh Von Huene, di daerah perut Compsognathus jerman, namun Ostrom berhasil menyanggah penafsiran ini.

Model Kepala Compy

Seperti Compsognathus, dan tidak seperti Sinosauropteryx, jejak kulit fosil ditemukan di ekor dan kaki belakang Juravenator menunjukkan terutama ditutupi sisik, walau ada indikasi bulu sederhana juga ada di beberapa daerah. Ini berarti kalau penutup bulu tidaklah jelas dalam kelompok dinosaurus ini.

Jadi, memang bisa jadi Compsognathus berbulu seperti burung, namun bulunya sangat sedikit dan tubuhnya lebih banyak tertutup sisik.

Referensi ilmiah

  1. Currie, P.J.; P. Chen (2001). “Anatomy of Sinosauropteryx prima from Liaoning, northeastern China”. Canadian Journal of Earth Sciences 38 (12): 1705–1727.
  2. Fastovsky DE, Weishampel DB (2005). “Theropoda I:Nature red in tooth and claw”. In Fastovsky DE, Weishampel DB. The Evolution and Extinction of the Dinosaurs (2nd Edition). Cambridge University Press. pp. 265–299.
  3. Goehlich, U.B.; Tischlinger, H.; Chiappe, L.M. (2006). “Juraventaor starki (Reptilia, Theropoda) ein nuer Raubdinosaurier aus dem Oberjura der Suedlichen Frankenalb (Sueddeutschland): Skelettanatomie und Wiechteilbefunde”. Archaeopteryx 24: 1–26.
  4. Ji, S.; Ji, Q.; Lu, J.; Yuan, C. (2007). “A new giant compsognathid dinosaur with long filamentous integuments from Lower Cretaceous of Northeastern China”. Acta Geologica Sinica 81 (1): 8–15.
  5. Lambert, David (1993). The Ultimate Dinosaur Book. New York: Dorling Kindersley. pp. 38–81.
  6. Ostrom, J.H. (1978). “The osteology of Compsognathus longipes“. Zitteliana 4: 73–118.
  7. Peyer, K. (2006). “A reconsideration of Compsognathus from the Upper Tithonian of Canjuers, southeastern France”. Journal of Vertebrate Paleontology 26 (4): 879–896.
  8. von Huene, F. (1901). “Der vermuthliche Hautpanzer des “Compsognathus longipes” Wagner”. Neues Jahrbuch für Mineralogie, Geologie and Palaeontologie 1: 157–160.
  9. Xu, Xing (2006). “Palaeontology: Scales, feathers and dinosaurs”. Nature 440 (7082): 287–8.

 

Spinosaurus


Pandangan umum ilmuan terhadap spinosaurus

Spinosaurus mungkin merupakan dinosaurus karnivora terbesar yang diketahui, lebih besar lagi dari Tyrannosaurus rex dan Giganotosaurus. Perkiraan yang diterbitkan tahun 2005 dan 2007 mengatakan kalau panjangnya 12.6 hingga 18 meter dan beratnya 7 hingga 20.9 ton. Tengkorak spinosaurus panjang dan sempit seperti buaya modern. Spinosaurus diduga memakan ikan; bukti menunjukkan kalau ia hidup di darat dan di air seperti buaya modern. Duri khas Spinosaurus, yang merupakan perpanjangan vertebrae, tumbuh sepanjang minimal 1,65 meter dan sepertinya memiliki kulit yang menghubungkannya membentuk struktur mirip layar, walaupun sebagian ilmuan berpendapat kalau sirip ini tertutup lemak dan membentuk punuk. Berbagai fungsi diajukan untuk struktur ini, termasuk termoregulasi dan daya tarik seksual.

Ilmuan Simone Maganuco memegang fosil moncong Spinosaurus

François Therrien dan Donald Henderson, dalam makalahnya tahun 2007 menggunakan penskalaan berbasis panjang tengkorak dan menantang perkiraan ukuran Spinosaurus sebelumnya, dan menemukan panjangnya terlalu besar dan beratnya terlalu kecil. Berdasarkan perkiraan panjang tengkorak 1,5 hingga 1,75 meter, mereka memperkirakan panjang tubuhnya 12,6 hingga 14,3 meter dan massa tubuhnya 12 hingga 20,9 ton. Perkiraan rendah Spinosaurus menunjukkan kalau hewan ini lebih pendek dan ringan daripada Carcharodontosaurus dan Giganotosaurus. Studi Therrien dan Henderson dikritik karena memilih theropoda sebagai perbandingan (contohnya tyrannosaurus dan carnosaurus yang bentuk tubuhnya berbeda dari pada spinosaurus), dan asumsi kalau tengkorak Spinosaurus bisa berukuran 1,5 meter panjangnya. Perbaikan ketelitian perkiraan ukuran Spinosaurus membutuhkan penemuan kerangka yang lebih lengkap seperti yang sudah terjadi pada dinosaurus lainnya, khususnya tulang kaki belakang dan depan Spinosaurus yang tidak diketahui sampai sekarang.

Spinosaurus muncul dalam film Jurassic Park III tahun 2001. Film ini berkonsultasi pada paleontologi John R. Horner yang mengatakan “Bila kita mendasarkan faktor keganasan pada panjang hewan, tidak ada yang pernah hidup di planet ini yang dapat menandingi mahluk ini [Spinosaurus]. Selain itu, hipotesis saya kalau T-rex sesungguhnya hewan pemungut bukannya pembunuh. Spinosaurus sebaliknya, ia predator sejati.” Dalam film ini, Spinosaurus ditunjukkan lebih besar dan lebih kuat dari Tyrannosaurus: dalam adegan pertarungan antara keduanya, Spinosaurus menang dengan menggigit leher tyrannosaurus. Dalam kenyataannya, pertarungan ini tidak akan terjadi, karena Spinosaurus dan Tyrannosaurus terpisah ribuan kilometer (Spinosaurus di Afrika masa kini dan T-rex di Amerika Utara) dan jutaan tahun juga jarak pisahnya (Spinosaurus di era Albian hingga Cenomanian sementara T-rex di era Maastrichtian).

Jadi, benar kalau Spinosaurus yang ditampilkan dalam Jurassic Park lebih mendekati kenyataan daripada Spinosaurus klasik. Tapi masih ada yang kurang, yaitu fosil kaki, yang dapat menggugurkan dugaan ini bila ternyata berbeda.

Referensi berita

  1. Chandler, G. (August 2001). “A bite-size guide to the dinosaurs of the new movie Jurassic Park III”. National Geographic World.
  2. Portman, J. (11 July 2001). “Spinosaurus makes T. Rex look like a pussycat: When it comes to Jurassic Park III, size does matter”. Ottawa Citizen.
  3. Seabrook, J. (1 December 2003). “It came from Hollywood”. The New Yorker: 54?63.

Referensi ilmiah

  1. Bates, K.T.; Manning, P.L.; Hodgetts, D.; and Sellers, W.I.; Sellers, William I. (2009). “Estimating mass properties of dinosaurs using laser imaging and 3D computer modelling”. PLoS ONE 4 (2): e4532.
  2. Dal Sasso, C.; Maganuco, S.; Buffetaut, E.; and Mendez, M.A. (2005). “New information on the skull of the enigmatic theropod Spinosaurus, with remarks on its sizes and affinities”. Journal of Vertebrate Paleontology 25 (4): 888–896.
  3. Harris, J.D. (2007-03-26). “Re: Comments on Therrien and Henderson’s new paper”. Dinosaur Mailing List.
  4. Mortimer, M. (2007-03-25). “Comments on Therrien and Henderson’s new paper”. Dinosaur Mailing List.
  5. Therrien, F.; and Henderson, D.M. (2007). “My theropod is bigger than yours…or not: estimating body size from skull length in theropods”. Journal of Vertebrate Paleontology 27 (1): 108–115.

Psittacosaurus


Penutup tubuh (intergumen) Psittacosaurus diketahui dari sebuah spesimen dari china, yang datang dari formasi Yixian di Laoning. Spesimen ini, yang belum ditentukan spesiesnya, di ekspor secara ilegal dari China, melanggar hukum China, namun dibeli oleh sebuah museum Jerman dan penyusunan dibuat untuk mengembalikan spesimennya ke China.

Sebagian besar tubuh tertutup sisik. Sisik besar tersusun secara tidak menentu dengan sejumlah sisik kecil mengisi ruang di antaranya, sama seperti cetakan kulit dari ceratopsian seperti Chasmosaurus. Walau begitu, sederetan apa yang terlihat sebagai tonjongan tubular bolong, sekitar 16 cm panjangnya, juga terlestarikan, tersusun di barisan permukaan atas (dorsal) ekor. Menurut beberapa ilmuan “saat ini tidak ada bukti meyakinkan yang menunjukkan kalau struktur ini homolong dengan struktur bulu atau bulu purba dinosaurus teropod.” Karena struktur ini hanya ditemukan dalam satu barisan di ekor, kecil kemungkinan kalau gunanya untuk termoregulasi, namun mungkin untuk komunikasi lewat penampilan.

Jadi, keberadaan bulu pada Psittacosaurus masih kontroversial

Referensi ilmiah

Mayr, Gerald, Peters, D. Stephan, Plodowski, Gerhard & Vogel, Olaf. (2002). Bristle-like integumentary structures at the tail of the horned dinosaur Psittacosaurus. Naturwissenschaften 89: 361–365.

Parasaurolophus


Seperti dalam kasus kebanyakan dinosaurus, kerangka Parasaurolophus tidaklah lengkap. Panjang spesimen tipe P. walkeri diduga 9,5 meter. Tengkoraknya sekitar 1,6 meter panjangnya, termasuk jambul, dimana tipe P. tubicen lebih dari 2 meter panjangnya, menunjukkan kalau ia lebih besar. Beratnya diperkirakan 2,7 ton. Hanya ada satu fosil kaki depan yang relatif pendek untuk ukuran hadrosaurid, dengan bilah bahu yang pendek namun lebar. Tulang paha terukur 103 cm panjangnya di P. walkeri dan kekar untuk panjangnya dibandingkan hadrosaurid lainnya. Lengan atas dan tulang pelvis juga kekar.

Banyak ilmuan sebelumnya berfokus pada fungsi jambul untuk adaptasi hidup di air, mengikuti hipotesis kalau hadrosaurid bersifat amfibi, pola pemikiran umum tahun 1960an. Sebagai contoh, Alfred Sherwood Romer berpendapat kalau ia bertindak sebagai pipa napas saat menyelam, Martin Wilfarth menduga ia adalah tempelan untuk belalai yang luwes untuk bernapas atau mengumpulkan makanan, Charles M Stenberg menduga ia sebagai penjebak udara untuk menjaga air dari paru-paru, dan Ned Colbert berpendapat kalau ia menjadi penyimpan udara untuk tinggal di air lebih lama.

Sebagian besar hipotesis ini sudah runtuh. Hipotesis pipa napas runtuh karena didak ada lubang di ujung jambul untuk bernapas. Hipotesis belalai runtuh karena tidak ada bekas otot dan juga karena ia memiliki paruh, sehingga tidak memerlukan belalai. Hipotesis penjebak atau penyimpan udara tidak cukup menyediakan udara untuk tubuh sebesar Parasaurolophus.

Hipotesis terbaru yang diajukan ilmuan mengenai fungsi jambul Parasaurolophus adalah fungsi sosial, fungsi suara dan fungsi pendingin. Hipotesis sosial mengatakan bahwa jambul ini berguna untuk pengenalan dan daya tarik seksual. Hipotesis suara mengatakan kalau jambul berguna sebagai alat suara selain mulut. Model komputer dari spesimen P. tubicen, yang memiliki saluran udara lebih kompleks dari P. walkeri, memungkinkan rekonstruksi suara yang dihasilkan dari jambulnya. Jalur utama beresonansi 30 Hz, namun anatomi sinus yang rumit menyebabkan puncak dan lembah dalam gelombang suaranya. Peneliti lain menambahkan fungsi termoregulasi dari jambul Parasaurolophus yang berarti ia menjadi pengatur suhu bagi hewan ini. Ketiga hipotesis inilah yang masih bertahan hingga sekarang.

Jadi, tidak ada perubahan bentuk penampilan  parasaurolophus kecuali mungkin pewarnaan pada jambul. Yang diperdebatkan adalah apa guna jambul hewan ini.

Referensi berita :

Sandia National Laboratories (1997-12-05). “Scientists Use Digital Paleontology to Produce Voice of Parasaurolophus Dinosaur”.

Referensi ilmiah:

  1. Brett-Surman, Michael K.; and Wagner, Jonathan R. (2006). “Appendicular anatomy in Campanian and Maastrichtian North American hadrosaurids”. In Carpenter, Kenneth (ed.). Horns and Beaks: Ceratopsian and Ornithopod Dinosaurs. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press. pp. 135–169.
  2. Colbert, Edwin H. (1945). The Dinosaur Book: The Ruling Reptiles and their Relatives. New York: American Museum of Natural History, Man and Nature Publications, 14. p. 156.
  3. Diegert, Carl F.; and Williamson, Thomas E. (1998). “A digital acoustic model of the lambeosaurine hadrosaur Parasaurolophus tubicen“. Journal of Vertebrate Paleontology 18 (3, Suppl.): 38A
  4. Glut, Donald F. (1997). “Parasaurolophus”. Dinosaurs: The Encyclopedia. Jefferson, North Carolina: McFarland & Co. pp. 678–684.
  5. Lull, Richard Swann; and Wright, Nelda E. (1942). Hadrosaurian Dinosaurs of North America. Geological Society of America Special Paper 40. Geological Society of America. p. 229.
  6. Romer, Alfred Sherwood (1933). Vertebrate Paleontology. University of Chicago Press. p. 491.
  7. Sternberg, Charles M. (1935). “Hooded hadrosaurs of the Belly River Series of the Upper Cretaceous”. Canada Department of Mines Bulletin (Geological Series) 77 (52): 1–37.
  8. Wilfarth, Martin (1947). “Russeltragende Dinosaurier” (in German). Orion (Munich) 2: 525–532.

 

Stegosaurus


Rekonstruksi stegosaurus saat fosilnya pertama kali ditemukan

Gambar lama Stegosaurus dengan delapan duri ekor, sudah kadaluarsa

Model stegosaurus yang lebih teliti, berwarna untuk daya tarik seksual dan duri punggung yang renggang

Walaupun ukurannya besar, tempurung otak Stegosaurus kecil, tidak lebih besar dari anjing. Tempurung otak Stegosaurus yang ditemukan masih lestari memungkinkan Othniel Charles Marsh mendapatkan cetakan rongga otak atau endokast dari hewan ini tahun 1880an, yang memberi indikasi ukuran otaknya. Endokast ini menunjukkan kalau otaknya memang sangat kecil, mungkin yang terkecil di antara para dinosaurus. Fakta kalau hewan ini beratnya sekitar 4,5 ton namun memiliki otak tidak lebih dari 80 gram memberikan dugaan lama kalau dinosaurus itu bodoh, gagasan yang sudah lama ditinggalkan.

Segera setelah menemukan Stegosaurus, Marsh menemukan saluran besar di daerah paha di tulang belakang yang dapat menyimpan struktur 20 kali lebih besar dari otaknya. Hal ini membawa pada gagasan terkenal kalau dinosaurus seperti Stegosaurus memiliki otak kedua di ekornya, yang mungkin bertanggung jawab untuk mengendalikan refleks di bagian belakang tubuh. Diduga pula kalau otak ini dapat memberi bantuan sementara pada Stegosaurus saat ia diancam predator. Penemuan terbaru berpendapat kalau ruangan ini (juga ditemukan pada sauropod) merupakan lokasi badan glikogen, sebuah struktur pada burung modern yang fungsinya belum diketahui namun diduga memasok glikogen bagi sistem syaraf hewan ini.

Jadi, otak Stegosaurus memang kecil. Ia mungkin memang bodoh, tapi bila bodoh, ia kasus khusus dalam dunia dinosaurus. Dugaan kalau ada otak kedua hanya hipotesis dan yang terbaru menduga itu bukan otak, tapi badan glikogen.

Referensi ilmiah

  1. Bakker RT (1986). The Dinosaur Heresies. William Morrow, New York. pp. 365–74.
  2. Buchholz (née Giffin) EB (1990). “Gross Spinal Anatomy and Limb Use in Living and Fossil Reptiles”. Paleobiology16: 448–58.
  3. Fastovsky DE, Weishampel DB (2005). “Stegosauria: Hot Plates”. In Fastovsky DE, Weishampel DB. The Evolution and Extinction of the Dinosaurs (2nd Edition). Cambridge University Press. pp. 107–30.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.