Diposting Jumat, 1 April 2011 jam 3:50 am oleh Gun HS

Astrofisikawan: Planet di Dekat Kurcaci Putih Bisa Berpotensi Layak Huni

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 1 April 2011 -


Dalam dekade terakhir ini, para pemburu planet telah menemukan ratusan planet di luar tata surya. Meskipun demikian tidaklah jelas planet mana yang mungkin layak huni. Namun, bisa saja tempat terbaik untuk mencari planet yang dapat mendukung kehidupan adalah justru di sekitar bintang mati redup, yang disebut sebagai bintang kurcaci putih.

Dalam sebuah laporan terbaru, yang dipublikasikan online 29 Maret pada The Astrophysical Journal Letters, profesor astronomi dari Universitas Washington, Eric Agol, menunjukkan bahwa planet berpotensi layak huni yang mengorbiti bintang kurcaci putih lebih mudah ditemukan – jika memang ada – daripada eksoplanet lainnya.

Kurcaci putih, bintang dingin yang diyakini berada dalam tahap akhir kehidupan, biasanya memiliki sekitar 60 persen dari massa matahari, namun hanya memiliki volume yang kurang lebih hanya seukuran Bumi. Mereka jauh lebih dingin dari matahari dan hanya memancarkan sebagian kecil energi, sehingga zona planet mereka yang layak huni secara signifikan lebih dekat ke bintang dibandingkan jarak Bumi ke matahari.

“Jika planet cukup dekat dengan bintang, maka ia bisa memiliki suhu stabil cukup lama untuk memiliki zat cair di permukaannya – jika memang memiliki air – dan itu adalah faktor yang besar bagi habitasi,” kata Agol.

Sebuah planet yang sangat dekat dengan bintangnya dapat diamati dengan menggunakan teleskop di Bumi selebar 1 meter, pada saat planet tersebut lewat di depan, dan meredupkan cahayanya dari kurcaci putih, katanya.

Kurcaci putih berevolusi dari bintang seperti matahari. Ketika inti bintang tidak bisa lagi menghasilkan reaksi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium, maka hidrogennya mulai membakar bagian luar intinya. Hal itu memulai transformasi menjadi sebuah raksasa merah, dengan memperluas bagian luat atmosfer yang biasanya menyelubungi – dan menghancurkan – setiap planet di dekatnya.

Akhirnya bintang melepaskan atmosfer luarnya, meninggalkan kemilauan sinar, secara bertahap mendinginkan inti sebagai kurcaci putih, dengan suhu permukaan sekitar 5.000 derajat Celsius (sekitar 9.000 derajat Fahrenheit). Pada saat itu, bintang menghasilkan panas dan cahaya yang sama seperti bara perapian, meskipun bara bintang bisa bertahan selama 3 miliar tahun.

Setelah raksasa merah melepas atmosfer luarnya, planet yang lebih jauh, yang berada di luar jangkauan atmosfer, dapat mulai bermigrasi lebih dekat ke kurcaci putih, kata Agol. Planet baru juga mungkin bisa terbentuk dari sebuah cincin puing-puing yang ditinggalkan oleh transformasi bintang.

Dalam kedua kasus, planet harus bergerak sangat dekat dengan kurcaci putih untuk bisa menjadi layak huni, mungkin sekitar 500.000 hingga 2 juta mil dari bintang. Itu kurang dari 1 persen jarak dari Bumi ke Matahari (93 juta mil) dan secara substansial lebih dekat dibanding jarak Merkurius ke Matahari.

“Dari planet, bintang akan terlihat sedikit lebih besar dari matahari kita, karena ia sangat dekat, dan sedikit lebih berwarna orange, tapi akan terlihat sangat, sangat mirip dengan matahari kita,” kata Agol.

Planet juga akan secara turun naiknya terkunci, sehingga sisi yang sama selalu akan menghadapi bintang dan sisi berlawanan akan selalu berada di sisi gelap. Area untuk habitasi, katanya, mungkin menghadap tepi zona cahaya, dekat sisi gelap planet ini.

Kurcaci putih yang paling dekat dengan Bumi adalah Sirius B, dengan jarak sekitar 8,5 tahun cahaya (satu tahun cahaya adalah sekitar 6 triliun mil). Bintang ini diyakini pernah berukuran lima kali lebih besar dari matahari, namun sekarang hanya memiliki massa yang hampir sama dengan matahari, dikemas ke dalam volume yang sama dengan bumi.

Agol mengusulkan survei 20.000 kurcaci putih yang paling dekat dengan Bumi. Menggunakan teleskop 1 meter, satu bintang bisa disurvei dalam 32 jam pengamatan. Jika tidak ada tanda redupan cahaya bintang pada saat itu, artinya tidak ada planet layak huni yang mengorbit cukup dekat, yang melintas di depan bintang sehingga mudah diamati dari Bumi. Idealnya, pekerjaan ini dapat dilakukan oleh jaringan teleskop yang akan membuat observasi kurcaci putih secara berurutan.

“Ini bisa membutuhkan sejumlah besar waktu, bahkan dengan sebuah jaringan,” katanya.

Pekerjaan yang sama bisa dicapai dengan teleskop khusus yang lebih besar, seperti Large Synoptic Survey Telescope yang direncanakan untuk operasi mendatang dalam dekade ini di Chile, dimana UW merupakan mitra pendirinya. Jika ternyata kurcaci putih yang memiliki planet mirip-Bumi jumlahnya sangat kecil – katakanlah satu dari 1.000 – teleskop itu masih tetap bisa melacak mereka secara efisien.

Menemukan planet mirip-Bumi di sekitar kurcaci putih bisa menyediakan tempat yang berarti untuk mencari kehidupan, kata Agol. Namun itu juga akan menjadi sekoci potensi bagi kemanusiaan jika Bumi, untuk beberapa alasan, menjadi tidak layak huni.

“Itulah sebabnya kenapa saya merasa proyek ini menarik,” katanya. “Dan ada pula pertanyaan, ‘Seberapa istimewakah Bumi ini?’”

Sumber artikel: Astrophysicist: White dwarfs could be fertile ground for other Earths (Vince Stricherz – labspaces.net)
Kredit: University of Washington
Informasi lebih lanjut: Eric Agol. Transit Surveys for Earths in the Habitable Zones of White Dwarfs. The Astrophysical Journal, 2011; 731 (2): L31 DOI: 10.1088/2041-8205/731/2/L31

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.