Diposting Senin, 28 Maret 2011 jam 2:40 pm oleh Evy Siscawati

Gunung Es Antartika memiliki peran dalam Siklus Karbon Global

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 28 Maret 2011 -


 

Sebuah tim penelitian lintas disiplin yang didukung oleh yayasan sains nasional (NSF) menyorot penelitian bulan ini di jurnal Nature Geoscience.

Penelitian mengindikasikan kalau “transpor dan pencairan gunung es berperan dalam distribusi fitoplankton di Laut Weddell,” yang sebelumnya tidak diduga, kata John J. Helly, direktur Laboratorium Ilmu Bumi dan Lingkungan dengan Pusat Superkomputer San Diego di Universitas Kalifornia di San Diego dan Lembaga Oseanografi Scripps.

Helly adalah penulis utama paper tersebut yang berjudul “Cooling, Dilution and Mixing of Ocean Water by Free-drifting Icebergs in the Weddell Sea,” yang pada awalnya diterbitkan dalam jurnal Deep-Sea Research Part II.

Hasilnya menunjukkan kalau gunung es mempengaruhi dinamika fitoplankton di daerah yang dikenal sebagai “Lembah Gunung Es,” di timur Semenanjung Antartika, bagian benua yang menjorok ke utara menuju Chili.

Penemuan terbaru ini menambahkan dimensi baru pada penelitian sebelumnya oleh tim yang sama yang mengubah persepsi kalau gunung es adalah unsur pasif dari laut Antartika. Tim ini sebelumnya telah menunjukkan kalau gunung es bertindak sebagai oasis samudera karena menyediakan nutrisi bagi kehidupan air dan burung laut.

Penelitian tim ini menunjukkan kalau gunung es biasa akan menjadi lebih banyak di Samudera Selatan, khususnya saat Semenanjung Antartika terus mengalami pemanasan dan lempeng-lempeng esnya memecah. Penelitian juga menunjukkan kalau gunung es biasa ini penting bukan hanya bagi ekosistem laut, namun juga siklus karbon global.

“Penemuan ini memperkuat penemuan tim kami sebelumnya mengenai gunung es dan membenarkan kalau gunung es menyumbangkan dimensi kerumitan fisik dan biologis pada ekosistem kutub,” kata Roberta L. Marinelli, direktur Program Ekosistem dan Organisme Antartika NSF.

NSF mengatrur program Antartika AS, dimana ia mengkoordinasikan semua penelitian ilmiah AS dan logistik terkaitnya di benua paling selatan dan di atas kapal-kapal di Samudera Selatan.

Penemuan terbaru mendokumentasikan perubahan nyata dalam karakteristik biologis dan fisika air permukaan setelah lewatnya sebuah gunung es, yang memiliki dampak penting bagi populasi fitoplankton, jelas menunjukkan “kalau gunung es mempengaruhi air permukaan samudera dan mencampur lebih banyak dari yang disadari sebelumnya,” kata Ronald S. Kaufmann, asisten profesor ilmu kelautan dan studi lingkungan di Universitas San Diego dan salah satu anggota tim.

Para peneliti mempelajari pengaruh ini dengan mengambil sampel laut disekitar sebuah gunung es besar yang panjangnya lebih dari 32 kilometer; daerah yang sama kemudian di survey kembali sepuluh hari kemudian, setelah gunung es telah pergi jauh.

Setelah sepuluh hari, para ilmuan mengamati peningkatan konsentrasi klorofil a dan menurunnya konsentrasi karbon dioksida, dibandingkan daerah didekatnya yang tidak dilewati gunung es. Hasil ini konsisten dengan pertumbuhan fitoplankton dan pembuangan karbon dioksida dari samudera.

Hasil terbaru ini menunjukkan kalau gunung es memberi hubungan antara domain biologis dan geofisika yang secara langsung mempengaruhi siklus karbon di Samudera Selatan, tambah Marinelli.

Tahun 2007, tim yang sama menerbitkan temuan mereka dalam jurnal Science kalau gunung es menjadi titik panas kehidupan samudera dengan komunitas burung laut yang besar di atasnya dan jejaring fitoplankton, udang kecil dan ikan di bawahnya. Di saat itu, para peneliti melaporkan kalau gunung es menahan bahan teresterial yang terjebak, yang mereka lepaskan jauh ke laut saat mereka meleleh, sebuah proses yang menghasilkan efek halo dengan peningkatan signifikan pada nutrisi dan udang kecil pada radius lebih dari tiga kilometer.

Penelitian terbaru dilakukan sebagai bagian sebuah proyek multidisiplin yang juga melibatkan para ilmuan dari Lembaga Penelitian Akuarium Monterey Bay, Universitas Carolina Selatan, Universitas Nevada di Reno, Universitas Brigham Young dan Laboratorium Ilmu Samudera Bigelow.

Biologiwan peneliti Lembaga Oseanografi Scripps, Maria Vernet dan mahasiswa pasca sarjana Gordon Stephenson juga memberikan sumbangannya pada penulisan.

Sumber berita :

National Science Foundation.

Referensi jurnal:

Helly, J.J., Kaufmann, R.S., Stephenson, G., Vernet, M. 2011. Cooling, dilution and mixing of ocean water by free-drifting icebergs in the Weddell Sea. Deep Sea Research Part II: Topical Studies in Oceanography, 2011; DOI: 10.1016/j.dsr2.2010.11.010

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.