Diposting Minggu, 27 Maret 2011 jam 4:42 pm oleh Evy Siscawati

Studi yang didanai Freemason: Bagaimana Garam Emas meringankan rasa sakit Arthritis dan Penyakit Pendarahan lainnya
Minggu, 27 Maret 2011 -

 

Para ilmuan dari Pusat Medis Universitas Duke mungkin telah memecahkan misteri seputar sifat penyembuhan emas – sebuah penemuan yang mereka lihat akan memperbaharui minat pada garam emas sebagai perawatan terhadap arthritis rheumatoid dan penyakit pendarahan lainnya.

Para dokter pertama menggunakan suntikan garam emas pada awal 1900an untuk meringankan rasa sakit akibat arthritis. Namun perawatan ini mahal: penyuntikan perlu waktu sebulan untuk berpengaruh dan efek sampingnya termasuk ruam, mulut kering, kerusakan ginjal dan biasanya, masalah dengan kemampuan sumsum tulang untuk membuat sel darah baru.

Baru-baru ini, perawatan baru seperti metotreksat dan obat yang direkayasa secara biologis telah menggantikan emas sebagai perawatan yang dipilih dan garam emas, walaupun tetap efektif, biasanya menjadi pilihan terakhir.

Namun, pada bulan Oktober 2007, Dr. David Pisetsky, ketua program studi rheumatologi dan imunologi di jurusan medis Duke, mengatakan “kita tidak semestinya mengabaikan garam emas begitu cepat. Kami para ilmuan tidak pernah memahami mengapa emas bisa bekerja. Sekarang kami telah mempelajarinya dengan metode yang lebih modern dan mampu menggunakan mekanisme tersebut untuk menciptakan obat baru mirip emas yang lebih baik untuk merawat arthritis.”

Pisetsky telah lama tertarik pada molekul khusus, HMGB1, yang memicu pendarahan, proses kunci dibalik perkembangan arthritis rheumatoid. HMGB1 adalah molekul berfungsi ganda, yang artinya ia berperilaku tertentu ketika di dalam inti sel, namun berperilaku berbeda saat dilepaskan dari sel.

Pisetsky mengatakan kalau di dalam inti sel, HMGB1 adalah pemain kunci dalam transkripsi, proses yang mengubah informasi genetik di DNA ke RNAnya. Namun saat HMGB1 dilepaskan dari sel – baik secara normal atau karena sel mati – ia menjadi perangsang sistem imun dan memperkuat pendarahan.

“Menariknya, HMGB1 tidak diproduksi secara seragam di tubuh kita,” kata Pisetsky.

“Ada jumlah HMGB1 yang sangat banyak di jaringan sinovial dan cairan sekitar sendi – dimana arthritis terjadi.”

Pisetsky, bekerja dengan rekan-rekannya di Universitas Pittsburgh dan Lembaga Karolinska di Swedia, merangsang sel sistem kekebalan manusia dan tikus untuk mengsekresikan HMGB1, lalu merawatnya dengan garam emas. Mereka menemukan kalau emas memblokade pelepasan HMGB1 dari inti sel. Lalu, pada gilirannya, mengurangi jumlah HMGB1 yang tersedia untuk memicu sistem kekebalan, sehingga memperlemah respon pendarahan.

“Pada dasarnya, menjaga HMGB1 berada di dalam inti sel adalah hal yang bagus, bila bertujuan untuk mencegah arthritis,” kata Pisetsky.

Pisetsky mengatakan kalau emas menghambat pelepasan HMGB1 dengan memotong aktivitas dua molekul pembantunya yang membantu pelepasan HMGB1 dari sel, interferon beta dan nitrit oksida.

“Sekarang kami telah menemukan setidaknya satu cara emas dapat membantu penderita arthritis, mungkin kitadapat menggunakan pengetahuan ini untuk membuat perawatan baru dan aman berbasis emas,” kata Pisetsky, peneliti senior studi ini.

Pisetsky terdorong oleh hasilnya namun mengatakan kalau studi tambahan diperlukan untuk menemukan apakah mekanisme yang sama aktif pada hewan dan manusia dan bukan hanya dalam studi laboratorium..

Studi ini dipublikasikan pada jurnal ilmiah Journal of Leukocyte Biology edisi Januari 2008.

Para peneliti lainnya adalah Weiwen Jiang, dari Universitas Duke, dan Cecilia Zetterstrom, dari Lembaga Karolinska; Heidi Wahamaa, Therese Ostberg, Ann-Charlotte Aveberger, Hanna Schierback dan Ufl Anderson dari Lembaga Karolinska; Helena Erlandersson Harris, dari Unit Medis dan Rheumatologi dari Rumah Sakit Universitas Karolinska dan  Michael Lotze, dari Universitas Pittsburgh.

Dukungan atas studi ini datang dari Yayasan Raja Gustav V 80-tahun Lembaga Karolinska, Lodge Barnhuset Freemason di Stockholm, Yayasan Pendukung Teknis Penderita Cacat, Dewan Penelitian Swedia, Asosiasi Rematik Swedia, Lembaga Penelitian Lupus, Dinas Layanan Medis VA dan Lembaga Kesehatan Nasional.


Penulis Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).

Kategori Artikel / Tags
Biokimia /

Artikel Terkait
Cari tahu?
© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami. View Full Site