Diposting Minggu, 27 Maret 2011 jam 4:52 pm oleh Evy Siscawati

Obat yang Mencegah Diabetes Tipe 2 pada Mayoritas Individu Resiko Tinggi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 27 Maret 2011 -


 

Tim ini juga menemukan 31 persen penurunan laju penebalan arteri karotid, pembuluh darah utama yang memasok darah ke otak. Studi mereka, yang menggunakan 602 partisipan dari Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Texas di San Antonio dan tujuh pusat kerjasama lainnya, dijelaskan dalam New England Journal of Medicine dan memiliki implikasi langsung untuk perawatan 40 juta orang Amerika yang menderita pra diabetes.

“Ini studi besar,” kata peneliti senior Ralph DeFonzo, M.D., profesor di sekolah kedokteran dan kepala divisi diabetes di Pusat ilmu kesehatan universitas texas di san antonio. “Pengurangan 72 persen merupakan pengurangan terbesar dalam laju konversi pra diabetes menuju diabetes yang pernah ditunjukkan oleh intervensi manapun, baik itu diet, latihan atau medis.”

Follow-up Bertahun-tahun

Dr. DeFronzo memimpin pemeriksaan pioglitazone, yang dipasarkan dengan merk Actos® oleh Takeda Pharmaceutical Co. Ltd. Perusahaan Jepang yang menyediakan dana penyelidikan independen pada Dr. DeFronzo untuk melakukan studi ACT Now. Beberapa pasien diawasai selama empat tahun; masa follow upnya rata-rata 2.4 tahun.

Pioglitazone secara luas digunakan sebagai sensitizer insulin pada pasien diabetes tipe 2. Pada studi ACT Now, para partisipan dipilih karena resiko tinggi mereka pada diabetes, termasuk kegemukan, sejarah keluarga dan tidak adanya toleransi glukosa seperti ditunjukkan oleh uji glukosa.

“Obat ini menunjukkan hasil mengesankan,” kata Robert R. Henry, M.D., presiden Asosiasi Diabetes Amerika. “Ini adalah metode paling efektif yang telah kami pelajari hingga saat ini dalam mencegah atau menahan laju onset diabetes tipe 2.” Selain peneliti bersama, Dr Henry juga profesor medis di Universitas California di San Diego dan kepala bagian endokrinologi dan diabetes di VA San  Diego Healthcare System.

Kerusakan pembuluh darah berhasil dicegah

Robert Chilton, D.O., FACC, kardiologis pusat ilmu kesehatan universitas texas di San Antonio yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa perlambatan penebalan arteri karotid pada pasien menunjukkan kalau glukosa partisipan terkendalikan dengan baik, mencegah kerusakan pembuluh darah yang membawa pada serangan jantung, stroke dan penyakit vaskuler periferal.

Individu yang memiliki diabetes memiliki resiko yang sama untuk mendapat serangan jantung pertama seperti halnya orang non diabetes yang telah mendapatkan serangan jantung, kata beliau.

“Obat ini mampu mencegah konversi diabetes pada 72 persen orang,” kata Dr Chilton. “Satu-satunya hal yang dapat mengalahkannya adalah pil gratis yang tampaknya tidak ingin diambil orang – diet dan latihan.”

Hambatan insulin

Diabetes tipe 2 melibatkan ketidaknormalan insulin, hormon yang disekresikan oleh sel-sel beta di pankreas. Insulin membantu tubuh menyimpan dan menggunakan gula dari darah, namun pada penderita diabetes tipe 2, tubuh resisten terhadap insulin, yaitu ia merespon hormon ini secara tidak efisien. Seiring waktu, sel-sel beta pada pasien diabetes mulai mati, menghasilkan lebih sedikit lagi insulin untuk mengatasi kebutuhan. Tingkat hormon menjadi semakin rendah dan tingkat gula darah semakin naik, merusak pembuluh darah dan organ.

Dr. Henry mengatakan studi ACT Now menyorot pentingnya resistensi insulin dalam perkembangan diabetes tipe 2 dan bagaimana, dengan memperlakukan resistensi ini, sekresi insulin sel beta dilestarikan untuk periode waktu yang lebih lama.

Pioglitazone ditoleransi dengan baik oleh para partisipan, dengan perolehan berat dan retensi cairan yang diamati pada dosis yang digunakan dalam studinya. Dr. DeFronzo mengatakan kalau efek samping tersebut dapat dimitigasi dengan menggunakan dosis yang lebih rendah dan bekerja sama baiknya. Pioglitazone merangsang nafsu makan sementara disaat yang sama menggeser lemak mengelilingi tubuh, mengambilnya dari sel otot, hati dan beta lalu meletakkannya di depot lemak subkutan dibawah kulit dimana ia diam dan tidak berbahaya, katanya.

“Tidak ada obat yang sempurna,” kata Dr. DeFronzo. “Pengobatan ini melakukan dua hal – meningkatkan resistensi insulin dan meningkatkan fungsi sel beta, yang merupakan dua kerusakan inti diabetes.”

Sumber berita :

University of Texas Health Science Center at San Antonio

Referensi ilmiah:

R. A. DeFronzo, D. Tripathy, D. C. Schwenke, M. Banerji, G. A. Bray, T. A. Buchanan, S. C. Clement, R. R. Henry, H. N. Hodis, A. E. Kitabchi, W. J. Mack, S. Mudaliar, R. E. Ratner, K. Williams, F. B. Stentz, N. Musi, P. D. Reaven. Pioglitazone for Diabetes Prevention in Impaired Glucose Tolerance. New England Journal of Medicine, 2011; 364 (12): 1104 DOI: 10.1056/NEJMoa1010949

Top of Form

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.