Diposting Minggu, 27 Maret 2011 jam 5:27 pm oleh Evy Siscawati

Model Alam Semesta Kognitif-Teoritik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 27 Maret 2011 - Teori-teori yang diajukan sebagai kandidat teori segalanya kadang kala begitu rumitnya sehingga menuntuk kemampuan intelektual maksimal para fisikawan teoritis. Sekarang akan kita uji Cognitive-Theoretic Model of Universe (CTMU). Apakah CTMU memiliki kesejajaran dengan teori segalanya atau hanya permainan kata?


 

Dalam CTMU, alam semesta real bukanlah dipandang sebagai himpunan yang statis, namun proses dinamis yang memecah paradoks inklusi dirinya. Paradoks ini ada karena penjelasan mengenai realitas terkandung dalam realitas itu sendiri. Kalau kita mau menjelaskan sesuatu, kita harus melihat keseluruhan dari sesuatu itu, tapi karena yang dijelaskan adalah realitas itu sendiri, kita tidak dapat lepas dan melihat seluruh alam semesta sekaligus. Ini kenapa dia jadi paradoks. Untuk melepaskan diri dari paradoks, alam semesta harus dipandang sebagai pemetaan kepada dirinya sendiri, jadinya bukan lagi ia sesuatu yang statis, tapi dinamis. Itu yang dimaksud CTMU.

Bagi CTMU, kesatuan bukan hanya terletak pada ruang waktu, tapi juga pada kognisi (kecerdasan) informasi. Seperti halnya ruang tidak dapat dipisah dari waktu, kecerdasan juga tidak dapat dipisahkan dari informasi. Sebagai contoh, saat kamu berpikir kalau ada dunia ajaib dengan bidadari dan unicorn, dunia itu ada, ada dalam bentuk informasi. Kenapa? Karena kamu ada. Kamu adalah kecerdasan. Ini seperti masalah esensi dan eksistensi dalam filsafat, tapi Christopher Langan, pencipta CTMU, mengatakan kalau teori M juga melakukan hal demikian, dengan melarikan dimensi ekstra ke ukuran yang sedemikian kecilnya hingga tidak terpersepsi.

Nah ini yang uniknya, CTMU mengatakan bahwa realitas memiliki semacam sifat kompleks yang mirip dengan kesadaran. Dengan kata lain, karena pikiran kita itu ada, maka realitas ini seperti pikiran juga. Alam semesta ini adalah sebuah pikiran raksasa, dan ketika kita bertanya : Pikiran Siapa? Terserah. Anda mau menyebutnya Tuhan, Brahma, Ego, dsb. Istilah nama bukan hal yang penting. Pikiran kita merupakan atom-atom pikiran yang menyusun pikiran yang lebih besar, pikiran raksasa, yaitu alam semesta.

Diagram Ruang Waktu menurut Langan

Ini seperti saat kita mimpi, ketika kita mimpi, kita melihat banyak sekali orang di dalam mimpi kita. Orang-orang di dalam mimpi kita, juga sebenarnya diri kita sendiri. Mungkin seperti itulah Alam semesta yang bermimpi, kita adalah bagian dari impian alam semesta. Anda yang belajar sejarah kebudayaan dan filsafat mungkin gatal untuk berteriak, Sufiiiii, atau Hinduuu. Yaa, Brahma dibayangkan sebagai Tuhan yang bermimpi dan mimpinya adalah dunia. Dan dalam sufi, ada yang namanya emanasi, dimana kita merupakan bagian dari Allah.

Menariknya, CTMU diajukan sebagai teori segalanya dan sebagai teori segalanya, ia merupakan teori yang berat secara matematika dan fisika. Silakan baca sendiri makalahnya dari Christopher Langan sendiri: http://www.iscid.org/papers/Langan_CTMU_092902.pdf

Tinjauan Kritis terhadap CTMU

CTMU :

Alam semesta real selalu diperlakukan secara teoritis sebagai benda, dan khususnya sebagai tipe benda komposit yang disebut himpunan. Namun sebuah benda atau himpunan tidak dapat ada dalam ruang dan waktu,

KRITIK:

Karena itu kita punya masalah. Bila ia ingin mendefinisikan benda sebagai sesuatu yang ada di dalam ruang dan waktu, alam semesta jelas tidak dapat tergolong entitas demikian. Karenanya, ia harus memperlakukan alam semesta sebagai sesuatu selain “benda” atau definisinya salah. Kita tidak dapat mendefinisikan kucing sebagai hewan berkaki lima, lalu mengklaim kalau Pusi adalah seekor kucing.

CTMU :

Sekarang sedikit mengenai himpunan. Matematikawan memandang teori himpunan sebagai teori dasar. Segalanya dapat dipandang sebagai benda, bahkan ruang atau proses, atau kapanpun ada benda, ada himpunan yang mewadahinya.

Hubungan rekursi telik antara kecerdasan dan alam semesta yang diajukan CTMU

KRITIK:

Bila segalanya dapat dipandang sebagai benda, berarti himpunan dapat dipandang benda. Menurutnya, kapanpun ada benda, ada himpunan yang mewadahinya.  Dan berarti menurutnya himpunan dari semua himpunan yang tidak mengandung dirinya sendiri itu ada.

CTMU :

Namun setiap himpunan, bahkan yang terbesar, memiliki powerset yang mewadahinya, dan yang mewadahinya pastilah lebih besar lagi (kontradiksi)

KRITIK:

Beuh. Saya juga bisa bikin permainan paradoks seperti itu. Ia hanya mendefinisikan paradoks. Ia mendefinisikan sebuah himpunan yang tidak dapat ada, lalu memasukkan syarat-syaratnya. Bila seseuatu yang tidak dapat ada, ia tidak dapat memenuhi syaratnya. Jadi ada dua pilihan, apakah definisinya yang salah, kalau setiap himpunan punya powerset yang mewadahinya, atau premisnya bahwa ada himpunan terbesar yang salah.

Kita sekarang dapat melihat apa yang ingin ia katakan: himpunan bukanlah sesuatu yang fisik, ia bukan sesuatu yang nyata. Ia adalah abstraksi organisasi, sebuah ide, yang berguna dalam mengkategorikan sesuatu dan bermanfaat dalam bidang lain, namun itu tidak berarti ia nyata dalam artian memiliki sifat inheren; ia hanya memiliki sifat yang kita definisikan untuknya, apapun batas yang ingin kita berikan. Bila kita memilih mendefinisikannya secara kontradiktif dengan dirinya sendiri, kita dapat hasil paradoks. Bila kita mendefinisikannya lebih masuk akal, hasilnya tidak paradoks.

Atau, dengan kata lain, ini hanya cara keren untuk menyatakan cerita lama “bayangkan benda terbesar yang ada, sekarang, apakah lebih baik kalau ia ada? Jadi ia ada, karena kita bisa membayangkannya”. Bagi anak kemaren sore, ini keren, tapi bagi kita yang terbiasa dengan masalah kompleks, ini sudah mainan usang.

Alam semesta sebagai rangkaian eksitasi diri

CTMU :

Solusi yang jelas: definisikan sebuah ekstensi dari teori himpunan yang mencakup dua jenis pewadahan yang bekerja sama secara selaras sehingga himpunan terbesar dapat didefinisikan mengandung powersetnya dalam satu artian sementara terkandung dalam powersetnya itu sendiri dalam arti yang lain.

KRITIK:

Uh. Ini nih. Ujungnya argumen “kita akan mendefinisikan Tuhan sebagai sesuatu yang ada.” Ini salah satu esensinya “Segala hal yang ada diciptakan, yang berarti memerlukan pencipta, yang tidak dapat diciptakan dan harus ada, jadi ia memenuhi kedua himpunan.” Kita mah sudah lama mendengar tentang hal ini, namun tidak lebih dari sekedar mendefinisikan Tuhan agar ia ada.

Sisa dari teori ini pada dasarnya tidak lebih dari suara-suara yang mencoba mengubur fakta kalau ia sebenarnya sebuah pendekatan lama yang bebas isi untuk membuktikan Tuhan ada, yaitu memaksakan “Ia ada, karena saya bilang Dia ada.”

CTMU :

Teori ini adalah teori yang diajukan oleh Chris Langan.

KRITIK :

Argument from Authority.

Gue Chris Langan

Siapa Chris Langan?

Langan adalah orang yang memegang rekor IQ tertinggi di Amerika. Iqnya ketika di uji oleh ahli psikologi syaraf, DR Robert Novelly, mencapai angka 200. Iqnya 200 jeng!

Dengan IQ setinggi itu, ia mengalami apa yang disebut ahli psikologi sosial sebagai paradoks IQ tinggi. Orang ber IQ tinggi cenderung haus ilmu, begitu hausnya sehingga ia tidak peduli dengan apapun. IQ tinggi berarti kemampuan menyerap dan mengolah informasi begitu cepat. Seperti RAM komputer lah, kalau orang idiot RAMnya hanya 256, orang normal RAMnya 1 Giga, nah orang berIQ tinggi, RAMnya bisa nyampe 8 Giga atau lebih. Itu saja, ia tidak berhubungan dengan berpikir rasional, hanya kecepatan saja.

Langan belajar sendiri matematika, fisika, filsafat, bahasa Latin dan Yunani hingga level profesor di masa SMA. Nilai SATnya (bisa dibilang ujian akhir nasional lah) sempurna. Masalahnya tiba saat kuliah. Yang namanya remaja, IQ tinggi lagi, timbul kebosanan. Dia bilang sendiri “Beuh, gue bisa ngajarin tuh profesor, gak level dia ngajarin gue.” Dan akhirnya drop out.

Faktor lain yang mendukung kegagalan akademis Langan adalah pelecehan masa kecil (dipukuli dan disakiti bapak tirinya) dan kemiskinan, uh, tragis. Parahnya, ia hanya punya satu saluran untuk mempublikasikan dirinya. Siap-siap. Gerakan ID (Harun Yahya versi Amerika).

ID memanfaatkan kondisi Langan dengan menyertakannya dalam tim pendukung keberadaan Tuhan versi ID. Kita tidak tahu pikiran aslinya Langan, apakah ini strategi semata untuk menjadi lawan para ilmuan ataukah semata permainan mental yang asyik bagi Langan, atau ada motivasi lain. Yang jelas, ide-ide Langan digunakan oleh ID sebagai pencitraan “Weeh, orang paling jenius di Amerika saja mendukung kami, masa ilmuan nggak?”

Pemprosesan informasi dalam CTMU

Argumen dari otoritas menjadi tonggak penopang gagasan CTMU. Orang berIQ 200 percaya surga ada, percaya Tuhan ada, dsb. Walaupun bila kita tinjau lebih mendalam mengenai CTMU, kita tahu bahwa surga, Tuhan dan istilah-istilah metafisika yang dimaksud Langan berbeda secara nyata dengan makna yang ada di masyarakat. Apa artinya surga ada jika ia ada dalam dunia mimpi? Apa artinya Tuhan ada bila ia adalah alam semesta itu sendiri?

Di sisi lain, kita juga punya banyak orang cerdas yang gagasannya salah. Newton misalnya setengah mati percaya pada alkimia, padahal di masanya sendiri, alkimia sudah terbukti salah. Einstein juga menolak teori kuantum, padahal seluruh bukti yang ada mengalir melawannya. Kurt Godel hidup dalam ketakutan karena ilusi padahal ia orang paling berpengaruh dalam matematika modern.

Kesimpulan

Sekali lagi, marilah kita menilai sebuah gagasan bukan dari orangnya, tapi dari nilai gagasan itu sendiri. Tidak masuk akal kita mengatakan salah pada orang yang bilang “1+1=2, bukan 1+1=4” hanya karena ia anak SD, dan menerima orang yang bilang “1+1=4, bukan 1+1=2” karena dia profesor matematika. CTMU dan Chris Langan sepertinya masuk kategori kedua: sang profesor matematika yang bilang  “1+1=4, bukan 1+1=2”.

Referensi

Langan, C.M. 2002. The Cognitive-Theoretic Model of the Universe: A New Kind of Reality Theory.

Sager, Mike (November 1999). “The Smartest Man in America”. Esquire.

Situs Resmi CTMU. http://www.ctmu.org/

“The real universe” – the opening words already make one question his

Yayasan IQ Tinggi. http://megafoundation.org/CTMU/Articles/IntroCTMU.htm

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.