Diposting Minggu, 27 Maret 2011 jam 5:08 pm oleh Evy Siscawati

Kelapa Sawit bukan Pengganti Hutan Rimba

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 27 Maret 2011 -


 

Peneliti utama, Emily Fitzherbert dari Masyarakat Zoologi London dan Universitas Anglia Timur mengatakan: “Ada banyak perdebatan mengenai peran produksi minyak sawit dalam penggundulan hutan dan pengaruhnya pada keanekaragaman hayati. Kami ingin membahas ini secara ilmiah.”

Minyak sawit, digunakan dalam makanan, kosmetik, bahan bakar dan produk lainnya, sekarang menjadi minyak sayur terdepan di dunia. Ia diambil dari buah kelapa sawit yang tumbuh di lebih dari 50 ribu mil persegi daerah dataran rendah tropis yang lembab, sebagian besar di Malaysia dan Indonesia. Daerah-daerah ini, dahulu ditutupi hutan rimba, habitat kehidupan liar daratan paling kaya di dunia, dan juga rumah dari sejumlah spesies paling langka di bumi.

Tinjauan ini, diterbitkan tanggal 15 September dalam jurnal ilmiah Trends in Ecology and Evolution, menyingkirkan kalau penggundulan hutan untuk penanaman sawit yang bertanggung jawab sebagai dampak ekologi terbesar, namun menemukan hubungan antara keduanya seringkali jauh lebih rumit dari yang ditampilkan dalam media pers.

Peneliti Matt Struebig, dari Queen Mary, Universitas London, menjelaskan: “Sebagian besar statistik penutup lahan tidak memungkinkan kami membedakan dimana sebenarnya kelapa sawit sungguh-sungguh menyebabkan penggundulan hutan. Kelapa sawit jelas menggantikan hutan tropis secara langsung di beberapa tempat, namun perusahaan-perusahaan sawit seringkali berhubungan dekat dengan perusahaan kayu atau kertas, sehingga memberi motif tambahan mereka untuk menggundulkan hutan.”

Di berbagai negara, kelapa sawit biasanya ditanam di beberapa daerah produktif, namun ia terus menyebar. Tuntutan yang semakin tinggi dan potensinya sebagai agen penggundulan sangat besar, kata studi tersebut.

Sebagian besar lahan yang pantas ditanam sawit tersisa di daerah-daerah besar yang tersisa dari hutan rimba ada di Afrika Tengah, Amerika Latin dan Asia Tenggara. Dimana kebun sawit menggantikan hutan rimba, pengaruhnya pada kehidupan liar tergantung pada spesies apa yang bertahan hidup di habitat baru kebun sawit.

Studi ini membenarkan kalau minyak sawit adalah pengganti habitat yang buruk untuk mayoritas spesies hutan rimba, khususnya spesies spesialis hutan dan dalam terancam punah.

Emily Fitzherbert melanjutkan: “Dengan mengumpulkan studi ilmiah burung, kelelawar, semut dan spesies lain, kami mampu menunjukkan kalau secara rata-rata, hanya kurang dari seperenam spesies yang tercatat dalam hutan primer yang ditemukan di kebun sawit. Hutan yang mengalami degradasi, dan bahkan tanaman alternatif seperti karet dan cokelat, lebih mampu menopang lebih banyak spesies daripada kebun sawit.”

Bahkan perkiraan ini sebenarnya optimistik, karena habitat hutan rimba lebih sulit di survey dan beberapa spesies yang tinggal di kebun sawit hanya hidup sebentar sebelum punah.

Ada sedikit potensi untuk membantu kehidupan liar dalam kebun sawit, jadi memastikan kalau tanaman baru tidak menggantikan hutan dan melindungi apa yang tersisa di hutan asli dan tanaman sekitarnya merupakan satu-satunya pilihan yang realistik untuk melindungi mayoratisa spesies, kata para ilmuan.

Kebijakan internasional yang menuntut bukti tanggung jawab lingkungan, khususnya kalau lahan dengan nilai konservasi tinggi tidak diubah menjadi lahan sawit, dapat membantu.

“Ada cukup lahan tidak berhutan yang sesuai untuk penanaman sawit yang memungkinkan produksi besar tanpa penggundulan,” kata peneliti Ben Phalan, dari Universitas Cambridge.

Walau begitu, dalam menentukan daerah-daerah ini, perlu ada kehati-hatian dalam membendakan antara lahan yang mengalami degradasi yang memiliki nilai konservasi rendah, seperti padang rumput imperata, dan daerah hutan yang separuh rusak yang masih dapat menampung keanekaragaman hayati yang tinggi dan memberikan manfaat karbon dan kehidupan liar lebih besar bila diperbaiki.

“Hanya jika pemerintah di daerah produsen menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam mengendalikan penggundulan hutan, melindungi rimba dan memastikan kalau tanaman produksi hanya ditanam di lahan yang pantas, pengaruh ekspansi kelapa sawit pada keanekaragaman hayati akan mendasar secara positif,” tambah Phalan.

Studi ini dirilis saat tekanan memuncak pada pejabat Inggris dan Uni Eropa untuk memikirkan kembali target penjualan bahan bakar nabati. Dinas Bahan Bakar Terbarukan Inggris mengungkapkan kalau lebih dari 80 persen bahan bakar nabati Inggris tidak memenuhi standar lingkungan bahkan yang paling dasar sekalipun dan mendesak pemerintah Inggris memperlambat konversi bahan bakar nabati hingga pengaruh negatifnya lebih banyak diketahui.

Sementara peningkatan dalam penggunaan bahan bakar nabati hanpir pasti menambah tekanan bagi hutan rimba tropis, studi ini menyorot bagaimana tekanan-tekanan tersebut dapat dikurangi.

Inisiatif yang baru, Roundtable on Sustainable Palm Oil, telah mendorong 40 persen industri minyak sawit untuk berkomitmen menyelamatkan kehidupan liar di dan sekitar perkebunan. Para ilmuan berharap kalau Roundtable akan terus menarik banyak perusahaan lainnya dari 60 persen yang tersisa.

Di Indonesia, organisasi-organisasi lokal menggunakan teknologi satelit dan internet untuk menyelidiki penggundulan hutan ilegal oleh perusahaan-perusahaan sawit dan melakukan tekanan publik pada mereka.

Inisiatif ini akan membantu, namun studi ini mengingatkan kalau hanya jika mereka dilakukan pada skala yang lebih besar dan didukung oleh tindakan pemerintah yang lebih tegas melawan penggundulan hutan, kerusakan rimba dan kehidupan liarnya yang unik akan berlanjut.

Sumber berita :

Queen Mary, University of London

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.