Diposting Minggu, 27 Maret 2011 jam 5:09 pm oleh Evy Siscawati

Guru Biologi Sekolah Menengah di AS masih Ragu mengajarkan Evolusi di kelas

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 27 Maret 2011 -


 

“Penelitian menyarankan kalau para pendukung evolusi, metode ilmiah dan penalaran sendiri kalah dalam pertarungan di ruang kelas,” tulis Michael Berkman dan Eric Plutzer, para profesor ilmu politik di Penn State, dalam jurnal ilmiah Science edisi 28 Januari 2011.

Para peneliti memeriksa data dari Survey Nasional Guru Biologi Sekolah Menengah yang memuat sampel 926 guru biologi sekolah menengah umum. Mereka menemukan hanya sekitar 28 persen saja dari guru tersebut yang secara konsisten mengimplementasikan rekomendasi Dewan Penelitian Nasional yang menuntut pengajaran tentang bukti-bukti kalau evolusi terjadi dan rencana pengajaran dengan evolusi sebagai tema penyatu yang menghubungkan topik-topik terpisah dalam biologi.

Sebaliknya, Berkman dan Plutzer menemukan kalau 13 persen guru biologi “secara terang-terangan mengajarkan kreasionisme atau desain cerdas secara positif dengan memakan sedikitnya satu jam pelajaran.” Banyak dari guru ini menolak kemungkinan kalau metode ilmiah dapat memberi jawaban mengenai asal usul spesies, dan memandang evolusi dan kreasionisme sebagai sistem keyakinan yang tidak dapat sepenuhnya dibuktikan ataupun disanggah.

Berkman dan Plutzer menyebut sisa guru lainnya sebagai 60 persen yang berhati-hati, yang bukan pendukung kuat biologi evolusi dan juga bukan pendukung nyata alternatif non ilmiah. “Data kami menunjukkan kalau para guru ini dapat dipahami ingin menghindari kontroversi,” kata mereka.

Para peneliti menemukan kalau para guru ini umumnya menggunakan satu atau lebih dari tiga strategi untuk menghindari strategi. Beberapa mengajarkan biologi evolusi seolah ia hanya berlaku pada biologi molekuler, mengabaikan kesempatan memasukkan pemahaman kaya mengenai keanekaragaman hayati dan bukti kalau satu spesies memunculkan spesies lainnya.

Pada strategi kedua, sebagian guru merasionalkan kalau pelajaran evolusi merupakan pelajaran yang ditujukan untuk formalitas semata.

Para guru ini “memberitahu siswa kalau tidak masalah bila mereka memang ‘beriman’ pada evolusi, sejauh mereka tahu cara menjawab soal,” kata Berkman dan Plutzer.

Akhirnya, banyak guru mengajarkan para siswa mereka semua posisi, baik yang ilmiah atau bukan, dan membiarkan mereka sendiri yang memutuskan.

Ini patut disayangkan, kata para peneliti, karena “pendekatan ini mengatakan pada siswa kalau konsep-konsep yang kokoh secara ilmiah dapat diperdebatkan dengan cara yang sama seolah kita memperdebatkan pendapat pribadi.”

Berkman dan Plutzer menyimpulkan kalau “kelompok 60 persen ini gagal menjelaskan sifat penalaran (inkuiri) ilmiah, meremehkan otoritas para ilmuan dan membenarkan argumen kreasionis.” Sebagai hasilnya, “mereka dapat berperan jauh lebih besar dalam menghambat perkembangan sains di Amerika Serikat daripada para pendukung kreasionis.”

Para peneliti menemukan kalau lebih banyak siswa sekolah menengah yang tertarik dalam mata pelajaran biologi daripada mata pelajaran sains lainnya, dan 25 persen siswa sekolah menengah bahkan mengambilnya sebagai satu-satunya mata pelajaran sains yang mereka pelajari, walaupun pendidikan sains penting dalam negara demokrasi yang bertopang pada masukan warga negaranya pada kebijakan-kebijakan umum berdampak luas namun sangat teknis.

Berkman dan Plutzer mengatakan kalau negara harus melatih guru biologi dengan lebih baik sehingga dapat dengan percaya diri menerapkan standar tinggi pendidikan sains di masyarakat sekitar. Universitas dan Sekolah Tinggi harus mewajibkan mata kuliah umum mengenai evolusi pada semua calon guru biologi, misalnya, dan melanjutkannya dengan kuliah penyegar berjangkauan jauh, sehingga lebih banyak guru biologi yang memeluk biologi evolusioner.

“Dikombinasikan dengan sukses berkelanjutan di ruang pengadilan dan aula pemerintah negara bagian, pendekatan ini menawarkan kesempatan terbaik untuk meningkatkan kesadaran ilmiah generasi masa depan,” simpul mereka.

Sumber berita:

Penn State.


Referensi jurnal:

Berkman, M.B., Plutzer, E. 2011. Defeating Creationism in the Courtroom, But Not in the Classroom. Science; 331 (6016): 404 DOI: 10.1126/science.1198902

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.