Diposting Rabu, 23 Maret 2011 jam 6:52 pm oleh Evy Siscawati

Seismograf Fosil untuk Gempa Purba

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 23 Maret 2011 -


Prof. Shmuel Marco dari Jurusan geofisika dan ilmu Planet dalam fakultas ilmu Pasti universitas Tel Aviv dan rekan-rekannya telah menemukan alat baru yang ia sebut seismograf fosil untuk membantu geofisikawan dan peneliti lain memahami pola aktivitas seismik di masa lalu.

Dengan diinspirasi oleh fenomena “gelombang” aneh yang ia pelajari dalam endapan terganggu di daerah Laut Mati, Prof. Marco mengembangkan alat ini dengan masukan dari ahli geologi dan fisika. Menurutnya hal ini relevan dengan daerah dimana gempa bumi mempengaruhi badan air, seperti Pesisir Barat Amerika Serikat. Ia juga membantu para insinyur memahami apa saja resiko yang ada saat mereka merencanakan pembangkit listrik tenaga air baru. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Geology.

Tongkat ukur geofisika untuk abad-abad yang lewat

“Data seismografik terbaru mengenai gempa bumi hanya menjangkau satu abad atau lebih,” kata Prof. Marco. “Pendekatan baru kami menyelidiki pola gelombang endapan berat yang mempenetrasi endapan lembut yang berada langsung di atasnya. Hal ini membantu kita memahami intensitas gempa bumi di era yang telah lewat – ia tongkat ukur untuk mengukur faktor impak gempa bumi di masa lalu.”

Prof. Marco, rekan satu jurusannya Prof. Eyal Hefetz, dan mahasiswa doktoral Nadav Wetzer melakukan pengamatan sangat teknis pada lapisan-lapisan lumpur di Laut Mati. Lapisan-lapisan ini pada awalnya berjenjang secara sangat stabil, namun sekarang endapan yang lebih berat tampak tertarik kedalam endapan ringan.

Para peneliti mengajukan kalau fisika yang mengatur pola endapan sama dengan fenomena yang ditemukan dalam gelombang laut dan awan namun dalam kasus batuan, goncangan gempa bumi (bukannya angin) yang memicu pembentukan gelombang. Para ilmuan menyebutnya Ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz yang menjelaskan teori turbulensi fluida. Tim universitas tel aviv menerapkan teori ini untuk menganalisa deformasi endapan yang disebabkan gempa bumi di masa lalu.

Gempa bumi menyebabkan deformasi batuan dan endapan. Menggunakan prinsip dasar gesekan, para peneliti mempertimbangkan geometri bentuk-bentuk yang mereka temukan dalam endapan Laut Mati dan menggabungkannya dengan sejumlah parameter lainnya yang ditemukan dalam ilmu fisika untuk menghitung bagaimana gempa bumi dari masa lalu terdistribusi dalam skala, waktu dan ruang.

Gambaran geologis yang lebih besar

Prof. Marco dan rekan-rekannya menemukan kalau deformasi dimulai sebagai lipatan mirip gelombang yang moderat, lalu berevolusi menjadi lipatan yang kompleks, dan akhirnya menunjukkan ketidakstabilan dan fragmentasi. Proses deformasi berlanjut tergantung pada ukuran gempa bumi – semakin kuat gempanya, semakin intens deformasinya.

Catatan seismologis untuk jalur-jalur retakan seperti di dekat Yarusalem dan Los Angeles tidak cukup tua untuk meramalkan kapan gempa selanjutnya akan menyerang. “Kami mengembangkan jendela pengamatan lebih dari 100 tahun, untuk menciptakan sebuah seismograf fosil,” kata Prof. Marco. Ia menambahkan kalau alat ini hanya relevan dalam zona gempa yang berpotongan dengan badan air seperti danau atau laut.

Namun bisa saja sangat relevan bagi ahli geologi untuk mempelajari pola gempa di daerah seperti Laut Salton di Colorado. Laut Salton, hanya berusia 100 tahun, berada langsung di Retakan San Andreas di Daerah Perbatasan California.

Sumber berita

American Friends of Tel Aviv University.

Referensi ilmiah:

Wetzler, N., Marco, S., Heifetz, E. Quantitative analysis of seismogenic shear-induced turbulence in lake sediments. Geology, 2010; 38 (4): 303 DOI: 10.1130/G30685.1

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.