Diposting Rabu, 23 Maret 2011 jam 7:27 pm oleh Evy Siscawati

Kecurigaan Manusia memiliki Akar Evolusi Purba

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 23 Maret 2011 -


 

Dalam sederetan percobaan yang cerdik, para peneliti Yale dipimpin oleh psikolog Laurie Santos menunjukkan kalau monyet memperlakukan individu dari luar kelompok mereka dengan kecurigaan dan ketidaksukaan yang sama seperti sepupu manusia mereka yang memperlakukan orang asing, menyarankan kalau akar konflik antar kelompok manusia memiliki sejarah evolusi yang dalam.

Penemuan ini dilaporkan pada edisi Maret Journal of Personality and Social Psychology.

“Salah satu aspek paling bermasalah dari sifat manusia adalah kita mengevaluasi orang berbeda tergantung pada apakah mereka anggota kelompok kita atau bukan,” kata Santos. “Bisa dikatakan setiap konflik dalam sejarah manusia melibatkan orang yang membedakan orang lain berdasarkan landasan siapa yang anggota ras, agama, kelas sosial dan lainnya. Pertanyaan yang menarik bagi kami adalah : Dari mana datangnya tipe pembedaan kelompok ini berasal?

Jawabannya, tambahnya, bias demikian tampaknya terbentuk lewat evolusi 25 juta tahun dan bukan hanya bagian kebudayaan manusia.

Santos dan labnya mempelajari macaca rhesus yang hidup di sebuah pulau lepas pantai Puerto Rico. Seperti manusia, monyet dalam populasi ini secara alamiah membentuk kelompok-kelompok sosial berdasarkan sejarah keluarga. Untuk mengetahui apakah monyet membuat perbedaan yang sama antara individu dari dalam dan luar kelompok, para peneliti menggunakan kecenderungan hewan yang terkenal untuk menatap lebih panjang pada hal baru atau menakutkan daripada hal biasa atau bersahabat. Mereka memberikan gambar monyet yang merupakan anggota atau bukan anggota kelompoknya kepada monyet-monyet yang menjadi subjek penelitian. Mereka menemukan kalau monyet menatap lebih lama pada gambar monyet lain yang berasal dari luar kelompok, menyarankan kalau monyet secara spontan mendeteksi siapa yang asing dan siapa yang anggota kelompok.

“Apa yang membuat hasil ini lebih bermakna” kata Neha Mahajan, mahasiswa pascasarjana Yale yang mengepalai proyek ini, “adalah para monyet dalam populasi ini bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain, sehingga beberapa monyet yang bukan anggota kelompok sebelumnya adalah anggota kelompok. Walaupun begitu, hasilnya menunjukkan dengan kuat bahwa monyet yang baru pindah beberapa minggu sebelumnya, sudah dipandang sama kuat oleh subjek monyet sama seperti monyet yang tidak pernah jadi anggota. Dengan kata lain, walaupun monyet membagi dunianya menjadi ‘kita’ versus ‘mereka,’ mereka melakukannya dengan fleksibel dan real time.”

Santos dan koleganya kemudian bertanya apakah monyet mengevaluasi anggota atau bukan anggota kelompok dengan cara berbeda – apakah mereka mengasosiasikan individu otomatis dengan label ‘baik’ dan ‘buruk’? Untuk mempelajari hal ini, mereka mengembangkan tes sikap implisit versi monyet yang disebut IAT. Pada manusia, tes ini mengukur sampai sejauh mana orang menunjukkan bias implisit pada anggota kelompok lain. Untuk melihat kapasitas yang sama pada monyet, para peneliti menunjukkan kepada para monyet sederetan foto dimana dalam tiap foto, wajah monyet dari dalam kelompok atau luar kelompok dipasangkan dengan foto hal-hal yang bagus, seperti buah-buahan, atau hal-hal buruk, seperti laba-laba.

Para peneliti lalu merekam waktu yang dihabiskan para monyet untuk melihat kedua jenis barisan. Monyet menghabiskan sedikit waktu saat melihat barisan yang memasukkan wajah dalam kelompok dengan hal bagus seperti buah atau wajah luar kelopok dengan hal buruk seperti laba-laba, menyarankan kalau monyet memperlakukan kedua jenis stimuli ini sama. Di sisi lain, monyet menatap lebih lama pada barisan dimana individu dari luar kelompok dipasangkan dengan benda positif seperti buah yang menyarankan kalau asosiasi ini tidak alamiah bagi monyet. Seperti manusia, monyet cenderung secara spontan melihat anggota dari kelompoknya sebagai anggota yang baik dan anggota dari luar kelompok secara negatif.

Hasil penelitian tim Yale menyarankan kalau perbedaan yang dibuat manusia antara “kita” dan “mereka” – yang berarti akar dari kecurigaan manusia – dapat berasal dari setidaknya 25 juta tahun lalu, saat manusia dan monyet rhesus memiliki leluhur yang sama.

“Psikolog sosial mengenalkan dunia pada gagasan kalau situasi seketika sangat kuat dalam menentukan perilaku, bahkan perasaan antar kelompok,” kata Mahzarin Banaji, dari jurusan psikologi Universitas Harvard dan juga penulis bersama makalahnya. “Teoritikus evolusi membuat kita sadar mengenai masa lalu kita yang purba. Dalam karya ini, kami merajut keduanya untuk menunjukkan pentingnya pengaruh ini.”

“Berita buruknya adalah kecenderungan untuk tidak menyukai anggota dari luar kelompok tanpaknya cukup tua secara evolusi, dan karenanya tidaklah mudah untuk dibuang daripada yang kita duga sebelumnya,” kata Santos. “Berita bagusnya, bahkan monyet terlihat cukup luwes dalam mempertimbangkan siapa yang merupakan anggota kelompok. Bila manusia dapat menemukan jalan menggunakan fleksibilitas yang telah berevolusi ini, hal ini bisa menjadikan kita spesies yang lebih toleran lagi.”

Para peneliti Yale lainnya adalah Margaret A. Martinez dan Natashya Gutierrez. Para peneliti dari Universitas Bar-Ilan dan Harvard juga menyumbang pada penelitian ini.

Karya ini didanai oleh Pusat Sumberdaya Penelitian Nasional, bagian dari Lembaga Kesehatan Nasional.

Sumber berita :

Yale University.


Referensi ilmiah:

Mahajan, N., Martinez, M.A., Gutierrez, N.L., Diesendruck, G., Banaji, M.R., Santos, L.R. The evolution of intergroup bias: Perceptions and attitudes in rhesus macaques.. Journal of Personality and Social Psychology, 2011; 100 (3): 387 DOI: 10.1037/a0022459

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.