Diposting Senin, 21 Maret 2011 jam 4:58 pm oleh Evy Siscawati

Hidup Sebagai Penderita Sindrom Terkunci ternyata Masih Menyenangkan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 21 Maret 2011 -


Steven Laureys dari Kelompok Ilmu Coma di Universitas Liege di Belgia melakukan survey terbesar pada perasaan dan emosi penderita LIS. Ternyata, 72 persen responden yang hanya dapat berkomunikasi lewat gerakan halus dan kedipan mata ini mengaku bahagia. Mereka bahkan menilai mutu hidup mereka lebih baik daripada orang biasa.

Laureys mengatakan kalau pasien menunjukkan kapasitas luar biasa dalam beradaptasi dengan kondisi mereka. Walau begitu, 28 persen memang merasa tidak senang dengan situasi mereka. 86 persen di antara mereka yang tidak bahagia ini mengatakan tidak ingin dibangkitkan seandainya mereka mendapat serangan jantung. Sementara itu, hanya dibawah 50 persen penderita yang merasa senang, tidak ingin dibangkitkan saat mendapat serangan jantung.

Studi ini memang hanya melakukan survey pada 91 orang pasien dari 168 orang yang dimintai keikut sertaan sehingga beberapa ilmuan merasa adanya bias. Bias ini disebabkan karena penderita yang menolak kemungkinan sudah tidak senang dengan kondisinya. Ini menjelaskan kenapa banyak penjawab survey adalah penderita yang merasa senang.

Tony Nicklinson, seorang penderita LIS

Walau begitu, survey Laureys memang memberi sumbangan berharga. Responden yang merasa tidak senang cenderung baru dalam situasi LIS, sementara mereka yang senang umumnya sudah lama dan karenanya lebih ridho atas nasibnya.

Isu LIS terkait dengan isu moral yang lebih dilematis, yaitu euthanasia. Euthanasia adalah keinginan mati oleh seseorang yang hidupnya sangat menderita. Di Swiss dan beberapa negara bagian di AS, euthanasia di izinkan. Ketika anda merasa hidup sangat menderita, anda bisa meminta RS membunuh anda. Dalam survey Laureys, hanya 7 persen saja penderita penyakit yang dijuluki manusia tumbuhan ini,  mempertimbangkan euthanasia sebagai solusi akhir dalam hidupnya.

Temuan lain dalam survey Kelompok Ilmu Coma adalah hanya 21 persen yang mengatakan mereka terlibat dalam kegiatan yang aktif setiap hari. 40 persen responden ingin melakukan aktivitas sosial lebih sering dan 12 persen menginginkan lebih banyak waktu rekreasi. Sementara itu, mereka yang tidak senang ingin mendapatkan lebih banyak mobilitas di masyarakatnya dan kemampuan berbicara yang lebih baik.

Di masa depan, diharapkan psikologi penderita LIS dapat diperbaiki. Alat bantu komunikasi canggih seperti interface komputer-otak dan perangkat pelacak gerakan mata dapat membuat hidup penderita lumpuh total ini menjadi lebih baik. Sementara itu, ilmu kedokteran dapat menyumbangkan cara bagaimana menyembuhkan para penderita LIS dari lumpuh jasmani.

Disarikan dari

Andy Coghlan. 2011. A Locked-In Life can still be Worth Living. New Scientist, 5 Maret 2011

Referensi ilmiah
Marie-Aurélie Bruno, Jan L Bernheim, Didier Ledoux, Frédéric Pellas, Athena Demertzi, Steven Laureys. 2011. A survey on self-assessed well-being in a cohort of chronic locked-in syndrome patients: happy majority, miserable minority. BMJ Open doi:10.1136/bmjopen-2010-000039

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.