Diposting Minggu, 20 Maret 2011 jam 5:23 pm oleh Evy Siscawati

1000 spesies punah per tahun

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 20 Maret 2011 -


Tidak dapat diragukan lagi kalau banyak spesies telah punah dalam pengawasan kita. Sebagai contoh, kita tahu kalau auk besar terakhir dibunuh oleh para kolektor pada tahun 1844, dodo terakhir terlihat tahun 1662 dan merpati penumpang terakhir mati di kebun binatang tahun 1914. Pemburu menembak habis quagga, sejenis kuda liar mirip zebra, di tahun 1870an dan thylacine (harimau tasmania) terakhir, mati dalam kandang tahun 1936.

Contoh-contoh di atas masih menceritakan sedikit tentang skala krisisnya. Untuk tahu kita harus menumpuk semua data kepunahan dalam sejarah. Sayangnya catatannya tidak bagus, namun kita tahu setidaknya ada 130 spesies burung telah punah karena perburuan antara tahun 1500 dan 2000. Ini cukup memberi kita titik awal.

Saat ini ada 10 ribu spesies burung, jadi kepunahan ini mewakili lenyapnya 1,3 persen spesies dalam 500 tahun, atau 26 kepunahan per juta spesies per tahun – jauh lebih cepat daripada laju kepunahan latar belakang.

Bahkan ini saja masih perhitungan yang sangat kasar karena banyak spesies burung bisa jadi punah tanpa tercatat. Lebih lagi, laju kepunahan terus meningkat seiring tahun karena penghancuran habitat. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, gambarannya menjadi sekitar 100 kepunahan per juta spesies per tahun.

Burung Emu yang telah punah

Bila kita asumsikan kalau hal ini berlaku pada semua spesies yang ada di Bumi, sekitar 10 juta spesies, total kehilangan sekarang adalah 1000 spesies per tahun, atau tiga spesies per hari. Ini perkiraan yang sangat kasar namun menunjukkan kalau klaim kepunahan massal keenam bukanlah di besar-besarkan.

Tentu kita dapat keberatan atas perhitungan ini karena kehilangan tidak dapat berlanjut lepas kendali. Mereka yang optimis misalnya berpendapat kalau sebagian besar spesies yang punah memang pada awalnya sudah langka atau rentan, dan mereka diburu tanpa ampun di masa hukum belum kuat. Tentu ada benarnya juga: sepertinya tidak mungkin kalau spesies global seperti burung layang-layang atau tikus dapat punah seperti dodo. Lebih jauh, tidak ada satupun negara mengizinkan pemburu membantai hewan secara sistematis seperti yang pernah dilakukan oleh para kelompok pemburu di era Victoria.

Walau begitu, sungguhpun hukum perburuan dan usaha pelestarian terus meningkat, tekanan pada habitat alami semakin menjadi dan tidak pernah sebesar ini.

Memang sangat berat untuk memperkirakan laju kehilangan spesies sekarang dengan rentang ketidakpastian yang besar. Catatan fosil menunjukkan betapa merananya kepunahan massal itu dan bahwa, walaupun kehidupan memang berhasil pulih, perlu jutaan tahun untuk itu. Studi kepunahan massal, dan perbandingan dengan dunia modern, menunjukkan kalau kita hampir pasti bertanggung jawab atas kepunahan massal selanjutnya, dan dunia kehidupan ini dapat segera menjadi tempat yang jauh tidak menyenangkan.

Sumber :

Michael J Benton. Apocalypse Now? New Scientist, 5 March 2011

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.