Diposting Sabtu, 19 Maret 2011 jam 2:01 pm oleh Evy Siscawati

Pelabuhan Ratu itu keren karena Pegunungan Himalaya

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 19 Maret 2011 -


Pelabuhan Ratu itu indah ya. Dari pegunungannya, dari pantainya. Keren. Tukang ojek disitu cerita nggak menarik. Super gak menarik. Ada kanjeng Ratu Kidul lah, kamar khusus buat ratu lah, kejadian aneh lah. Ah, itu cumah kombinasi dari takhayul, efek plasebo dan oportunisme dunia perhotelan aja, gak ada menariknya bagi fakil. Kalau tim fakil bisa buat hotel, dan kebetulan lokasinya punya mitos raja black metal, mungkin kita bikin kamar nomer 666 khusus buat sang raja konser. Bisa jadi nilai tambah buat daya tarik wisatawan kan? Dapat penghasilan dan terkenal. Gak apa keluar duit buat membiayain beberapa orang alay yang pengabdiannya pada dunia metal tidak dapat diragukan lagi.

Atau ritual nelayan? Ah, umum itu. Di Kalimantan dan Maluku juga ada. Biasa, masyarakat agraris yang nelayan kan mendapat penghasilan dari laut. Seperti halnya kita beribadah atas tujuan berterima kasih atas hidup ini, begitu juga ritual adat memberi persembahan ke laut. Biar kita gak dibilang sebagai orang yang tidak tahu terima kasih gitu. Pencitraan sudah berakar jauh bahkan ke bawah sadar.

Ombak pelabuhan ratu yang sangat kuat tidak menyimpan sesuatu yang mistik, tapi ia menyimpan fakta ilmiah yang lebih mengagumkan. Seandainya kita mau mengkaji sejarah geologinya, sama seperti halnya sejarah geologi Danau Toba, yang jauh lebih menakjubkan dari pada dongeng asal usulnya di masyarakat. Jika anda mengkaji pola batuan di dasar pantai yang terhempas ombak, tebing karangnya yang terjal, usia batuan di hutan cagar alamnya, kecuraman dan kelandaian pantainya, maka anda akan temukan sebuah fakta ilmiah yang menghubungkan Pelabuhan Ratu dengan pegunungan Himalaya, pegunungan tertinggi di dunia. Keren kan?

Apa hubungannya dengan Pegunungan Himalaya?

Keanekaragaman ombak di Pelabuhan Ratu merupakan hasil paduan geologis yang berusia jutaan tahun. Berdasarkan teori apungan benua, permukaan bumi ibarat beberapa helai kertas tipis yang mengapung di atas air (astenosfer).  Gerakan bagian cair inti bumi ini mengakibatkan berbagai perubahan bentuk muka bumi. Di bagian barat Indonesia, ada daerah pertemuan dua helai kertas (lempeng tektonik) yaitu Lempeng Indo-Australia dan lempeng Australia di kala Eosen. Kedua lempeng ini bergerak memusat dan bertubrukan dan menciptakan zona gempa yang memanjang dari Aceh hingga ke Lampung. Lebih ke utara, tumbukan ini menciptakan pegunungan Himalaya. Selama jutaan tahun, pegunungan ini terus menaik akibat saling dorong kedua lempeng.  Lempeng Indo-Australia memaksa masuk ke lempeng Australia, dan lempeng Australia memaksa masuk ke lempeng Indo-Australia. Pegunungan Himalaya menanjak semakin tinggi dan tinggi karena bantuan Quartz di bagian paling bawah pegunungan.

Ilustrasinya begini. Anda tahu speed boat kalau lewat di sungai. Ia menciptakan gelombang ke kiri dan kanan yang semakin melancip ke depan speed boat. Gimana kalau ada balok hanyut melintang di sedikit depan speed boat? Karena gelombangnya, kayu tersebut akan berotasi mengikuti dorongan ombak. Dari posisi melintang (jam 9) mulai naik menuju jam 10, lalu jam 11. Bila balok tersebut panjang dan sedikit lemah di tengahnya, maka bagian yang berotasi naik adalah bagian terdekat dengan ombak. Ia akan patah di lokasi lemah. Balok yang berotasi itu adalah Sumatera, daerah lemah adalah selat sunda,  balok yang diam itu adalah Jawa, speed boat adalah lempeng Indo-Australia dan ujung speedboat adalah pegunungan Himalaya. Itu mengapa Sumatera seperti jarum jam yang menunjuk angka 11.

Jadi peran Pelabuhan Ratu adalah seperti engsel. Daerah ini merupakan daerah kuat yang membatasi daerah lemah di baratnya. Dalam beberapa juta tahun ke depan, bila Himalaya terus meninggi, maka daerah barat pelabuhan ratu seperti Banten akan ikut membengkok ke atas, seperti halnya Sumatera.

Para ilmuan sudah membuktikan ini. Tim peneliti dari Indonesia dan Perancis tahun 1995 telah menemukan perbedaan pola subduksi di Sumatera dan Jawa. Di Sumatera, pola subduksi itu berbentuk selusup besar miring, sementara di barat daya Jawa, pola ini tegak lurus. Di Sumatera, gerakan telusup tetap intens dan aktif hingga kini, terbukti dengan terjadinya sejumlah bencana gempa dan tsunami. Sementara itu, ke arah timur, zona subduksi terlihat normal dan biasa saja. Menurut para ilmuan dari PPPTMGB Lemigas, Total Indonesia, Géotectonique, dan GEMCO ini, transisi struktur di selatan Teluk Pelabuhan Ratu merupakan perbatasan antara zona rotasi Sumatera dan ketegaran Jawa. Struktur ini juga lah yang bertanggung jawab atas keunikan karakteristik ombak di pantai Pelabuhan Ratu.

Menurut tim peneliti dari Lembaga Geologi Kelautan Bandung dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources Jerman, terdapat endapan turbidite sebagai saksi evolusi geologi ini. Keunikan Pelabuhan Ratu juga ditambah oleh siklus tarik ulur (transgresif-regresif) dari kedua lempeng ini. Jadi bahkan di daerah batuan dasar laut pun, gerakan seperti ombak terjadi. Ia mengakibatkan besarnya ombak di beberapa titik di Pelabuhan Ratu sementara di titik lain, ombaknya biasa saja.

Menurut para peneliti dari BPPT dan Bundesanstalt für Geowissenschaften und Rohstoffe, Jerman, peristiwa penarikan Jawa ke arah Himalaya (yang sudah dialami dengan parah oleh Sumatera) sudah berhenti sekarang. Hal ini disebabkan adanya beban akresi baru. Ada dua beban akresi yang dialami Sumatera-Jawa semenjak peristiwa Himalaya: pertama terjadi pada zaman Paloegen dan kedua pada zaman Neogen. Beban akresi pertama itulah yang membuat Sumatera membentuk gerak rotasi, beban akresi kedua menghentikan penjalaran lebih ke Jawa, pusatnya, ya di Pelabuhan Ratu.

Kesimpulan

Dengan pengetahuan ini, teman-teman yang berkunjung ke Pelabuhan Ratu tidak perlu lagi bicara tentang mitos gak ilmiah tentang aneka roh. Teman-teman cukup futu-futu dengan latar gunung atau ombak, kemudian bercerita tentang kedahsyatan gaya geologis yang tersimpan di Pelabuhan Ratu.  Itu ilmiah dan membawa pada teori yang lebih indah lagi, bagaimana Pelabuhan Ratu merupakan bagian penting dalam interaksi besar lempeng-lempeng benua di planet Bumi ini.

Referensi

1.      Malod, J.A., Karta, K., Beslier, M.O., Zen, M.T.Jr. From normal to oblique subduction: Tectonic relationships between Java and Sumatra. Journal of Southeast Asian Earth Sciences, Volume 12, Issues 1-2, July-August 1995, Pages 85-93

2.      Schlüter, H. U., C. Gaedicke, H. A. Roeser, B. Schreckenberger, H. Meyer, C. Reichert, Y. Djajadihardja, and A. Prexl (2002), Tectonic features of the southern Sumatra-western Java forearc of Indonesia, Tectonics, 21(5), 1047, doi:10.1029/2001TC901048.

3.      Susilohadi, S., Gaedicke, C., Ehrhardt, A. Neogene structures and sedimentation history along the Sunda forearc basins off southwest Sumatra and southwest Java. Marine Geology, Volume 219, Issues 2-3, 30 August 2005, Pages 133-154

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.