Diposting Jumat, 18 Maret 2011 jam 1:07 pm oleh Evy Siscawati

Reward lebih baik daripada Hukuman dalam membangun Kerjasama Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 18 Maret 2011 -


Studi tersebut, yang menemukan kalau reward membangun kerjasama dan keterikatan dengan kokoh, dapat membantu mengembangkan solusi atas masalah-masalah cadas yang memerlukan kerjasama sejumlah besar orang untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. Ia dilakukan menggunakan game pelayanan publik berbasis komputer, sebuah eksperimen klasik untuk mengukur kerjasama kolektif dalam setting laboratorium. Studi ini berkontradiksi dengan penelitian sebelumnya, yang menyatakan kalau hukuman teman merupakan satu-satunya mekanisme efektif untuk meningkatkan kerjasama publik.

Penulis utama, David G. Rand, seorang peneliti pascadoktoral di Program Dinamika Evolusioner Harvard, mengatakan karya ini berimplikasi jauh melebihi perilaku subjek dalam permainan komputer.

“Kita semua terlibat dalam permainan pelayanan publik, baik dalam skala besar maupun kecil,” kata Rand. “Perubahan iklim adalah permainan pelayanan publik besar: Bila tiap orang melakukan bagiannya untuk melestarikan energi dan mengurangi emisi CO2, ia memberi manfaat pada kita semua. Pada level yang lebih lokal, permainan pelayanan publik termasuklah relawan di dewan sekolah, membantu merawat fasilitas umum di daerah sekitar, atau bersih-bersih setelah bekerja di kantor.”

“Dalam domain tipe ini, dimana masyarakat berinteraksi berulang-ulang satu sama lain untuk memecahkan dilema sosial kelompok, penelitian kami menyarankan kalau reward memberikan hasil yang lebih baik daripada hukuman,” kata Rand. “Reward dapat merubah perilaku individu dan mendukung kerjasama tanpa konsekuensi negatif destruktif yang muncul karena hukuman.”

Rand dan koleganya, dipimpin oleh Martin A. Nowak dari program dinamika evolusioner Harvard, memeriksa kerjasama antara 192 partisipan dalam game pelayanan publik menjelajah tensi dasar antara minat individual dan kelompok.

Lebih dari 50 ronde interaksi, masing-masing untuk empat partisipan dalam kelompok akan memutuskan berapa banyak harus menyumbang pada kegiatan bersama yang akan menguntungkan keempatnya sama besar. Tiap partisipan kemudian mampu memberikan reward atau hukuman kepada masing-masing dari tiga subjek lainnya atas kontribusi mereka dalam kelompok, atau ketiadaan kontribusinya.

Seperti di dunia nyata, kata Rand, subjek penelitian cenderung menjadi oportunis yang gagal memberi sumbangan pada kelompoknya namun memperoleh manfaat dari keanggotaannya.

“Namun walaupun marah pada para oportunis, memberikan reward pada perilaku baik sama efektifnya dengan menghukum perilaku buruk untuk mempertahankan kerjasama publik dan membawa pada hasil yang lebih baik untuk kelompok,” kata Rand. “Saat kedua pilihan tersedia, reward membawa pada kontribusi yang bertambah dan keimpasan (payoff) untuk kelompok, sementara hukuman tidak berpengaruh pada kontribusi dan membawa pada rendahnya keimpasan kelompok.”

Penelitian sebelumnya telah menyarankan kalau hukuman dapat mendorong kerjasama dalam interaksi dua kali anonim dimana individual tidak perlu khawatir mengenai reputasi atau retaliasi – sebuah skenario yang dinilai Rand, Nowak dan koleganya sebagai tidak realistik, karena sebagian besar interaksi kehidupan nyata kita berulang, dengan reputasi kita selalu dipertaruhkan.

“Kadang diargumenkan kalau lebih mudah menghukum orang ketimbang memberinya reward,” tulis para peneliti. “Kami pikir bukan seperti ini kasusnya. Kehidupan penuh dengan … situasi dimana kita dapat membantu orang lain. Interaksi produktif seperti ini adalah balok bangunan masyarakat kita dan tidak boleh diabaikan.”

Rekan penulis lain Rand dan Nowak adalah Anna Dreber dan Tore Ellingsen dari Sekolah Ekonomi Stockholm, dan Drew Fudenberg dari jurusan Ekonomi Harvard. Karya mereka didukung oleh Yayasan Jan Wallander dan Tom Hedelius, Yayasan Torsten dan Ragnar Söderberg, Yayasan John Templeton, Yayasan Sains Nasional dan Lembaga Kesehatan Nasional.

Sumber berita:

Harvard University.

Referensi jurnal :

Rand, D.G., Dreber, A., Ellingsen, T., Fudenberg, D., Nowak, M.A. Positive Interactions Promote Public Cooperation. Science, 2009; DOI: 10.1126/science.1177418

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.