Diposting Jumat, 18 Maret 2011 jam 12:36 pm oleh Evy Siscawati

Peristiwa Pemanasan Global Mendadak ternyata sering Terjadi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 18 Maret 2011 -


Richard Norris, profesor geologi Scripps yang juga menulis laporannya, mengatakan kalau pelepasan karbon dioksida yang terekam di samudera dalam paling mungkin memicu peristiwa hipertermal purba ini. Sebagian besar peristiwa meningkatkan suhu global antara 2 derajat hingga 3 derajat Celsius, jumlah yang sebanding dengan perkiraan konservatif masa kini mengenai seberapa banyak suhu diduga akan naik dalam dekade-dekade mendatang sebagai akibat pemanasan global antropogenik. Sebagian besar hipertermal berlangsung selama 40 ribu tahun sebelum suhu kembali normal.

Studi ini dilaporkan pada jurnal Nature edisi 17 maret.

“Hipertermal ini tampaknya bukan peristiwa langka,” kata Norris, “karenanya ada banyak contoh purba mengenai pemanasan global pada skala luas seperti pemanasan masa depan yang diduga. Kita dapat menggunakan peristiwa ini untuk memeriksa pengaruh perubahan global pada ekosistem laut, sirkulasi iklim dan samudera.”

Hipertermal terjadi sekitar tiap 400 ribu tahun selama periode hangat dalam sejarah bumi yang terjadi 50 juta tahun lalu. Yang terkuat bertepatan dengan peristiwa yang disebut Maksimum Termal Paleosen-Eosen, transisi antara dua epoch geologis dimana suhu global naik antara 4 derajat hingga 7 derajat Celsius dan memerlukan waktu 200 ribu tahun untuk kembali normal. Peristiwa ini berhenti terjadi sekitar 40 juta tahun lalu, saat planet Bumi memasuki fase pendinginan. Tidak ada peristiwa pemanasan sebesar hipertermal ini terdeteksi dalam catatan geologis sejak itu.

Phil Sexton, mantan mahasiswa Norris yang sekarang di Universitas Terbuka di Inggris, memimpin analisa inti endapan yang dikumpulkan di pesisir Amerika Selatan. Dalam inti ini, bukti periode hangat terujud dalam pita endapan abu-abu yang berlapis dalam lumpur hijau pucat. Endapan abu-abu ini mengandung jumlah tanah liat yang menumpuk setelah cangkang kapur organisme mikroskopis melarut ke lantai lautan. Interval kaya tanah liat ini konsisten dengan episode pengasaman samudera yang dipicu oleh pelepasan karbon dioksida berskala besar. Influks karbon dioksida besar merubah kimia air laut dengan memproduksi asam karbonik dalam jumlah besar di samudera.

Para peneliti menyimpulkan kalau pelepasan karbon dioksida dari samudera dalam lebih mungkin menyebabkan hipertermal daripada peristiwa pemicu lainnya yang dihipotesiskan. Keberaturan hipertermal dan suhu samudera yang relatif hangat dari periodenya membuatnya kemungkinan kecil disebabkan oleh peristiwa seperti pencairan metana hidrat besar-besaran, pembakaran gambut daratan atau bahkan tumbukan komet. Hipertermal dapat tergerak dengan penumpukan karbon dioksida di samudera dalam yang disebabkan oleh perlambatan atau penghentian sirkulasi di lembah samudera yang mencegah lepasnya karbon dioksida.

Noris mencatat kalau hipertermal ini memberikan perspektif historis pada apa yang akan dialami Bumi bila pemanasan global terus terjadi akibat penggunaan bahan bakar fosil, yang telah meningkatkan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer hampir 50 persen sejak awal Revolusi Industri. Hipertermal dapat membantu para ilmuan menghasilkan sejumlah perkiraan seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sepenuhnya kembali ke normal yang tergantung pada seberapa banyak aktivitas pemanasan yang disebabkan manusia.

“Dalam 100 hingga 300 tahun, kita dapat menghasilkan sebuah peristiwa di Bumi yang perlu puluhan ribu tahun untuk diperbaiki, dilihat dari rekaman geologis,” katanya.

Para ilmuan berharap lebih memahami seberapa cepat kondisi yang memadamkan perkembangan hipertermal. Norris mengatakan kalau endapan berusia 50 juta tahun di Laut Utara cukup berlapis-lapis sehingga ilmuan dapat membedakan perubahan dari dekade ke dekade atau bahkan dari tahun ke tahun.

Peneliti lain makalah ini termasuk para ilmuan dari Pusat Oseanografi Nasional dari Southampton di Universitas Southampton Inggris dan Pusat Ilmu Lingkungan Laut, Universitas Bremen, Jerman.

Sumber berita :

Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego.

Referensi jurnal:

Sexton, P.F., Norris, R.D., Wilson, P.A., Palike, H., Westerhold, T., Rohl, U., Bolton, C.T., Gibbs, S. Eocene global warming events driven by ventilation of oceanic dissolved organic carbon. Nature, 2011; 471 (7338): 349 DOI: 10.1038/nature09826

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.