Diposting Jumat, 18 Maret 2011 jam 12:14 pm oleh Evy Siscawati

Manusia Purba itu Ada

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 18 Maret 2011 -


Ada ketakutan dan harga diri yang perlu dipertahankan oleh manusia. Begini loh, kita dulu punya banyak orang pinter yang memajukan peradaban dunia. Tapi begitu masa keemasan kita berakhir dan digantikan sains yang didominasi orang barat, kita merasa malu. Pola pikir kita bahwa sains itu dominasi barat membawa pada logika kalau sains itu milik barat. Ya nggak lah. Kita sendiri bilang kalau orang masa lalu kita di zaman keemasan menciptakan sains, seperti Al Kindi, Al Khwarizmi, Jabir ibn Hayyan dan sebagainya.

Rasionalisme bukan muncul di barat, ia muncul di Timur Tengah (Yunani cenderung empirisme, yang berbeda dengan rasionalisme). Orang barat hanya meneruskan karena orang timur tengah masa itu gak terlalu perhatian, sibuknya perang. Belum lagi invasi Mongol. Jadi ya, salah sendiri toh.

Jadi gimana untuk membangkitkan kembali masa keemasan itu. Beberapa orang tampaknya mengambil metode yang aneh, dengan menyanggah teori-teori modern dengan teori asal-asalan. Bukannya menciptakan kebaruan seperti para ilmuan dengan teori-teori baru, mereka mengambil teori lama nan usang dari ribuan tahun lalu. Akibatnya, mitos dibawakan dengan kemasan baru, sains. Muncullah pernyataan “Keberadaan manusia purba, termasuk binatang dinosaurus sudah banyak disangkal oleh para ilmuwan modern” tapi mana sangkalannya? Siapa ilmuan yang menyangkal? Gak ada bukti mah.

Kalau ini bukan fosil dinosaurus, jadi fosil apa nyak? Barongsai mungkin

Saat kita bicara sains, kita bicara fakta ilmiah, bukan bicara teori ilmiah. Aa’ bisa berteori kalau dinosaurus itu bohong, manusia purba itu gak ada, dsb, tapi aa’ harus menunjukkan bukti. Gak bisa kan? Ya emang gak bisa, gak bisa kita membuktikan sesuatu itu gak ada. Yang ada membuktikan sesuatu itu bukan. Kita tidak bisa membuktikan manusia purba tidak ada, tapi kita bisa membuktikan kalau apa yang disebut ilmuan sebagai manusia purba itu sebenarnya bukan manusia purba. Kita tidak bisa membuktikan dinosaurus tidak ada, karena kita tidak bisa memakai mesin waktu ke masa lalu, tapi kita dapat membuktikan kalau bukti keberadaan dinosaurus (entah itu fosil atau apa) yang diakui ilmuan itu bukan dinosaurus.

Ya gitu. Namanya juga fakta ilmiah. Banyak koq di faktailmiah.com bukti keberadaan dinosaurus atau manusia purba, coba aja sanggah satu-satu. Jangan hanya bilang “Banyak ilmuan” tapi satupun gak bisa disebutin. Ya nggak?

Supremasi Rasio

Coba baca kutipan ini : “Semenjak Rene Descartes (m. 1650) menyampaikan prinsip cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) maka rasio menjadi satu-satunya pengetahuan dan satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Rasio menjadi pokok pengetahuan dan ia harus terbebas dari mitos-mitos keagamaan seperti wahyu, Tuhan, credo, nilai dan lain sebagainya. “

He? Koq gue.

Salah loh. Bukan dari zamannya Descartes rasio itu diutamakan, tapi ya dari zamannya timur tengah. Sebagai contoh, Roger Bacon mengutip Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd sebagai orang yang mendukung pernyataan kalau “untuk mendukung suatu pendapat, adalah keliru mengambilnya dari ajaran nenek moyang kita, dari adat istiadat kita, atau dari kepercayaan masyarakat.” (Russel, 2007: 614). Bacon itu sangat mengagumi Ibnu Sina loh atas pendiriannya mengenai rasionalisme. Ia bahkan menyebut Ibnu Sina sebagai “raja dan pemimpin filsafat”.

Para pemikir besar masa keemasan di Timur Tengah yang sekarang dirindukan sebagian orang Indonesia, dulunya itu dicurigai oleh masyarakatnya. Mereka berhasil berkembang dan memberi kemajuan di dunia astronomi, zoologi dan fisiologi serta lainnya berkat perlindungan para sultan yang liberal (Ibid, hal 563). Nah, pola pikir protes orang yang tidak percaya manusia purba atau dinosaurus itu ada sama dengan masyarakat zaman itu. Mereka curigaan ama rasionalisme. Jadi ya sama saja, gak ada kemajuan juga. Bukannya situ lebih hebat tapi situ malah mengulang apa yang dulunya memperburuk kondisi para pemikir Timur Tengah, seperti Omar Khayyam dan Muhammad ibnu Musa al Khwarizmi. Bahkan pernah kejadian semua buku yang berisi tentang logika dan metafisika dibakar oleh khalifah Al Mansyur. Sang khalifah berkata : Tuhan akan memasukkan ke dalam neraka kepada mereka yang berpendapat kebenaran bisa dicapai dengan akal semata (Ibid, 565). Apakah aa’ mau membakar buku logika?

Teori Evolusi

Tentang teori evolusi aa’ gak bisa memungkiri kalau banyak leluhur teori evolusi itu, terlepas dari benar tidaknya teori tersebut, berasal dari timur tengah juga. Mau contoh?

Timur Tengah

Al Jahiz (781-869) adalah tokoh Timur Tengah pertama yang membawa teori evolusi. Ia bicara tentang teori berjuang untuk bertahan hidup dan rantai makanan. Dia pelopor determinisme lingkungan. Al Mashudi dengan kitabnya Al Tanbih wal Ishraq juga merumuskan teori evolusi. Ibnu Masikawaih dalam bukunya The Epistles of Ikhwan Al Safa, juga mengkaji evolusi. Ibnu Masikawaih bahkan menunjukkan bagaimana evolusi spesies dari sapa, menjadi air, lalu mineral, tanaman, hewan dan seterusnya. Nyaris sama dengan teori evolusi yang dirumuskan Charles Darwin.

Seandainya para ilmuan Timur Tengah ini tetap memiliki siswa dan masa peradaban Timur Tengah terus berlanjut hingga sekarang, saya kurang yakin kalau Teori Evolusi dipertanyakan oleh aa’.

Selain karena teori evolusi sekarang banyak dibawakan oleh orang barat,  sebenernya mengapa orang menolak teori evolusi itu hanya masalah manusia. Hanya manusia. Aa’ gak mau dikatain berasal dari leluhur monyet, aa’ lebih suka berasal dari tanah. Ya kan? Kalau saja teori evolusi mengecualikan manusia, dengan menemukan kalau manusia itu ternyata bukan hasil evolusi, aa’ mungkin gak bakal menolak teori evolusi yang juga terjadi pada ular, kambing, sapi dsb. Bagian manusianya itu loh.

Para ahli biologi yang rasional sebenernya juga malu2 kucing. Kalau bisa, manusia itu dilainkan sendirian. Tapi ya nggak bisa. Kalau kamu mau melainkan manusia sendiri, kamu harus punya bukti. Di sisi lain, kita punya bukti kalau manusia emang bagian dari evolusi. Saudara mau menunjukkan contoh manusia Piltdown sebagai kebohongan, gimana dengan sekian ratus ribu fosil lainnya? Aa’ harus menyangkalnya satu demi satu. Kalau gara-gara satu fosil dipalsukan lalu sekian ratus ribu lainnya juga palsu, itu mah gak logis. Sama kayak saudara nyari hape. Saudara dibilangin kalau satu hape ternyata palsu (hape maenan) lalu saudara bilang hape itu gak ada. Ooo gak bissaaa (gaya Sule).

Manusia Purba

Istilah purba itu sebenarnya relatif. Saudara mau bilang manusia yang hidup 2 juta tahun lalu itu purba bisa, dan manusia yang hidup sekarang, seperti saya dan aa’, adalah manusia purba juga bisa. Karena evolusi memisahkan antara dua spesies di masa lalu. Aa’ mungkin menertawakan rekonstruksi manusia purba masa lalu yang mirip monyet dan aa’ bilang itu tidak mungkin ada, tanpa peduli dengan bukti fosil, genetik segala macem. Sekarang saya nunjukin kalau aa’ dan saya sebenarnya purba.

Pertama definisi purba itu apa sih? Ada dua setahu saya: purba dalam artian lebih tua. Jadi kakek kita manusia purba dan kita manusia modern. Atau purba dalam artian kesempurnaan. Kakek kita lebih gaptek, jadi kakek itu purba (teman gue bilang orang gak tau hape katanya hidup di zaman batu). Yang lebih bagus, kita ambil aja dua-duanya, manusia purba itu manusia yang lebih tua dan lebih tidak sempurna. Saudara melihat manusia seperti monyet, saudara bilang itu manusia purba. Kita lebih sempurna dari monyet, jadi yang mirip monyet berarti manusia purba. Setuju?

Kedua, kita sepakat kalau seribu tahun lagi ada manusia. Ini sepertinya spekulasi, tapi sama spekulasinya dengan mengatakan kalau seribu tahun lalu ada manusia. Saudara menolak bukti fosil, berarti saya juga tidak perlu memberi bukti kalau seribu tahun lagi ada manusia. Pokoknya ada. Dengan adanya manusia 1000 tahun lagi, manusia sekarang bisa dibilang purba.

Terakhir, inilah bukti kepurbaan aa’? Aa’ tidak bisa berkomunikasi jarak jauh tanpa memakai hape. Aa’ tidak bisa online hanya dengan pikiran. Aa’ tetap perlu rumah sakit. Aa’ waktu berbentuk janin masih punya ekor, insang dan selimut mirip bulu kera yang kemudian tanggal ketika kita lahir. Laki-laki punya saluran kencing yang tersambung dengan kelenjar prostat yang bisa kusut seiring bertambahnya usia sehingga menimbulkan penyakit. Tulang pinggul wanita begitu sempitnya sehingga melahirkan kadang merupakan pertaruhan hidup dan mati. Saluran  pernapasan kita berdempet dengan saluran makan, sehingga ada yang namanya tersedak. Sekarang bayangkan manusia seribu tahun lagi. Rekayasa genetika mungkin telah mampu memperbaiki desain buruk yang purba ini. Kita bisa online dengan pikiran, ngobrol Bandung – Makassar lewat telepati, saluran kencing dan kelenjar prostat berada di jalur yang lebih rapi, tulang pinggul elastis atau lebih lebar sehingga melahirkan semudah buang air, kerongkongan jauh dari tenggorokan. Aa’ bisa bilang ini mustahil, tapi tanyakan pada hewan-hewan yang bersinar, operasi plastik dan aneka jenis kemajuan di bidang teknologi rekayasa genetik. Oh jangan lupa keberadaan puskesmas dan rumah sakit. Itu bukti kita manusia purba, kalau nggak, ngapain juga kita masih kena penyakit, desainnya buruk itu.

Kesimpulan

Apakah Aa’ mau mengatakan bahwa semua itu ada hikmahnya. Ya begitu juga kalau Aa’ mau menerima teori evolusi. Aa’ juga bisa memikirkan hikmahnya untuk “keimanan” seperti yang dilakukan Arif Kurniawan dkk yang gak bermasalah dengan teori evolusi. Hikmah itu relatif dan subjektif. Mau menafsirkan teori evolusi itu jahat atau baik ya terserah aa’. Lepas dari fakta, pendapat dapat bebas berayun kesana sini seperti kain di tali jemuran. Sama seperti pisau lah. Aa’ bisa buat motong sayur bisa juga buat nodongin orang. Kalau mau menyalahkan tukang buat pisau karena ada orang mati ditusuk pisau, ya gak adil dong. Tukang buat pisau mah pengennya baik, sama seperti sains, sifatnya netral tapi tujuannya baik.

Sebagai penutup, kalau kepengen bukti evolusi, cara menyanggah teori evolusi, bukti manusia purba (masa lalu) itu ada dan sebagainya, aa’ bisa mengikuti perkembangan di sini lah, faktailmiah.com bagian biologi. Banyak mah. Mau di jelaskan satu-satu juga bakal tambah panjang nih artikel. Tiap hari juga ada aja perkembangan terbaru, jadi susah mau di detail satu demi satu biar aa’ puas.

Referensi

  1. Firdaus, R. 16 Maret 2011. Manusia Purba, Adakah?
  2. Harris, S.2007. Letter to a Christian Nation. Diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir, 2008 dengan judul Surat Terbuka untuk Bangsa Kristen. Tangerang: Pustaka Alvabet
  3. Kurniawan, A. dkk. 2008. Biology Insight: Mengkaji Kehidupan, Memupuk Keimanan. Sidoarjo: Hamudha Prima Media
  4. Russel, B. 1946. History of Western Philosophy and its Connection with Political and social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day. Diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko dkk, 2007 dengan judul Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  5. www.gaulislam.com. Kenangan Terindah : Sains Islam, Sains Termaju di Dunia
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.