Diposting Kamis, 17 Maret 2011 jam 1:30 pm oleh Evy Siscawati

Para Bilingual melihat Dunia secara Berbeda

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 17 Maret 2011 -


Dan anda tidak perlu fasih berbahasa untuk merasakan efeknya – penelitiannya menunjukkan kalau penggunaan bahasa, bukan kefasihan, yang membuat perbedaan.

Bekerja dengan pembicara Jepang dan Inggris, ia melihat pada penggunaan dan kefasihan bahasa mereka, bersama dengan panjang waktu mereka di negara dan mencocokkannya melawan bagaimana mereka mempersepsi warna biru.

Persepsi warna adalah cara ideal untk menguji konsep bilingual karena ada variasi besar antara berbagai bahasa dalam meletakkan batasan pada spektrum warna.

Di Jepang, sebagai contoh, ada istilah dasar tambahan untuk istilah biru muda (mizuiro) dan biru gelap (ao) yang tidak ditemukan dalam bahasa Inggris.

Penelitian sebelumnya menunjukkan kalau orang cenderung menilai dua warna itu sama bila kategori linguistiknya sama.

“Kami menemukan kalau orang yang hanya bicara bahasa Jepang lebih mampu membedakan antara warna biru muda dan biru gelap daripada pembicara Inggris,” kata Dr Athanasopoulos, yang penelitiannya diterbitkan dalam edisi terbaru Bilingualism: Language and Cognition. “Derajat bilingual Jepang-Inggris mewakili norma tergantung pada bahasa mana yang paling sering digunakan.”

Sebagian besar orang cenderung berfokus pada bagaimana melakukan sesuatu seperti memesan makanan atau menggunakan transportasi umum saat mereka belajar bahasa lain agar mereka dapat masuk, namun penelitian ini menunjukkan kalau ada hubungan yang jauh lebih dalam yang terjadi.

“Sebaik belajar kosakata dan tata bahasa, anda juga secara tidak sadar belajar cara baru melihat dunia,” kata Dr Athanasopoulos. “Ada hubungan rumit antara bahasa, budaya dan kognisi.”

Ia menambahkan kalau belajar bahasa kedua memberi dunia bisnis pandangan baru mengenai bagaimana orang bertransaksi, menyarankan kalau hubungan antar negara Uni Eropa harus diperbaiki secara dramatis bila kita semua mengambil waktu untuk mempelajari bahasa satu sama lain daripada semata bertopang pada bahasa Inggris sebagai lingua-franca.

“Bila orang perlu dimotivasi untuk belajar bahasa baru, mereka harus mempertimbangkan faktor internasional,” katanya. “Manfaat yang anda peroleh bukan hanya mampu memakai bahasa mereka – ia juga memberi pandangan berharga pada kebudayaan mereka dan bagaimana mereka berpikir, yang memberi anda keuntungan bisnis khusus.

“Ia juga dapat memungkinkan anda memahami bahasa anda sendiri secara lebih baik dan memberi anda kesempatan merefleksikan kebudayaan anda sendiri, tambah Dr Athanasopoulos, yang bisa berbahasa Yunani dan Inggris.

Sumber berita:

Newcastle University.

Referensi Jurnal ilmiah:

Athanasopoulos, P., Damjanovic, L., Krajciova, A., Sasaki, M. 2010. Representation of Color Concepts in Bilingual Cognition: The Case of Japanese Blues. Bilingualism: Language and Cognition, 2010; 14 (01): 9 DOI: 10.1017/s1366728909990046

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.