Diposting Rabu, 16 Maret 2011 jam 12:45 pm oleh Evy Siscawati

Sel HeLa: Mahluk Hidup Baru dari sel Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 16 Maret 2011 -


Segera setelah diambil, sel-sel Henrietta Lacks berpindah dari satu lab ke lab lainnya, baik dikirim secara khusus – banyak peneliti kanker memakainya dalam eksperimen – atau sebagai pencemar tak terlihat dalam paket sel-sel biasa. Beberapa peneliti yang merasa aneh melihat hal berbeda – sebuah garis dalam sel hati misalnya – pada gilirannya kebetulan mempelajari sel rahim Henrietta Lacks. Sel-sel ini bahkan terselip menembus tirai besi dan masuk ke Rusia.

Sel yang diambil dari Henrietta Lacks kemudian disebut sel HeLa. Sel HeLa digunakan oleh Jonas Salk untuk menguji vaksin polio pertama tahun 1950an. Sejak saat itu, sel-sel ini telah membantu pengembangan berbagai cara untuk merawat polio, herpes, leukemia, influenza, hemofilia dan penyakit Parkinson. Selnya juga membantu mengungkapkan rahasia kanker, kloning, pemetaan genetik dan efek radiasi pada jaringan manusia. Menurut Rebecca Skloot, pada tahun 2009, “lebih dari 60 ribu karya ilmiah telah diterbitkan mengenai penelitian yang dilakukan pada HeLa, dan jumlah tersebut terus meningkat lebih dari 300 makalah per bulan.”

Keunikan sel HeLa adalah keabadian yang dimilikinya. Ini artinya kalau ia dapat direproduksi tak terhingga banyaknya dengan dapat diternakkan di laboratorium. Sel-sel tumor ini bersifat seperti gulma yang dapat menyebar dan mencemari sel lainnya bila tidak ditangani dengan baik.

Henrietta Lacks

Proses evolusi kurang lebih sama untuk HeLa seperti pada manusia, walau sel biasanya bereproduksi secara aseksual, yaitu dengan pembelahan sel. Saat sel membelah, mutasi genetik tak dapat dihindari akan terjadi, dan mutasi yang menjadikan sel lebih mampu beradaptasi dengan niche ekologisnya – piring petri – dilestarikan oleh seleksi alam. Saat sel-sel Henrietta Lacks awalnya bersifat kanker, mereka juga memiliki kemampuan bertahan hidup tak terbatas dalam medium kultur; transformasi genetik masif membuat mereka berbeda sekali dengan sel manusia biasa, dan setelah empat dekade evolusi mereka lebih berbeda lagi. Berbagai varian sel HeLa, analog dengan berbagai ras pada manusia, bahkan telah berkembang di beberapa jalur yang terpisah secara geografi.

Asal usul sel HeLa adalah transfer gen horisontal dari human papilomavirus 18 (HPV 18) ke sel leher rahim manusia. Jumlah kromosom pada sel HeLa berbeda dari sel manusia. Sel HeLa memiliki kromosom modal sebanyak 82 dimana empat diantaranya adalah salinan kromosom 12 dan 9 merupakan salinan kromosom 6, 8 dan 17 (masing-masing tiga).

Sekarang HeLa terus berkembang. Ia terus berevolusi. Sebagian ilmuan bahkan sudah menyatakan kalau HeLa adalah sebuah spesies unik yang nyata – ia makan dan bereproduksi secara mandiri seperti spesies bersel satu lainnya, padahal asalnya adalah keturunan mutan dari sel seorang wanita yang telah wafat 60 tahun lalu.

Sel HeLa yang diwarnai

Nama ilmiah untuk HeLa sebagai sebuah spesies adalah Helacyton gartleri. Ia dinamakan oleh ilmuan Van Valen, namun ia masih kebingungan memilih dimana lokasi HeLa harus dimasukkan dalam taksonomi. HeLa berasal dari manusia, jadi ia mungkin dapat dipandang primata. Namun ia tidak dapat bertahan hidup diluar medium kultur, sehingga tidak dapat digolongkan primata. HeLa bersel satu, mungkin ia bisa digolongkan protista, seperti halnya bakteri, protozoa, ganggang dan jamur. Sayangnya, ini tidak mungkin karena berarti HeLa berevolusi dua kali. Pertama sebelum 3.5 miliar tahun lalu dan sekarang, berulang kembali dari titik awal. Secara prinsip, hal ini tidak dapat diterima oleh teori evolusi yang mendasari taksonomi. Evolusi tidak boleh berulang dua kali, jika memang terjadi, spesies yang berevolusi harus memiliki takson baru.

Referensi

  1. Gold, Michael. A Conspiracy of Cells: One Woman’s Immortal Legacy and the Medical Scandal It Caused.
  2. Oliwenstein, Lori (1992). No Longer Human. Discover Magazine.
  3. Skloot, Rebecca (2010). The Immortal Life of Henrietta Lacks. New York: Crown/Random House.
  4. Smith, Van (2002). “The Life, Death, and Life After Death of Henrietta Lacks, Unwitting Heroine of Modern Medical Science.”. Baltimore City Paper.
  5. Van Valen LM, Maiorana VC (1991). “HeLa, a new microbial species”. Evolutionary Theory & Review 10: 71–4.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.