Diposting Rabu, 9 Maret 2011 jam 8:48 pm oleh Evy Siscawati

Ilmuan Berhasil Membuat Tikus yang dapat Bernyanyi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 9 Maret 2011 -


Jika terjadi secara alami, memang demikianlah mutasi adanya. Akibatnya perlu jutaan tahun untuk mutasi berhasil membangun evolusinya, sementara para monster hasil mutasi buruk tenggelam terlupakan. Tidak demikian bila mutasi tersebut dibuat oleh manusia, apa yang disebut evolusi buatan.

Para ilmuan Jepang, mengatakan pada tanggal 20 Desember 2010, bahwa mereka telah menghasilkan seekor tikus yang berkicau seperti burung lewat “evolusi” yang direkayasa secara genetik. Mereka berharap hal ini akan memberi petunjuk pada asal usul bahasa manusia.

Walaupun mutasi bernyanyi bersifat acak, tampak kalau sang tikus memang benar-benar mengekspresikan dirinya sendiri. Tikus jantan bernyanyi lebih sering di sekitar tikus betina, mungkin untuk menariknya sebagai pasangan. Sang tikus juga menyanyi lebih sering saat mereka diletakkan di lingkungan yang berbeda.

“Mutasi adalah pengendali evolusi. Kami telah menyilangkan tikus yang telah dimodifikasi secara genetik selama bergenerasi untuk melihat apa yang akan terjadi,” kata kepala peneliti, Arikuni Uchimura kepada AFP.

“Kami memeriksa tikus yang baru lahir satu demi satu … Suatu hari kami menemukan seekor tikus yang bernyanyi seperi burung,” kata beliau, menunjukkan kalau “tikus bernyanyi” lahir karena kebetulan namun sifat tersebut akan diwariskan pada generasi selanjutnya.

Laboratorium yang diarahkan oleh profesor Takeshi Yagi di Sekolah Pascasarjana Biosains Perbatasan Universitas Osaka di Jepang Barat sekarang telah memiliki lebih dari 100 “tikus bernyanyi” untuk penelitian lebih jauh.

Tim ini berharap mereka akan memberi petunjuk bagaimana bahasa manusia berevolusi, sama halnya dengan para ilmuan dari negara lain yang mempelajari burung penyanyi seperti finches untuk membantu mereka memahami asal usul bahasa manusia.

“Tikus lebih baik daripada burung untuk dipelajari karena mereka mamalia dan jauh lebih dekat dalam struktur otak dan aspek biologis lainnya dengan manusia,” kata Uchimura.

Dengan mempertimbangkan kalau tikus mutan berkicau lebih nyaring saat diletakkan dalam lingkungan berbeda atau saat jantan diletakkan bersama betina, Uchimura mengatakan kalau kicauan mereka “mungkin semacam ekspresi emosi atau kondisi tubuh mereka.”

Uchimura memimpikan evolusi lebih jauh tikus lewat rekayasa genetika: “Saya tahu kalau proyek ini jangka panjang dan orang akan mengatakannya ‘terlalu absurd’ … namun saya melakukan ini dengan harapan membuat Mickey Mouse suatu hari nanti.”

Referensi

Miwa Suzuki. Japan bio-scientists produce ‘singing mouse’ Physorg.com

video

http://www.youtube.com/watch?v=yLu37VvCozw

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.